Aku
mengeping ingatan tentang malam dan kekecewaan yang menjadi jalan lain untuk
mengepung rasa kekhawatiran ini. Aku tak punya satu pun isyarat untuk
menyampaikannya padamu. Mata seolah disekat oleh ingatan yang makin lama makin
menyatukan aku dalam tubuh kenangan. Aku merasa menjadi lemah. Marah!
Aku
menyaksikan malam menjadi pucat, tidak sepekat biasa. Ini menakutkan dan aku
semakin takut karena tenggorokanku serasa diikat. Diikat untuk tidak bisa
bercerita dan diikat untuk tidak bisa menyapamu melalui pesan singkat
sekalipun.
Mungkin
untuk kali ini, satu-satunya cara adalah diam dan menikmati hingga waktu
menyelesaikannya tanpa perlu diduga. Bagaimanapun kita hanya pelaku yang
memiliki ruang gerak yang dibatasi. Meskipun begitu, dalam diam aku selalu
mencari cara bagaimana aku mengisyaratkannya padamu tentang semua yang ada ini.
Ingat!
Ini bukan kali pertama yang dapat aku lakukan. Ini cara yang sedikit ampuh jika
kita resapi sama-sama. Meski tiba-tiba aku menjadi asing hingga terasing dalam
jebakan yang kubuat sendiri. Pagi menjadi cerita sendiri yang akhirnya
menelantarkan hari-hari yang seharusnya mempertemukan aku dan kau yang selama
ini saling mencari. Ini bukan kebohongan dan kau tak perlu selalu marah.
“Tutup
saja matamu. Ini sudah terlalu larut jika kau masih menjadikannya alasan untuk
tetap terjaga. Lihat matamu sudah lelah dan seharusnya kau tidur secepatnya.”
Tak
semudah yang dikatakan. Malam akhirnya menjadi duri dan ranjau yang menarik isi
otakku untuk tetap terjaga. Memikirkannya!
***
“Jangan
kau peturut juga keras hatimu itu. Tak akan selamat hidupmu kalau begini terus.”
“Ini
bukan keras hati! Aku hanya mencoba untuk tidak mengecewakan siapapun. Dan
ingat keselamatan hidupku sudah kuserahkan pada-Nya. Aku tidak takut, karena
ini kata hatiku. Jangan lagi mengulang kata yang sama. Hati yang luka karena
kata itu berbahaya!”
“Ahg,
jangan sok berceramah. Jangan kau mengata Tuhan, hati dan luka padaku. Belum
seberapa yang kau tahu tentang itu. Anak ingusan sepertimu tahu apa tentang
hidup ini? Tak usah mengajari orang. Mengurus ingusmu saja belum becus, aku
pula yang mau kau ceramahi. Dari selangkangku ini kau keluar. Jadi jangan
macam-macam denganku.” Dia marah melebihi marah yang ada dalam ubun-ubunku.
Malam semakin menjadi dan dia pun semakin tak bisa mengendalikan kata-katanya
yang keluar dari dalam mulutnya. Diam menjadi simalakama yang membuat aku ingin
sekali menikam malam hingga akhirnya semua ini hanya menjadi sayatan kenangan.
Secepatnya.
“Besok
aku berangkat bersama rencana yang telah aku katakan kemarin. Aku sudah
membuat janji.”
“Keparat!
Durhaka kau anak setan!”
Ini
bukan tentang keinginan semata yang menjadi pangkal balanya. Tapi semata tentang
hujan yang sesekali harus turun di lahan yang ditimpa kemarau. Kegersangan yang
selalu saja jadi alasan untuk mengumpat rencana Tuhan, memaki hidup dan menyela
apa saja yang bisa dicela.
***
“Ayolah!
Ini sudah terlalu larut. Mataku tak akan bisa terpejam jika masih ada mata yang
terbuka. Mengertilah sobat. Besok adalah jalan panjang yang butuh tenaga.”
Akhirnya
aku mencoba untuk menyerah dan berkelumun dengan sarung yang kubawa kamarin.
Menyembunyikan segala prasangka dan kekhawatiran yang semakin menjadi-jadi.
Tapi aku gagal. Aku hanya bisa bersembunyi dan orang-orang dari sekeliling tapi
tidak untuk yang ada dalam benakku, dalam diriku yang selalu mengenang.
Malam
semakin masak, risau semakin mangacak pikiranku. Tak ada yang bisa kuisyaratkan
padamu sebagai penyampai semua itu. Semua tertinggal di benakku. Semakin hari,
semakin mendesak untuk disampaikan, tapi selalu saja tak bisa. Aku lebih
memilih, biarlah kepala ini pecah daripada harus terus-terusan seperti ini.
Aku mulai muak!
***
Aku
sangat ingin menyampaikannya. Serasa sangat membebani sekali di pikiranku. Aku
benar-benar terperangkap dalam ingatan yang semakin tak bisa membantuku.
Seperti apa harus kuisyaratkan? Hal biasa yang aku lakukan seolah telah beku
diperangkap waktu. Aku menjadi gagu dan kaku. Ini seperti membeku dan sama
sekali membuat aku malu. Tolong ajari lagi aku, jangan ingatkan lagi, karena
ingatanku sepertinya sedang tak bisa digunakan.
“Nomor
ponselmu harus diganti! Kita tak bisa terus-terus begini. Aku bisa gila kalau
kau tak juga mau mengeti. Diam bukan satunya cara untuk menyelesaikan ini.
Waktu tidak akan begitu saja membekukan semua ini hanya karena kamu diam.
Lakukanlah sesuatu!”
“Bukan
itu alasannya. Jangan menjadikan yang bukan alasan sebagai alasan. Aku juga
bisa bosan dan muak menghadapi yang begini. Selalu begini kau menanggapi setiap
masalah yang ada.”
“Lalu
karena apa? Coba jelaskan padaku.”
“Entahlah.
Aku tak berselera lagi membahas ini. Biarkan saja waktu yang menentukan apa jadinya.”
“Agh.
Ini tidak bisa diserahkan pada waktu. Janganlah main-main dengan hal ini. Mari
bicara, dan selesaikan. Biar kita bisa tenang dan tak lagi meributkan hal yang
sama sampai kita tua.”
“Aku
tak mau menua dengan kebohongan. Itu saja.”
“Apa
maksudmu? Kau masih mengatakan aku berbohong? Bagian mana kebohongan itu?
Jangan berulah!”
“Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun tentang dirimu, tapi satu mintaku. Jangan bohongi aku. Aku seperti orang bodoh jika kau membohongi aku. Aku tidak bodoh!”
“Oke,
sekarang aku minta maaf!”
“Terlalu
sering kau meminta maaf. Ini seperti kemunafikan.”
Pikiranku
mempermainkanku pada akhirnya. Aku benar-benar bermasalah dengan ingatan saat
ini. Malam memucat dan aku menjadi asing lagi. Ini menyesakkan sekali. Aku
ingin mengeping lagi ingatan tentang malam dan kekecewaan yang menjadi jalan
lain untuk mengepung rasa kekhawatiran ini. Aku seperti tak bisa marah!
***
TubuhJendela_Padang, 22 Desember 2014
*Maira
Eka Sari, penulis dan pemerhati kasus budaya dan sastra. Tinggal di
Padang-Sumatra Barat. Beberapa tulisan telah dibukukan dalam antologi bersama
dan dimuat di beberapa media masa. Sekarang aktif di ruang diskusi dan
dokumentasi Tubuh Jendela di Padang.