CERPEN | ORANG PULAU

Cerita Maira Eka Sari (cerpen di Rakyat Sumbar Sabtu,)

Sebelumnya, aku meminta kau berhenti untuk meremehkan apa pun tentangku. Pertama karena aku lelaki dan ke dua karena itu tak ada gunanya bagi siapa pun dan untuk apa pun. Aku sangat benci diremehkan juga disepelekan! Karena yang ingin aku sampaikan ini mungkin akan menjadi hal remeh jika kau memandang dan menilai dengan kebiasaanmu selama ini.

Sekarang aku sudah di sini kembali. Akan kuajak kau memulai lagi cerita kita yang sempat terputus atau terhenti karena jarak. Mungkin bukan terputus, karena kita masih juga menjalin cerita meski tidak bersisi-bersebelahan. Ada jarak. Terserah masing-masing kita saja bagaimana memaknai beberapa waktu yang kita lalui hari kemarin, saat aku tidak bisa menjumpaimu. 4 bulan.


Ini tentang pulau dan orang-orang yang ada di pulau. Aku rasa kau pantas dan perlu untuk tahu bagaimana tentang pulau dan orang pulau. Berharap suatu saat kau bisa benar-benar memahami aku, walau tentu tak akan seutuhnya kau akan mengerti. Karena kau bukan berasal dari pulau. Anggap saja ini sebagai oleh-olah dari kepergianku yang cukup lama dan membuatmu sering bermenung dan merindukanku.

Di pulau, itu sangat jauh berbeda dengan di sini, sering dan lebih suka kami sebut kota, meskipun kau selalu dan sering mengaku anak kampung dan selalu menganggap kota itu seperti di ibukota Indonesia ini. Jakarta. Itu mungkin karena di otak kami, kota adalah tempat di mana lampu dengan cahaya yang begitu menyilaukan mata ada, kota juga wilayah yang telah dilalui berbagai macam jenis kendaraan bermotor. Kota juga di mana kawasannya telah diaspal dan sumber segala kebutuhan yang didapat hanya dengan sekejap waktu saja. Dan tentu aku sudah melihat sendiri bagaimana tempat yang kau sebut kampung itu yang kami sebut dengan kota.

“Di kota itu, banyak pemangsa. Hidup dan mati tantangan jika kita tidak bisa membawakan diri.” Begitu ayah menasehati saat aku akan kembali ke sini menemuimu. Dan aku yakin kau bisa membayangkan bagaimana ekspresi ayah saat mengatakan itu. Ini tentu saja bisa aku perkirakan karena aku tahu kau selalu pandai mengimajinasikan sesuatu hingga tertawa terpingkal-pingkal meski kadang itu tidak dianggap lucu oleh orang kebanyakan. Itu kuanggap suatu kelebihan yang kaumiliki dan pantas juga untuk kuacungi kekaguman.

Kalau bicara kekaguman, aku pikir kau akan kagum dan ternganga lalu kemudian berekspresi di luar dugaanku saat kau datang dan melihat sendiri bagaimana pulau dan orang pulau di sini. Bisa jadi kau akan terheran-heran dan mengerutkan dahi, karena banyak hal yang berbeda yang akan kau temui, sama halnya saat kita baru merangkai cerita bersama. Banyak ekspresi yang tak terduga mungcul saat kau tahu dan mencoba menemui apa yang menjadi titik penasaran di benak dan ulu hatimu. Tapi ini selalu kucuba untuk tidak menjadikannya suatu masalah yang berarti dan juga bukan suatu hal yang pantas untuk jadi bahan apalagi alasan kita bertengkar.

Pertama kali yang ingin sekalai kusampaikan bahwa di pulau kau tak akan bertemu mobil berlalu-lalang kecuali satu mobil yang lebih sering diam berdiri di pojok desa kami. Mobil pikup atau yang mungkin lebih kau kenal dengan L-300. Mobil itu biasanya akan digunakan jika ada keperluan yang tidak bisa kami lakukan hanya dengan becak, sepeda motor atau sekedar diangkat ke pundak. Orang-orang di pulau hanya menggunakan becak, motor dan sepeda serta berjalan kaki untuk transportasi dalam pulau. Mereka lebih membutuhkan perahu dari pada mobil jika di pulau ini. Mungkin akan seperti mobil di kotalah fungsi perahu bagi kami di pulau. Tentu kamu bisa membayangkan lagi dengan gaya imajinasimu.

Nah, meskipun kamu akan susah dan merasa canggung bepergian karena tidak ada mobil, tenang saja. Jika cuaca bagus, kau akan menikmati berbagai jenis kekayaan laut. Mulai dari cumi-cumi, ikan, kepiting, udang dan juga telur penyu. Lidahmu akan dimanjakan dengan aneka ragam makanan khas orang pulau yang aku sangat yakin kau bakal puas dan bahagia. Apalagi kau akan dengan gampang dan sepuasnya menikmati manisnya air kelapa muda yang selama kau selalu merengek memintanya. Satu alasan kenapa aku sering tidak mau mengiyakan saat kau meminta kelapa muda saat kita sering jalan bersama, karena kelapa mudanya tidak seperti di pulau. Kau tentu tahu bagaimana aku, bukan aku orangnya jika mau menikmati sesuatu yang kurang baik dari apa yang telah aku dapat sebelumnya.

Matamu akan disejukkan oleh pemandangan yang sangat indah dari kuasa ciptaan Tuhan. Pasirnya yang putih serta air lautnya yang bersih akan kau temui. Debur ombak bak irama yang begitu syahdu serta girang gembira anak-anak nelayan berhaburan mandi air laut bermain bergelut di dekat pelabuhan. Meskipun akan terasa hangat dari biasa yang kau rasakan, itu tak akan apa karena kau hanya tak bisa berada di tempat dingin. 

Di pulau, jika sedang musim angin barat, hidup akan sangat terasa begitu pailit. Susah dan tentu menyesakan. Itu kenapa aku agak terlambat balik dari waktu yang telah kita usahakan menjanjikannya. Karena kemarin sedang musim angin barat. Saat angin barat, kau tak bisa melakukan apa pun seperti hari biasa dan juga seperti apa yang ada dalam keinginmu. Hidup orang pulau ditentukan oleh angin. Jika kau di sini saat badai telah melanda atau kami sering menyebutnya bulan berkurung, aku yakin kau akan menangis meraung-raung, setidaknya akan mabuk karena pusing. Ombak akan saling mangamuk, hingga kadang atap genteng rumah riuh menggaduh karena angin badai yang begitu gila menyetubuhi pulau. Nelayan akan susah untuk pergi ke laut, jika memaksakan diri juga, maut tantangannya. Musim seperti ini rasanya lebih mengerikan lagi dari saat buaya yang kadang banyak berkeliaran naik ke pulau dulu.

Ya, jika buaya telah ke darat atau telah memunculkan diri, banyak korban yang ditelannya. Tapi jika sudah musim badai tentu akan sangat lebih parah lagi. Begitulah orang pulau hidup. Aku rasa ini cara alam untuk mengajarkan ketegaran menjalani hidup.

Di pulau tak ada kafe atau tenda-tenda di kaki lima berserakan. Cukup hanya ada warung kopi tempat kami orang pulau melepas cerita dan membagi pendapat serta tempat menunggu pembagian upah buruh, tapi orang pulau juga bercerita politik. Mereka saling berkoar masalah yang sedang dipermasalahkan orang-orang di gedung kota besar yang selalu menamai mereka wakil rakyat. Mereka akan bertegang urat leher menyampaikan pendapat atau bantahnya. Dan tentu saja orang pulau kami sudah banyak mengenal cara berpolitik itu sendiri.

“Anak orang tu, pandainya cuma berkoar pakai nama orang. Tak berani dia bicara atasnya dirinya sendiri. Manusia munafik saja mereka itu.” Seorang bapak akhirnya ikut pula angkat suara setelah mendengar orang-orang di kedai kopi ini saling menukar umpatan.
Kau juga harus tahu, begitulah kalau kegeraman dan kekesalan telah sampai pada mereka. Perkataan yang tak kau sangka akan meluncur begitu saja tanpa bisa direm sama sekali. Ini sudah terjadi sejak dulunya. Orang sini cukup kritis dan juga memperhatikan tentang kehidupan orang kota yang kadang tidak kami mengerti sama sekali. Yang jelas mereka ikut membicarakannya.

“Tiba-tiba saya cemas pula dengan anak kita yang telah mulai tahu dan suka dengan hidup orang kota tu. Niat kita menyuruh mereka ke kota ya mencari ilmu dan nanti pulang, menikah dan beranak pinaklah di pulau kita ini. Bukan pula hendak menjadi orang kota. Lihatlah anak si Tole, sudah lima tahun tidak pulang dan ternyata sudah beristri saja dia di kota sana. Siapalah keluarga istrinya itu tak tahu pula kita. Dan si Tole hanya diam saja jika kita tanya. Dianggap apalah orang kampung kita ini, hingga begitu sikapnya.” Kata seorang yang lain.

“Tapi kan tak semua kami yang ke kota begitu, Pak Tangah! Janganlah sesinis itu. Tak enak juga didengar.” Aku mencoba pula menyela sedikit, geram dan panas juga mendengar celetukan mereka itu.

“Bah, pandai pula kau bilang tidak. Banyaklah bukti yang telah tampak. Di mana saja kau letak biji matamu itu? Tak mungkin mulutku ini berucap jika tak ada nyata aku dan orang sini lihat. Kalau bukan itu yang mereka lakukan ya memperbodoh kita di pulau ni lah. Sesuka rudalnya saja nak diapakanya di pulau ini. Macam punya kuasa saja. Macam dia yang sudah membukak pulau ni.”

“Alah, tak usah tegang pula lah kita. Anak kau tu ada benarnya juga, buktinya pulang juga dia setelah 2 tahun di rantau dan menjadi sarjana dan duduk juga dia bersama kita di kedai kopi ini. Tak lupa dia pada kita. Cukup juga lah rasanya. Apa lagi? Besar jugalah hati kita melihatnya masih sehat begini.” Pak Udo mencoba mencairkan suasana yang sudah berapi-api sejak tadi. Ini bukan saja karena masalah politik yang mereka bicarakan, tapi juga karena upah mereka belum juga dibagi sementara istri mereka sudah menunggu di rumah untuk menghidupkan tungku api dan menyiapkan santapan malam.

“Nah, sekarang apa nak kau kerjakan? Akan hidup jadi kuli saja kau di pelabuhan ini? Sejak kau pulang cukup aktif juga kau jadi kuli. Tak sayang kau dengan gelar yang telah kau dapat itu? Atau jangan-jangan pulang kali ini kau membawa kabar akan menikah dengan anak kota dan meminta restu pada orang tuamu? Kalau iya begitu, berhentilah kau jadi buruh. Tak mungkin kan kau hidupi anak kota itu dengan upah buruhmu itu. Tak mungkin. Lebih baik kau mengonor di kantor camat, baju rapi dan bergengsi pula. Sesekali bisa juga kau makan uang jatah kampung itu.” Pak Udo mencoba menggodaku, hinga yang lain mulai terpingkal dan aku hanya tersenyum saja. Senyum getir. Begitulah cara orang pulau. Mereka akan selalu menertawakan jika ada buruh mengidamkan menikah dengan gadis kota. Mereka acap kali sinis menanggapi orang kota, tapi beda halnya mereka sudah berhadapan dengan orang kota itu sendiri. Mereka akan beramah-tamah dan mencoba selalu berbaik.

Dan satu lagi yang harus kau tahu sebelum nanti kita sambung cerita ini. Ini tentang perempuan di pulau ini. Akan aku kasih sedikit bocoran agar kau penasaran hingga cerita selanjutnya aku sampaikan. Perempuan di sini, adalah perempuan tangguh perempuan yang tidak mudah cengeng. Perempuan yang keras. Dan itu alasan kenapa aku selalu marah dan melarangmu untuk menangis. Apalagi menangis karena rindu ingin bertemu denganku.

Pagi sebelum sang suami berangkat melaut mereka sudah menyiapkan rantang sebelum Subuh karena laki-laki yang sudah berumah tangga akan segera melaut setelah usai subuh sebelum terbit fajar. Itu bagi yang suaminya nelayan. Meskipun kami orang pulau, tak semua laki-laki di sini menghidupi istrinya dengan melaut. Ada yang lain seperti berkebun, menangkap kupu-kupu, menjadi kuli pelabuhan dan ada lagi yang lain.

Mereka, selalu sigap dan cekatan dalam mengurusi keluarga meski juga ikut berkegiatan bersama dengan ibu-ibu lainnya. Jika mereka tidak begitu, maka siap-siap sajalah untuk dimadu, diselingkuhi dan mungkin ditinggal. Sensitif dan keras hati laki-laki lebih pula lagi melebihi hati perempuan jika sudah terabai. Mulai jugalah menghapus beberapa bagian di pikiranmu bahwa laki-laki tidak memiliki perasaan yang sensitif seperti yang ada pada dirimu, perempuan. Laki-laki tidak suka diremehkan!


TubuhJendela_Padang, 12-13 Oktober 2014
*Maira Eka Sari, penulis dan pemerhati kasus budaya dan sastra. Tinggal di Padang-Sumatra Barat. Beberapa tulisan telah dibukukan dalam antologi bersama dan dimuat di beberapa media masa. Sekarang aktif di ruang diskusi dan dokumentasi Tubuh Jendela di Padang.