CERPEN | TAK ADA LAGI CERITA


Cerita Maira Eka Sari

Di rumah, banyak cerita yang tak pernah usai disampaikan. Acap kali terbengkalai. Kadang alasannya waktu terlalu singkat jika dipaksakan selesai dalam waktu yang semestinya, kadang juga karena cerita lain datang tiba-tiba menyodorkan diri sebagai suatu yang lebih harus diceritakan. Begitulah cerita di rumah. Contohnya cerita ayah tentang sapi-sapi yang di kembala oleh tetangga waktu masih tinggal di rumah kontrakan lama. Ayah hanya menceritakan sedikt saja, dan dipotong oleh datangnya cerita ibu tentang kuli bangunan yang merampok rumah majikannya saat si majikan sedang tidak di rumah dan saat itu adalah hari ke tiga ia bekerja dengan majikannya. Cerita ibupun tak selesai karena diburu waktu ibu harus pergi mengantarkan pesanan orang lain.


Saat meminta lagi ayah menceritakannya, ayah sudah tak berselera lagi menceritakannya. Padahal aku ingin tahu kenapa orang itu sampai hati membiarkan sapi-sapi kami tak makan berhari-hari dan kenapa pula ayah tak mengambil kembali kepunyakaan kami, juga banyak lagi kenapa yang tak terjawab. Namun kenyataannya di rumah semua kebanyakan dari kami hanya membuka cerita yang selalu terbengkalai dan tak pernah usai di ceritakan. Selalu begitu dan aku tak pernah tahu kapan aku akan mendapat cerita utuh jika di rumah.

*****

Cerita bagiku adalah asupan wajib yang harus kunikmati setiap hari. Mendengarkan orang bercerita serasa ada kenikmatan tersendiri. Kadang dengan mendengar cerita aku bisa menikmati rasa syukur, rasa bangga, rasa berharga, rasa bahagia, rasa cemas, rasa sedih, pokoknya segala rasa. Aku merasa perasaanku menjadi peka. Aku menjadi mempunyai perasaan.

Mengapa tidak, dalam cerita-cerita yang aku dengarkan ada saja yang membuat aku berfikir dan menyentuh hati nuraniku. Segala rasa yang kudapat setelah mendengar cerita-cerita adalah kebahagiaan tersendiri. Aku menjadi tahu tentang banyak hal, aku menjadi berfikir tentang banyak hal juga.

“Kau jadikan saja cerita-cerita yang ada itu sebagai siraman rohani. Kau belajar dan tuntutlah ilmu dari semua cerita itu. Tidak ada yang salah.” Pak Wo dulu pernah kudatangi karena aku terlalu suka dengan cerita. Ia selalu mencoba mencarikan celah cahaya dari suatu yang aku anggap gelap gulita.

Aku mendengarkan semua cerita. Hidupku hanya ditakdirkan untuk mendengar, sementara untuk melihat Tuhan hanya mengijinkan dengan hatiku saja, tidak dengan mata. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya membaca. Tidak bisa melihat dengan mata membuat aku serba ingin tahu, karenanya aku sangat rajin mendengarkan dan meminta diceritakan tentang apa yang aku dengar.

“Sedang apa, Pak Wo?” Siang itu aku mendatangari rumah Pak Wo. Aku sedang bosan sendiri di rumah. Tidak banyak yang aku lakukan di rumah selain mendengarkan kesunyian yang dititipkan ayah, ibu dan kakak. Siang hari mereka selalu pergi keluar rumah dan meninggalkan aku dengan berkotak-kotak makanan. Jika waktu makan siang telah tiba, mereka pulang dan makan bersama denganku, setelah itu pergi lagi dan pulang setelah kumandang azan ashar. Saat pulang, mereka akan disibukkan dengan kesibukan masing-masing. Ada yang memasak, ada yang membersihkan rumah, ada yang mandi dan segala macamnya.

Hari-hari sering kuhabiskan di rumah Pak Wo. Jika aku bosan, Pak Wo akan mengantarkan aku ke beberapa tempat yang menurutnya pantas untuk kudatangi. Dia mengenalkan banyak hal padaku dari aku kecil, tepatnya saat aku pindah ke sini di usiaku 6 tahun.

Kata Pak Wo, dulu ia adalah seorang tukang cerita yang diiringi dengan musik. Dia sering diundang bercerita di tempat-tempat acara. Tapi sekarang sudah tidak lagi setelah kedatangan kemenakannya dari pulau seberang. Semenjak kedangan Bang Sam di pulau kami, banyak kebiasaan yang berubah. Itu kata mereka-mereka.

“Aku sedang membaca buku. Apa kau sudah makan? Kalau belum, di atas meja ada kutaruh beberapa potong roti. Makanan yang dibawakan teman Sam dari pulau seberang. Katanya makanan itu tahan lama, bisa berbulan-bulan. Coba kau cicipi. Cukup enak.”

“Roti? Kenapa makanan itu bisa tahan lama? Apa dia tidak bisa basi seperti ubi rebus atau seperti kerupuk ubi yang tahan beberapa hari? Bukanya makanan jika lebih dari seminggu akan lain bau dan rasanya? Kenapa roti bisa tahan berbulan-bulan? Bukankah itu tidak sehat?”

“Kau ini, cerewet kali. Cicipi dulu, biar kau tahu.”

“Tak mau. Aku tak mau sakit karena salah makan.”

“Ya sudah, terserah sajalah.”

Apa itu roti? Kenapa bisa tahan lama? Aku bergumam memikirkannya. Kami tak biasa memakan makanan yang disimpan terlalu lama. Selain yang terkadang rasanya berubah menjadi kurang enak karena mungkin zat asamnya mulai keluar, kadang baunya yang sudah lain. Jadi jarang kami makan makanan yang disimpan.

Lagi pula sering terjadi orang muntah-muntah karena makan makanan yang disimpan. Seperti anak Bu Cam dua hari yang lalu dibawa ke dukun karena muntah habis makan makanan yang disimpan berhari-hari.

“Apa yang kau pikirkan? Apa masih memikirkan roti?” Pak Wo membuyarkan pikiranku.

“Ya. Begitulah.”

“Kau semakin pintar saja sekarang. Aku makin menyukaimu.”

“Kalau roti bisa tahan lama, berarti orang tak perlu lagi masak sebelum makan. Hanya membeli roti dan menyimpannya. Jika lapar tak perlu lagi susah-susah, apalagi jika kelelahan. Hmm, apa itu wajar?”

“Wajar atau tidaknya sesuatu tergantung pada kondisi. Sudahlah, kalau kau tak mau makan roti, akan kurebuskan ubi untukmu. Bagaimana?”

“Tak usah Pak Wo. Aku belum lagi lapar. Apa kau bisa bercerita tentang roti untukku?”

“Hari ini aku tidak mau bercerita lama denganmu. Aku ingin mengajakmu pergi ke luar. Apa kau mau?”

“Aku hanya mau dengar tentang roti.” Aku selalu tidak tenang jika ada suatu yang baru dan aku tak tahu apa-apa dengan hal itu.

“Nanti malam aku akan bercerita tentang roti di rumahmu. Sekarang aku sedang ingin bersamamu tanpa cerita. Kali ini saja.”

“Ada apa? Apa kau sedang ada masalah? Tak biasanya kau tidak mau bercerita apa lagi saat diminta.”

“Tidak. Aku hanya sedang ingin bersamamu. Sudah dari tadi pagi aku menunggumu.”

“Menungguku?”

“Ya, aku menunggumu. Aku menunggumu bertahun-tahun lamanya.”

*****

Dan kali ini adalah kali pertama aku tak lagi mau mendengarkan cerita. Tak satupun cerita yang ingin kudengarkan dari siapapun. Aku menulikan pendengaranku. Semua cerita hanyalah sampah dan aku tak lagi memiliki keinginan untuk tahu. Cerita hanya mengantarku pada sebuah lubang yang ternyata tak ada secercah cahayapun, meskipun Pak Wo telah mencobakannya kembali.

Juga aku akan sama dengan yang di rumah. Aku juga akan membuat cerita ini terbengkalai dan tidak usai. 


TJ – Padang, Maret 2013