CERPEN | LANGIT SENJA DAN GADIS BENDANG

Cerita Maira Eka Sari

Tak tahu kenapa, aku terlalu menyukai langit senja. Langit yang hadir saat tanah memanggil matahari untuk pulang. Ada kelembutan, kesejukan yang aku tak tahu juga kapan pertama aku merasakannya. Yang pasti aku merasakannya.

Jika matahari sudah mulai condong, aku bergegas merapikan diri. Mandi dan selalu berdandan rapi.

”Ke bendang lagi?” Ibu selalu duduk di bibir ranjangku saat melihat aku merapikan rambutku yang berurai sepinggang. Dengan semangat aku mengangguk dan tersenyum.


Setelah rapi, aku berpamitan dengan ibu. Menyalami dan mencium pipinya. Seperti yang selalu aku lakukan dulu, sebelum berangkat sekolah. Dan ibu tak pernah lupa berpesan, ”Hati-hati dan pulanglah sebelum maghrib!”

Dengan senyum yang begitu lebar aku mengayuh santai sepedaku. Sambil menikmati nafas bumi di petang hari, aku bersenandung pelan hingga akhirnya aku sampai di pematang bendang. Dari sana aku selalu mendapati langit senja yang aku suka, kecuali saat mendung dan hujan. Selalu ada yang baru aku temui saat menikmati rona-rona langit senja.

Dulu, sewaktu aku masih kanak-kanak, pematang bendang itu ramai sekali. Sebelum pergi mengaji, aku dan teman-teman selalu ke tempat itu. Kami bermain dulu sebelum beduk berbunyi. Sambil menikmati langit senja kadang kami bernyanyi di iringi alunan biola milik Liyan. Dia satu-satunya anak laki-laki yang pandai bermain biola diantara kami. Katanya diajari kakeknya.

Selain bernyanyi, kadang kami mandi, kadang juga kami main balap-balapan di ruas jalan yang kira-kira selebar satu meter yang membentang terapit sawah. Pokoknya selalu ada saja yang kami lakukan di bendang itu.

Hari sabtu, hari pekan di kampung kami. Setiap sabtu, kami selalu bawa makanan ke bendang. Kami makan bersama-sama. Juga saling tukar. Bagi yang tidak bawa makanan dikasih makanan, tapi juga di kenakan hukuman membersikan dangau tempat kami makan. Tapi sangat jarang yang tidak bawa makanan. Walau hanya seiris lemang atau tapai, yang penting bawa makanan. Supaya tidak kena hukuman.

Semenjak aku dan teman-teman tamat SMA, bendang sangat sepi. Tak ada lagi yang bernyanyi-nyanyi, tak ada balap-balapan, dan juga tak ada riuh gelak tawa saat melahap makanan. Bendang itu sepi sekali.

Kesepian itu, ternyata tidak mengurangi kesukaanku pada langit senja. Aku masih selalu menyempatkan diri datang ke bendang saat pulang. Karena, saat aku merapikan diri sebelum aku ke bendang, ibu pasti selalu ada di bibir ranjang. Menatapku.

Walau sore ini langit senja tak jauh beda dengan senja-senja kemaren. Ya, tak jauh berbeda. Masih ada raut jingga yang menyilaukan pandangku, dan serakan cahayanya menggaris halus tumpukan awan yang begitu tipis. Juga tanya dan pesan ibu. Tapi aku merasa sangat asing dengan semua yang aku dapat di bendang ini. Tak wajar. Serasa ada yang agak berlebih. Pekat, semua rona terasa lebih pekat dari biasa. Juga senyum ibu yang begitu lama saat melepasku.

Apakah karena kepulanganku yang sudah terlalu lama hingga kerinduanku pada langit senja di pematang bendang ini begitu hebat atau karena percakapan ayah dan ibu semalam?

Semalam, sewaktu sampai di rumah aku tidak langsung membaca salam dan masuk kerumah. Tapi aku terhenti di pintu saat mendengar isak ibu saat menyebut namaku.

”Apapun yang terjadi, Mia tidak boleh tahu, Pak!” Isak ibu semakin menjadi. Suaranya parau. Ingin rasanya aku langsung masuk dan memeluknya. Karena aku tak pernah rela saat ibu menangis. Tapi karena ibu menyebut namaku, kutahan diri untuk tetap tenang.

”Dia berhak untuk tahu semua ini. Mia sudah besar, sudah sepantasnya dia tahu siapa dia. Apalagi setelah semua terjadi. Jangan sampai Mia menyesali kita suatu saat.” Suara ayah juga terdengar bergetar.

”Sudahlah. Berhentilah menangis. Sebentar lagi Mia pulang. Jangan sampai dia melihatmu seperti ini.”

Lima belas menit setelah suara ayah dan ibu tak lagi terdengar, ku ketuk pintu dengan gemetar. Setelah ibu membukakan pintu aku berusaha untuk tetap tenang dan berlagak tidak tahu apa-apa.
Kucoba untuk tidak menghiraukan yang terjadi semalam. Aku bersikap seperti biasa. Seperti tidak mengetahui apa-apa. Dan seperti senja saat aku di rumah, aku selalu pergi ke bendang. Pergi menikmati langit senja.

Tapi entah kenapa, sampai di pematang bendang hatiku tak seperti biasa. Aku mendapati keasingan yang membuatku tidak telalu menyukai rona langit senja. Yang ada di benakku hanya senyum ibu tadi, senyum yang sama sekali tak biasa aku dapati. Serasa ada kegalauan yang membingkai senyum ibu.

Kegelisahanku semakin menjadi.
Tanpa pikir panjang, kutinggalkan langit senja yang selama ini ku suka. Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, kupacu sepedaku seperti saat main balapan dengan teman-teman di tepi bendang. Hingga akhirnya aku harus me-rem mendadak sepedaku.
Apa yang terjadi? Kenapa ada banyak mobil berjejer di halaman?

Kegalauanku semakin menjadi. Tanpa kusadari sepeda yang kukendarai tadi ku jatuhkan, dan aku berlari menuju rumah. Di pintu rumah aku tehenti saat itu berteriak, ”Dia anakku, dan sampai kapan Mia hanya anakku. Pergi kalian...”

”Sabar, Buk! Kamu bukan wanita yang melahirkannya, jadi dia punya hak untuk tahu siapa wanita yang melahirkannya.”

Dengan tubuh yang bergetar aku melangkah menuju pintu rumah, ”Siapa Ibuku?”

Mendengar suaraku ibu bangkit dan langsung memelukku. Airnya metanya yang selama ini aku tidak rela hadir di pipi wanita yang selama ini kupanggil ibu, kini membasahi daun pipiku.

”Aku ibumu, Nak! Dan sampai kapanpun hanya aku ibumu.”