| Cerita Maira Eka Sari
Kali ini aku akan percaya padamu. Tak perlu bertaruh,
karena kita akan sama-sama merasa menang dalam kasus ini, kasus mereka. Jadi,
tak perlu buang-buang taruhan. Cukup kita merayakan bersama dengan cara kita,
cara yang belum pernah kita lakukan karena kita juga belum pernah sependapat
sebelum kali ini.
“Jika kamu berharap keberadaan orang lain sebagai
temanmu, di saat itu kaumenginginkan kematianku. Ini sudah berulang kali aku
katakan. Karena untuk apa lagi aku mematung di sini jika aku tak bisa kauanggap
teman!” Kautahu, ini sudah hari ke sekian mereka ribut. Aku menganggapnya
begitu. Seingatku, ini juga hal yang sama sekian kali mereka bicarakan. Suara
lelaki itu selalu tidak lantang mengucapkannya. Hanya seperti berbisik dan
halus, namun terdengar begitu tajam. Bagiku terdengar begitu jelas.
Seolah seperti mendengar mantra, aku merinding
mendengarnya. Ada semacam hal mistik yang tersemat dalam kalimat itu. Padahal
kalimat itu sudah berkali-kali diungkapkan lelaki itu pada gadis di depannya.
Semacam ancaman, padahal hanya sebuah permintaan agar si perempuan tidak
menganggapnya sepele. Sepertinya begitu.
Dua mangkok pangsit terpaku kaku di depan mereka. Setelah
kusajikan tadi, tak seorang pun dari mereka berminat memulai menyentuh
mangkoknya. Tidak seperti biasa –mereka datang dengan senyum dan candaan,
kemudian akan saling berebutan kecap, sambal atau barang kecil lain yang telah
kami sediakan di atas meja setiap pelanggan–. Mereka tamu langgananku sejak
empat tahun yang lalu. Menu yang dipesan selalu itu.
Aku masih ingat saat pertama mereka datang dan memesan
pangsit. “Beda pangsit sama mie ayam itu apa sich, Bu De?” Tanya si perempuan
dengan sangat polos dan mungkin terdengar konyol bagi pelanggan lain. Sontak si
lelaki terkekeh mendengar pertanyaan perempuan yang saat itu selalu memilih
duduk di hadapan lelaki itu.
“Apa harus memiliki teman selain aku? Kita sudah tidak
banyak memiliki waktu bersama belakangan ini, apa tidak sebaiknya sisa waktu
yang telah habis untuk pekerjaan dan hobi serta keluarga, kita habiskan berdua
saja? Toh waktu yang tersisa itu saja tidak cukup untuk kita.” Lelaki itu
mencoba berbicara dengan nada seringan mungkin agar emosinya tidak nyata keluar
pada perempuan yang sedari tadi lebih banyak menundukkan kepalanya sambil
jari-jarinya memainkan kacamata yang selalu dibuka saat memasuki warung kami.
“Ini tidak seperti sangka yang ada di pikiranmu!” Mata
perempuan itu mulai berkaca-kaca.
“Aku tahu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan perempuannya?
Sesorang sudah memutuskan menjalin hubungan ikatan suami istri, itu berarti
mereka telah memilih siapa yang menjadi temannya. Pasangannya itu yang disebut
teman, selebihnya hanya kenalan. Kau tahu apa itu teman? Sekarang pikirkanlah
baik-baik. Ini kali terakhir aku bicara dan membicarakan ini.”
“Kami hanya sebatas teman tukar cerita. Tidak lebih dari
itu. Bertemu pun kami tidak lagi pernah sejak kita bersama.”
“Lalu apa gunaku, jika kaumasih memilih bertukar cerita
dengan orang lain yang kausebut teman. Apa aku tidak bisa kaujadikan teman? Aku
sibuk bekerja karena dan untuk kamu. Untuk kamu, aku melakoni pekerjaan yang
menyita waktu ini. Tapi aku masih punya waktu untuk menjadi teman cerita
kekasihku. Tidak perlu diisi oleh orang lain. Atau jangan-jangan kaumulai
bosan?”
Perempuan itu mengangkat wajahnya. Matanya terbelalak
kaget dan kemudian pergi meninggalkan lelaki itu. Hal ini tak pernah terjadi
sebelumnya. Mereka yang selalu datang dan pergi bersama dari warung kami. Ini
juga bukan kali pertama mereka ribut, tapi ini kali pertama perempuan itu pergi
seorang diri. Seperti halnya perempuan itu, aku pun sontak terkaget mendengar
pernyataan lelaki itu. Aku serasa ditampar oleh telapak tangan suamiku yang
selama ini tidak pernah berlaku keras padaku.
Ya! Aku serasa ditampar oleh suamiku, ayah anak-anakku.
Lelaki yang selama tiga puluh tahun tidak pernah berkata ataupun memperlakukanku
dengan kasar. Kautahu, sekarang aku seolah merasa ditampar oleh lelaki yang
kupanggil suami selama tiga puluh tahun ini. Pertanyaan itu seolah dilontarkan
oleh suamiku.
***
Apa aku bosan? Bosan dengan apa? Tiga puluh tahun selalu
kami isi dengan kebersamaan yang tak pernah ada perpisahan. Sejak suamiku
meminangku, aku telah memutuskan untuk berhenti bekerja di pabrik dan
membantunya berjualan pangsit di kaki lima rumah sakit ini. Selama tiga puluh
tahun kami melakoni hampir apapun hal dalam hidup ini kami lakukan bersama.
“Aku pencemburu, Mas! Biarkan aku selalu di dekatmu.”
“Apa nanti kamu tidak akan bosan? Siang malam, setiap
menit bertemu dan bersama denganku. Nanti kamu bosan dan itu sangat tidak baik
untuk keutuhan keluarga kita. Lebih baik kamu tetap bekerja di pabrik atau
cukup di rumah jaga anak-anak. Tentu ada rindu yang kuat saat kita bertemu,
walau berpisah beberapa jam saja.”
“Aku tidak bisa, Mas!”
“Mengapa? Apa kamu tidak percaya dengan masmu ini?”
“Aku percaya denganmu, tapi tidak dengan prasangkaku. Aku
tidak bisa menjaga prasangkaku untuk tetap berprasangka baik padamu. Aku
percaya kalau kautak akan tergoda oleh perempuan lain, tapi aku tak akan
percaya perempuan lain akan menyerah begitu saja dengan sikapmu.” Aku
bersikukuh untuk tetap ikut berjualan dengannya.
“Terserah. Selagi kaunyaman, maka lakukanlah.” Selalu
begitu suamiku menyerah dengan keinginanku.
Lalu apakah kali ini aku merasa bosan? Pantaskah aku
merasa bosan bersama lelaki yang menjaga kepercayaanku? Atau aku bosan dengan
kedamaian dan keharmonisan yang selalu terjaga ini? Mungkinkah aku bosan dengan
cerita yang sama di tiga puluh tahun ini? Lalu benarkah kau adalah obat
kebosanan ini hingga aku membutuhkanmu satu atau dua jam setiap hari hanya
untuk bertukar cerita hingga tertawa terpingkal-pingkal?
Senja semakin nyata, orang berlalu datang dan pergi dari
warung ini. Sementara lelaki itu terus terpaku di meja dari saat perempuannya
berlalu. Beberapa saat kemudian, dia bangkit dan mengemasi beberapa barang
perempuannya yang tertinggal. Ini kemenangan kita, tapi aku tidak mau
merayakannya bersamamu kali ini. Ini karena aku ingin mencari jawaban, apakah
aku bosan?
“Bungkuskan sebungkus lagi, Bu De. Dia pasti lapar karena
belum makan dari pulang kerja tadi.”
***
Rumah
Buku TubuhJendela_Kubang TungKek, 26 November 2015
*Maira Eka Sari, kreator dan pendiri Rumah Buku
TubuhJendela Sumatera Barat. Lahir di tanah bako Katimaha-Pasaman Barat, lalu
tumbuh dewasa di rumah ibu di 50 Kota. Alumni Sastra Indonesia UNAND. Pemerhati
budaya dan sastra.