Cerita Maira Eka Sari
Ayang. Begitulah ia selalu memanggilku. Entah sejak kapan, yang jelas
aku selalu dipanggil Ayang. Panggilan sangat istimewa dalam hidupku.
Panggilan itu tak pernah kudapati dari perempuan manapun. Dari istriku
ataupun mantan-mantan pacarku. Hanya dia yang memanggilku begitu.
Sejujurnya aku lupa kapan pertama kali ia memanggilku dengan
panggilan itu. Yang jelas aku tersenyum setiap kali ia menyapaku dengan
panggilan Ayang, itu selalu aku ingat. Setelah keterpurukan yang sangat
menguliti itu, kuakui banyak hal yang mulai pudar di ingatanku. Sejarah
itu benar-benar membuatku pernah merasa menjadi orang yang paling hina
karena keterbatasanku. Hanya beberapa potong perjalanan saja yang
sekali-kali muncul dan bersedia untuk kuingat. Selebihnya hanya dia yang
ada di benakku. Mungkin tak sedikit waktupun kubiarkan lengahku
padanya.
Menyadari keistimewaannya membuat aku bangkit dan melangkah lagi. Ya,
dia sangat istimewa. Dia sangat anggun dan menawan. Kurasakan bahagia
yang tak terhingga, saat aku melihatnya. Aku tak pernah bosan
memandangnya. Di matanya kutemukan keteduhan yang membuat lelahku hilang
saat aku menyelami pandangannya. Bibir yang begitu mempesona dengan
kelembutan ia menuturkan ucapannya. Senyum yang selalu menghangatkaku.
Dan yang selalu kunanti adalah saat ia merebahkan kepala di dadaku dan
memeluk erat tubuhku yang mulai pipih dimakan perjalanan ini.
Kuakui, anugrah yang paling berharga yang kudapat adalah memiliki dan
membuat senyum membingkai di bibir tipisnya. Apapun cara akan kutempuh
agar senyum itu kokoh membingkai bibirnya.
Di hidup ini, aku selalu tersenyum saat ia bahagia dan larut dalam
tawa. Aku selalu menangis saat ia bersedih diamuk luka. Selalu begitu.
Bagiku dia adalah belahan jiwa di hidupku, karenanya kuhadiahkan nama
Filzah untuknya. Sebuah nama yang dulu diberikan oleh seorang perempuan
yang pernah isatimewa bagiku dan Filzah. Perempuan yang tinggal seorang
diri di pondok yang tak begitu jauh dari pondok kami.
Katanya, nama itu telah disiapkannya untuk buah hatinya. Tapi sayang,
sebuah kecelakaan menimpa buah hatinya. Kematian suaminya yang tak
wajar di sebuah truk senja itu, membuat ia tak kuat dan terpaksa melepas
buah hatinya pergi dengan suami tercinta. Tak lama setelah kejadian
itu, perempuan itu mendatangiku yang sedang mendekap Filzah yang masih
belum kuberi nama. Ia memintaku untuk menyematkan nama Filzah untuknya.
Belahan jiwa, itulah artinya. Kini ia sudah dua puluh tahun.
Kegemarannya merawat tanaman mawar membuat ia terliha seindah mawar
pula. Di sepanjang pelataran taman ditanaminya dengan mawar putih. Saat
berbunga, harumnya membuat aku betah berlama-lama menemaninya di taman.
Pernah suatu hari aku menanyakan kenapa ia begitu mencintai mawar putih.
Dengan senyum yang begitu menggetarkan hati ia menatapku dan mengatakan
bahwa mawar putih lambing kesucian.
Kebanggaanku semakin menjadi melihat ia mekar serupa bunga mawar
putih yang ia rawat itu. Dia benar-benar indah dan menawan hati.
Meskipun orang-orang selalu mengatakan hidupnya sangat malang saat
perempuan yang seharusnya dipanggil ibu meninggalkannya tanpa kabar dan
alasan apapun, ia tetap tersenyum. Aku tak pernah sekalipun mendengar
keluhan atau tanya apapun tentang perempuan itu dari mulutnya. Dan
sedikitpun tak ada larangan dariku jika ia ingin membahas itu. Hanya
senyum yang selalu kudapati saat ada orang yang berusaha mengganggunya
dengan pertanyaan tentang perempuan itu. Di samping dia tak banya
bicara, dia kelihatanya tidak suka untuk membahasnya.
*****
Tanpa kami sadari, hidup ini terlewati dengan begitu sederhana tanpa
ada rekayasa. Indah rasanya. Kurasa kami telah melalui hari-hari
senormal mungkin. Tak ada yang ganjil. Ada kala aku sibuk dengan
duniaku, ia pun begitu. Tetap bergaul dengan teman-teman sebayanya. Saat
petang mulai membayang, kami akan sama-sama pulang dan berkumpul.
Terkadang, dengan masakan hidangannya kami melalui malam di pondok saja.
Tak jarang juga kami menghabiskan waktu di luar pondok, ke pantai,
duduk menikmati desahan malam di taman kota atau sekadar cuci mata dan
jalan-jalan di sepanjang trotoar jalan. Kami seperti sepasang kekasih.
Selalu ada saja yang menambah kemesraan kami. Berbagi cerita tentang
hari-hari dan rutinitas yang masing-masing kami lalui, makan es kream
sambil ketawa, bahkan larut dalam canda sambil berkejar-kejaran. Terasa
sangat membahagiakan.
Hingga akhirnya, sore ini sebuah catatan hariannya membuat tubuhku
gemetar. Untuk kali pertamanya aku menangis tersedu-sedu semenjak aku
memilikinya. Sebuah kegetiran mengamuk dan menamparku tiada ampun.
Kenormalan yang aku rasakan ternyata meluputkan aku bahwa mekarnya ia
tentulah memiliki madu yang sudah tentu ada yang akan menghampirinya
karena terpikat. Tak kan mungkin ia mau layu sia-sia, kurasa begitulah
naluri sekuntum bunga.
Ternyata benar. Catatan hariannya menceritakan itu padaku. Sebuah
kisah tentang kekaguman dan harapan seorang hamba akan lawan jenisnya.
Ia jatuh cinta, dan aku luput dari itu.
Dengan begitu rapi, ia menceritakan kekaguman yang luar biasa tumbuh
di hatinya. Ia mengagumi seekor kumbang yang hadir di hidupnya dan telah
berhasil memikat hatinya. Aku dapat merasakan alangkah bahagianya ia
dengan perasaan itu. Hingga tumbuh harapan yang begitu tulus dan
berharga yang mengiringi hari-harinya.
Tapi sayang, itu hanya tertahan di sebuah catatan harian yang kini
ada di genggamanku. Filzah memangkas kekagunman dan haranpan itu hanya
karena aku.
Aku tak akan mengulang sejarah pahit di hidupmu, Ayang.
Begitulah kalimat penutup di lembar akhir catatan ini.
*****
Padang, 110310
*Pagi di kerinduan yang teramat dalam untuk ayah tercinta. Sederet doa di salam sayang bersemat santun untukmu Ayah.