Oleh Maira
Eka Sari
Banyak
hal yang dapat dituturkan saat bercerita, bisa tentang sebuah harapan yang
tidak juga terwujud, mungkin juga tentang peristiwa yang istimewa, bahkan tidak
tertutup untuk hal yang sangat mengganggu dalam hidup. Apapun bisa dituturkan
dalam cerita.
Menuangkan
apa yang ada dipikiran dan perasaan dalam bentuk tutur cerita begitu
mengasyikkan. Semacam ada keleluasaan saat kita melakukannya. Contohnya, kita
bisa merubah nama tokoh atau mengganti watak seseorang dalam cerita yang kita
tuturkan. Itu tentulah tidak dilarang dan tidak melanggar norma yang ada di
tengah masyarakat. Tentunya jika kita melanggar norma yang ada, maka masalah
akan muncul.
Saat
cerita selesai dituturkan kadang ada kepuasan tersendiri bagi si penutur. Ada
kelegaan dipikiran juga perasaan. Bahkan tidak jarang juga mengganggu pikiran
dan perasaan si penutur.
Menuturkan cerita kadang tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Untuk seorang penutur cerita harus pintar dan memiliki wawasan yang luas agar ceritanya tidak membosankan jika dinikmati oleh khalayak (publik).
Banyak si tukang tutur cerita bahkan
melakukan eksperimen dulu untuk bahan ceritanya. Karena cerita yang bagus
membutuhkan ketelitian yang jeli serta imajinasi yang tajam. Ketidak-tahuan si
penutur akan mengakibatkan cerita yang dituturkan akan membosankan, mungkin
juga tarasa jelek bahkan, sangat buruk.
Pada dasarnya cerita bukan hanya
sebuah objek yang tak berarti atau bukan juga hanya sebuah objek yang memiliki
fungsi sampingan. Tapi melebihi dari itu. Ada kalanya cerita sebagai sarana
menyampaikan pendidikan, sebagai hiburan, sebagai penyampai kabar dan banyak
lagi.
Bukanlah suatu hal yang buruk
memiliki profesi sebagai seorang pencerita. Banyak hal positif yang ditemukan
oleh sang penutur cerita. Di antaranya, seorang penutur cerita memiliki
informasi yang banyak, cerita yang dituturkan kadang akan menjadi bahan
pelajaran untuk diri sendiri.
Kadang kala cerita dapat
disajikan dalam bentuk tulisan dan ada juga dalam bentuk lisan. Keduanya
memiliki kesamaan yang cukup kentara saat disajikan. Hanya butuh sedikit bumbu
dalam masing-masing penyajian. Untuk menutur cerita dalam sajian lisan, tentu
si penutur harus memiliki ekspresi yang tidak hanya cukup, sementara jika dalam
bentuk tulisan si penulis harus pandai memilah kata-kata dalam menghadirkan
ceritanya ke tangan pembaca.
Begitulah
cerita!
Tubuh Jendela, Maret 2014