Cerita Maira Eka Sari
Aku hanya bisa terdiam
melihat kau pergi dari sisiku,
dari sampingku.
Tinggalkan aku seakan semuanya
yang pernah terjadi tak lagi kau rasa.
LIRIK ini sangat sering mereka nyanyikan saat mereka
berkumpul melepas lelah, sehabis makan, dan juga pagi hari saat mereka belum
melakukan rutinitas mereka di sini. Aku selalu memperhatikan mereka, baik dalam
canda-tawa maupun dalam perselisihan kecil yang sering terjadi di antara
mereka. Tak jarang juga aku memperhatikan gerak tangan-tangan mereka saat
memainkan gitar.
Karena kebersamaan dengan mereka, aku bisa memainkan gitar
dengan sebuah lagu. Ya, lagu ini. Lirik yang sengaja kumainkan saat dia pamit.
Saat itu dia meneteskan air mata dan kemudian memelukku.
Begitu juga dengan mereka yang lain, yang menemani hari-hari kami beberapa hari
belakangan. Tepatnya dua minggu belakangan.
Mereka memelukku. Begitu hangat dan menenangkan. Sama dengan
saat perempenku memelukku. Dulu. Aku menangis tapi tidak pada mataku, melainkan
hatiku.
Mereka tidak lagi tinggal di sini bersama kami. Hari itu
keberangkatan mereka. Meski mereka berjanji akan sering berkunjung.
“Yang hadir akan pergi, dan yang pergi akan kembali.” Begitu
dia berucap dalam serak suara tangisnya saat memeluk tubuhku.
***
AKU ingat betul. Tadi sore dia datang lagi dengan laki-laki
yang mengantarnya pulang pulang tempo
hari. Laki-laki yang sering ke sini, bahkan pernah tidur di sebelahku yang
sedikit kurang kusukai. Mereka kelihatan akrab. Padahal, kurasa mereka saling
kenal saat sama-sama di sini tempo hari.
Saat dia turun dari sepeda motornya –boncengan–, mereka
langsung menyerbu dan berebutan memeluknya. Dia tersenyum. Bibirnya sedikit
kemerahan, karenanya senyumnya terlihat lebih manis. Dibanding saat kuberikan
setangkai bunga yang kuambil di dekat reruntuhan tanah di tepi lereng bukit
saat aku dan ibu menuju ke sini tempo hari, dia kelihatan sedikit lusuh dan
lelah.
Dia memakai baju hijau dan celana jeans yang sedikit ketat.
Berbeda saat datang tempo hari. Tempo
hari dia mengenakan celana gunung dan kaos oblong, tanpa dandanan. Tapi aku
lebih menyukainya. Dia tampak sederhana.
Meskipun begitu, kekagumanku padanya kurasa tidak berkurang.
Rasanya tak ingin aku melewatkan sedetik waktupun untuk memperhatikannya saat
dia berada di sini. Aku tidak pernah berharap dia akan tinggal lebih lama di
sini. Aku juga tidak pernah berharap berada begitu dekat, atau tepatnya selalu
di sisisnya. Aku juga tidak penah berharap dia memperhatikanku. Tidak sama
sekali.
Kedatangannya ke sini saja sudah lebih cukup bagiku. Karena
kutahu, waktunya tak mungkin dihabiskannya berada di dekatku dan yang lain. “Dia
punya kehidupan lain, dan tak ada satupun yang berhak memaksakan dia untuk
berada di yang lain pula.“ Begitu Mas Tulus menjelaskannya padaku sebelum aku
melepasnya pulang diantar laki-laki yang entah kenapa tidak aku sukai.
Aku selalu memperhatikan gerak-geriknya. Belaiannya saat
bercengkrama dengan mereka yang selalu menyerbu dan berebutan memeluk saat dia
datang. Suara dan petikan gitarnya saat menghibur kami. Serta senyumnya yang
membuat aku merasa bahagia.
***
DIA begitu istimewa, di mataku. Dia selalu membuat aku
tesenyum. Tak ada hari yang kulalui dengan duka saat dia hadir di sisiku. Aku
selalu tersenyum dan tersenmyum karena hadirnya yang melengkapi kebahagiaanku. Dialah
perempuanku. Terbungkus dan sederhana.
Sejujurnya, sebelum ia hadir aku sangat kesepian. Semua
sibuk dengan kehidupan masing-masing. Tak ada yang mengabaikanku, kecuali
seorang perempuan yang sudah mulai tua yang selalu merawat dan menjagaku. Hari-hari
yang kulalui selalu murung. Pernah kucoba untuk bergabung main dengan anak-anak
seusiaku di luar rumah. Hasilnya sama. Mereka juga tidak pernah mempedulikan
aku. Aku tak pernah dianggap ada di tengah-tengah mereka. Kalau pun pernah
dianggap, itu pun karena mereka bosan main apa dan mereka menjadikanku mainan.
Mereka memperolok-olokkan aku hingga mereka lelah dan akupun tak berdaya
dibuatnya.
Kerena selalu begitu, aku memutuskan untuk berdiam diri di
dalam rumah. Dan lebih sering di dalam kamar. Kamar yang besar dan selalu
wangi, serta banyak perelatan yang membuat aku meresa sunyi.
Tapi itu semua lenyap setelah ia hadir di sisiku. Kado
terindah yang pernah kudapatkan, dialah. Dia ada saat aku masih berusia enam
tahun. Dia hadir dengan kelucuan yang menemani hari-hariku. Tawanya, tangisnya,
serta diamnya mendamaikan hatiku. Karena itu aku selalu tersenyum dibuatnya.
Hari-hari yang kulalui bersamanya terasa begitu indah.
Bahkan aku tak ingat di bagian mana hari yang kurang atau bahkan tak indah yang
pernah terlalui bersamanya. Semuanya indah dan bermakna.
Kebahagiaan dan senyum itu akhirnya harus lenyap kembali.
Bersama goncangan dahsyat, dia pergi bersama yang lain. Pergi tanpa pamit
ataupun meninggalkan jejak. Dia tertimbun reruntuhan tanah saat hendak balik ke
rumah sore itu. Aku melihat kejadian itu tepat di depan mataku. Inginku membantunya,
tapi seretan laki-laki setengah baya tak aku kenal begitu kuat menyeret tubuhku
menjau dari tempat itu membuat aku tak bisa berbuat apapun.
Empat hari setelah kejadian, orang-orang berusah mencari
mayatnya dan beberapa orang lain yang ikut tertimbun, tapi tak ada hasil. Tak
satupun yang ditemukan. “Oh, perempuanku. Getir dan pilu hatiku melepas
pergimu.” Batinku menangis.
***
DAN sekarang, tanpa aku sadari kedatangannya serasa hadirnya
perempuanku. Tapi aku tidak berani terlalu mendekatinya. Memperhatikan semua
yang dilakukannya sudah lebih dari cukup untuk hidupku saat ini.
Satu ketakutanku yang sangat mencekam hari-hariku belakangn
ini. Jika dia benar-benar tak lagi ada waktu untuk berkumpul lagi, apa yang
akan terjadi dengan hidupku. Aku tak berani membayangkannya.
*dari mata Ozy 12 oktober 2009.
-cerpen ini untuk adik2 sarang gagak, pariaman.
“Zy, kamu pasti kuat sayang! Ingat semua akan usai dan
berlabuh dimuaranya.”
Saranggagak-Pariaman 31
Oktober dan
Padang 9 november 2009