Oleh
Maira Eka Sari
Menulis,
menyalurkan pikiran-pikiran/ide-ide kreatif tentang bagaimanakah seseorang
tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca karya itu. Tidak hanya wejangan dan
pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik, agar manusia tergelitik
dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.
Menulis bagi sebagian penlis juga merupakan ibadah. Banyak mereka bicara tentang kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Qur’ani atau pun hukum/norma sosial kemasyarakatan yang ada selama ini.
Menulis bagi sebagian penlis juga merupakan ibadah. Banyak mereka bicara tentang kebenaran nyata yang ada di dunia ini. Baik itu kebenaran yang berdasarkan Qur’ani atau pun hukum/norma sosial kemasyarakatan yang ada selama ini.
Sebuah karya
sudah barang tentu tidak bisa dilepaskan dari pengarangnya. Sebelum karya
sampai kepada pembaca, ia melewati proses yang cukup panjang. Mulai dari
munculnya dorongan
pertama untuk menulis, pengendapan ide (ilham), penggarapannya, sampai akhirnya tercipta sebuah karya yang utuh dan siap di lempar kepada publik. Proses kreatif dapat digambarkan dalam empat tingkatan, yaitu :
pertama untuk menulis, pengendapan ide (ilham), penggarapannya, sampai akhirnya tercipta sebuah karya yang utuh dan siap di lempar kepada publik. Proses kreatif dapat digambarkan dalam empat tingkatan, yaitu :
1. Tingkat persiapan, usaha dibuat untuk
memahami dan mengerti tentang kebutuhan personal. Individu memberikan perhatian
secara mendetail terhadap objek sehingga dipahami secara utuh dalam berbagai
dimensi sudut pandang. Sudut pandang paling tidak meliputi kondisi fisik objek,
kegunaan atau manfaat, serta suasana atau situasi yang terbentuk karena
keberadaan objek. Kebutuhan individu akan terkait dengan ketiga sudut pandang
secara parsial, kombinasi maupun sebagai keutuhan. Contoh pada saat melihat
kursi siswa, individu akan memberikan perhatian dari sisi fisik apakah
bentuknya cukup mewakili sebuah kursi atau tempat untuk duduk dan apakah tidak
ada bagian yang membahayakan. Dari sudut pandang kegunaan atau manfaat apakah
kursi cukup kuat untuk diduduki atau menahan berat badan siswa. Dari sudut
pandang suasana atau situasi yang tercipta apakah posisi kursi tidak
menghalangi siswa atau guru berjalan, mendukung suanasana kelas yang
menyamankan dan apakah cukup pantas untuk menempati bagian dari ruangan.
2.Tingkat inkubasi (pengeraman), yaitu upaya untuk mengembangkan ide dari perhatian yang diberikan untuk menjawab persoalan yang dihadapi individu. Contoh : pada saat sekolah memiliki ruangan dengan ukuran tertentu yang harus menampung sejumlah siswa untuk duduk dan menulis, maka bentuk dan ukuran kursi seperti apa yang harus dibuat atau dibeli sehingga memenuhi tujuan yang diharapkan.
3.Tingkat wawasan, yang membawa individu pada pengertian baru. Artinya terbuka kemungkinan terjadi perubahan bentuk, ukuran dan fungsi dari suatu objek untuk memenuhi beberapa tujuan yang diharapkan. Contoh : ruangan yang ada tidak memungkinkan diisi dengan meja dan kursi karena akan membuat siswa tidak leluasa bergerak. Yang dibutuhkan adalah kursi yang juga berfungsi sebagai meja dan tempat menyimpan barang/ tas, cukup ringan untuk dipindahkan dan dirapihkan dengan cara melipat kursi, mampu menahan beban sebarat 30 – 50 kg dan tinggi 120 – 160 cm, serta cukup memberi ruangan untuk bergerak keluar dan duduk.
4.Tingkat pengesahan/penemuan, yang menyadarkan individu tentang ide kreatif pengesahan atau tingkat implementasi. Upaya mewujudkan ide dalam bentuk nyata. Contoh : untuk memperoleh kursi sesuai kebutuhan pada tingkat wawasan awalnya perlu dibuatkan gambar, mempertimbangkan bahan, mengerjakan, menata dalam ruangan dan memanfaatkan benda baru. (dari berbagai sumber/ Me--2011)
2.Tingkat inkubasi (pengeraman), yaitu upaya untuk mengembangkan ide dari perhatian yang diberikan untuk menjawab persoalan yang dihadapi individu. Contoh : pada saat sekolah memiliki ruangan dengan ukuran tertentu yang harus menampung sejumlah siswa untuk duduk dan menulis, maka bentuk dan ukuran kursi seperti apa yang harus dibuat atau dibeli sehingga memenuhi tujuan yang diharapkan.
3.Tingkat wawasan, yang membawa individu pada pengertian baru. Artinya terbuka kemungkinan terjadi perubahan bentuk, ukuran dan fungsi dari suatu objek untuk memenuhi beberapa tujuan yang diharapkan. Contoh : ruangan yang ada tidak memungkinkan diisi dengan meja dan kursi karena akan membuat siswa tidak leluasa bergerak. Yang dibutuhkan adalah kursi yang juga berfungsi sebagai meja dan tempat menyimpan barang/ tas, cukup ringan untuk dipindahkan dan dirapihkan dengan cara melipat kursi, mampu menahan beban sebarat 30 – 50 kg dan tinggi 120 – 160 cm, serta cukup memberi ruangan untuk bergerak keluar dan duduk.
4.Tingkat pengesahan/penemuan, yang menyadarkan individu tentang ide kreatif pengesahan atau tingkat implementasi. Upaya mewujudkan ide dalam bentuk nyata. Contoh : untuk memperoleh kursi sesuai kebutuhan pada tingkat wawasan awalnya perlu dibuatkan gambar, mempertimbangkan bahan, mengerjakan, menata dalam ruangan dan memanfaatkan benda baru. (dari berbagai sumber/ Me--2011)