CERPEN | ADA SISA CERITA SEMALAM

 | Carita Maira Eka Sari


Aku mengeping ingatan tentang malam dan kekecewaan yang menjadi jalan lain untuk mengepung rasa kekhawatiran ini. Aku tak punya satu pun isyarat untuk menyampaikannya padamu. Mata seolah disekat oleh ingatan yang makin lama makin menyatukan aku dalam tubuh kenangan. Aku merasa menjadi lemah. Marah!

Aku menyaksikan malam menjadi pucat, tidak sepekat biasa. Ini menakutkan dan aku semakin takut karena tenggorokanku serasa diikat. Diikat untuk tidak bisa bercerita dan diikat untuk tidak bisa menyapamu melalui pesan singkat sekalipun.

Mungkin untuk kali ini, satu-satunya cara adalah diam dan menikmati hingga waktu menyelesaikannya tanpa perlu diduga. Bagaimanapun kita hanya pelaku yang memiliki ruang gerak yang dibatasi. Meskipun begitu, dalam diam aku selalu mencari cara bagaimana aku mengisyaratkannya padamu tentang semua yang ada ini.


Ingat! Ini bukan kali pertama yang dapat aku lakukan. Ini cara yang sedikit ampuh jika kita resapi sama-sama. Meski tiba-tiba aku menjadi asing hingga terasing dalam jebakan yang kubuat sendiri. Pagi menjadi cerita sendiri yang akhirnya menelantarkan hari-hari yang seharusnya mempertemukan aku dan kau yang selama ini saling mencari. Ini bukan kebohongan dan kau tak perlu selalu marah.

“Tutup saja matamu. Ini sudah terlalu larut jika kau masih menjadikannya alasan untuk tetap terjaga. Lihat matamu sudah lelah dan seharusnya kau tidur secepatnya.”

Tak semudah yang dikatakan. Malam akhirnya menjadi duri dan ranjau yang menarik isi otakku untuk tetap terjaga. Memikirkannya!
***

“Jangan kau peturut juga keras hatimu itu. Tak akan selamat hidupmu kalau begini terus.”

“Ini bukan keras hati! Aku hanya mencoba untuk tidak mengecewakan siapapun. Dan ingat keselamatan hidupku sudah kuserahkan pada-Nya. Aku tidak takut, karena ini kata hatiku. Jangan lagi mengulang kata yang sama. Hati yang luka karena kata itu berbahaya!”

“Ahg, jangan sok berceramah. Jangan kau mengata Tuhan, hati dan luka padaku. Belum seberapa yang kau tahu tentang itu. Anak ingusan sepertimu tahu apa tentang hidup ini? Tak usah mengajari orang. Mengurus ingusmu saja belum becus, aku pula yang mau kau ceramahi. Dari selangkangku ini kau keluar. Jadi jangan macam-macam denganku.” Dia marah melebihi marah yang ada dalam ubun-ubunku. Malam semakin menjadi dan dia pun semakin tak bisa mengendalikan kata-katanya yang keluar dari dalam mulutnya. Diam menjadi simalakama yang membuat aku ingin sekali menikam malam hingga akhirnya semua ini hanya menjadi sayatan kenangan. Secepatnya.

“Besok aku berangkat bersama rencana yang telah aku katakan kemarin. Aku sudah membuat janji.”

“Keparat! Durhaka kau anak setan!”

Ini bukan tentang keinginan semata yang menjadi pangkal balanya. Tapi semata tentang hujan yang sesekali harus turun di lahan yang ditimpa kemarau. Kegersangan yang selalu saja jadi alasan untuk mengumpat rencana Tuhan, memaki hidup dan menyela apa saja yang bisa dicela.
***

“Ayolah! Ini sudah terlalu larut. Mataku tak akan bisa terpejam jika masih ada mata yang terbuka. Mengertilah sobat. Besok adalah jalan panjang yang butuh tenaga.”

Akhirnya aku mencoba untuk menyerah dan berkelumun dengan sarung yang kubawa kamarin. Menyembunyikan segala prasangka dan kekhawatiran yang semakin menjadi-jadi. Tapi aku gagal. Aku hanya bisa bersembunyi dan orang-orang dari sekeliling tapi tidak untuk yang ada dalam benakku, dalam diriku yang selalu mengenang.

Malam semakin masak, risau semakin mangacak pikiranku. Tak ada yang bisa kuisyaratkan padamu sebagai penyampai semua itu. Semua tertinggal di benakku. Semakin hari, semakin mendesak untuk disampaikan, tapi selalu saja tak bisa. Aku lebih memilih, biarlah kepala ini pecah daripada harus terus-terusan seperti ini. Aku mulai muak!
***

Aku sangat ingin menyampaikannya. Serasa sangat membebani sekali di pikiranku. Aku benar-benar terperangkap dalam ingatan yang semakin tak bisa membantuku. Seperti apa harus kuisyaratkan? Hal biasa yang aku lakukan seolah telah beku diperangkap waktu. Aku menjadi gagu dan kaku. Ini seperti membeku dan sama sekali membuat aku malu. Tolong ajari lagi aku, jangan ingatkan lagi, karena ingatanku sepertinya sedang tak bisa digunakan.

“Nomor ponselmu harus diganti! Kita tak bisa terus-terus begini. Aku bisa gila kalau kau tak juga mau mengeti. Diam bukan satunya cara untuk menyelesaikan ini. Waktu tidak akan begitu saja membekukan semua ini hanya karena kamu diam. Lakukanlah sesuatu!”

“Bukan itu alasannya. Jangan menjadikan yang bukan alasan sebagai alasan. Aku juga bisa bosan dan muak menghadapi yang begini. Selalu begini kau menanggapi setiap masalah yang ada.”

“Lalu karena apa? Coba jelaskan padaku.”

“Entahlah. Aku tak berselera lagi membahas ini. Biarkan saja waktu yang menentukan  apa jadinya.”

“Agh. Ini tidak bisa diserahkan pada waktu. Janganlah main-main dengan hal ini. Mari bicara, dan selesaikan. Biar kita bisa tenang dan tak lagi meributkan hal yang sama sampai kita tua.”

“Aku tak mau menua dengan kebohongan. Itu saja.”

“Apa maksudmu? Kau masih mengatakan aku berbohong? Bagian mana kebohongan itu? Jangan berulah!”

“Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun tentang dirimu, tapi satu mintaku. Jangan bohongi aku. Aku seperti orang bodoh jika kau membohongi aku. Aku tidak bodoh!”

“Oke, sekarang aku minta maaf!”

“Terlalu sering kau meminta maaf. Ini seperti kemunafikan.”

Pikiranku mempermainkanku pada akhirnya. Aku benar-benar bermasalah dengan ingatan saat ini. Malam memucat dan aku menjadi asing lagi. Ini menyesakkan sekali. Aku ingin mengeping lagi ingatan tentang malam dan kekecewaan yang menjadi jalan lain untuk mengepung rasa kekhawatiran ini. Aku seperti tak bisa marah!
***

TubuhJendela_Padang, 22 Desember 2014
*Maira Eka Sari, penulis dan pemerhati kasus budaya dan sastra. Tinggal di Padang-Sumatra Barat. Beberapa tulisan telah dibukukan dalam antologi bersama dan dimuat di beberapa media masa. Sekarang aktif di ruang diskusi dan dokumentasi Tubuh Jendela di Padang.