Sebelumnya, aku meminta kau berhenti untuk meremehkan apa pun tentangku. Pertama karena aku lelaki dan ke dua karena itu tak ada gunanya bagi siapa pun dan untuk apa pun. Aku sangat benci diremehkan juga disepelekan! Karena yang ingin aku sampaikan ini mungkin akan menjadi hal remeh jika kau memandang dan menilai dengan kebiasaanmu selama ini.
Sekarang aku sudah di sini kembali. Akan kuajak kau memulai lagi cerita kita yang sempat terputus atau terhenti karena jarak. Mungkin bukan terputus, karena kita masih juga menjalin cerita meski tidak bersisi-bersebelahan. Ada jarak. Terserah masing-masing kita saja bagaimana memaknai beberapa waktu yang kita lalui hari kemarin, saat aku tidak bisa menjumpaimu. 4 bulan.
Ini tentang pulau dan orang-orang yang ada di pulau. Aku rasa kau pantas dan perlu untuk tahu bagaimana tentang pulau dan orang pulau. Berharap suatu saat kau bisa benar-benar memahami aku, walau tentu tak akan seutuhnya kau akan mengerti. Karena kau bukan berasal dari pulau. Anggap saja ini sebagai oleh-olah dari kepergianku yang cukup lama dan membuatmu sering bermenung dan merindukanku.
Di
pulau, itu sangat jauh berbeda dengan di sini, sering dan lebih suka kami sebut
kota, meskipun kau selalu dan sering mengaku anak kampung dan selalu menganggap
kota itu seperti di ibukota Indonesia ini. Jakarta. Itu mungkin karena di otak
kami, kota adalah tempat di mana lampu dengan cahaya yang begitu menyilaukan
mata ada, kota juga wilayah yang telah dilalui berbagai macam jenis kendaraan
bermotor. Kota juga di mana kawasannya telah diaspal dan sumber segala
kebutuhan yang didapat hanya dengan sekejap waktu saja. Dan tentu aku sudah
melihat sendiri bagaimana tempat yang kau sebut kampung itu yang kami sebut
dengan kota.
“Di
kota itu, banyak pemangsa. Hidup dan mati tantangan jika kita tidak bisa
membawakan diri.” Begitu ayah menasehati saat aku akan kembali ke sini menemuimu.
Dan aku yakin kau bisa membayangkan bagaimana ekspresi ayah saat mengatakan
itu. Ini tentu saja bisa aku perkirakan karena aku tahu kau selalu pandai
mengimajinasikan sesuatu hingga tertawa terpingkal-pingkal meski kadang itu
tidak dianggap lucu oleh orang kebanyakan. Itu kuanggap suatu kelebihan yang
kaumiliki dan pantas juga untuk kuacungi kekaguman.
Kalau bicara kekaguman, aku pikir kau akan kagum dan ternganga lalu kemudian berekspresi di luar dugaanku saat kau datang dan melihat sendiri bagaimana pulau dan orang pulau di sini. Bisa jadi kau akan terheran-heran dan mengerutkan dahi, karena banyak hal yang berbeda yang akan kau temui, sama halnya saat kita baru merangkai cerita bersama. Banyak ekspresi yang tak terduga mungcul saat kau tahu dan mencoba menemui apa yang menjadi titik penasaran di benak dan ulu hatimu. Tapi ini selalu kucuba untuk tidak menjadikannya suatu masalah yang berarti dan juga bukan suatu hal yang pantas untuk jadi bahan apalagi alasan kita bertengkar.
Pertama
kali yang ingin sekalai kusampaikan bahwa di pulau kau tak akan bertemu mobil
berlalu-lalang kecuali satu mobil yang lebih sering diam berdiri di pojok desa
kami. Mobil pikup atau yang mungkin lebih kau kenal dengan L-300. Mobil itu
biasanya akan digunakan jika ada keperluan yang tidak bisa kami lakukan hanya
dengan becak, sepeda motor atau sekedar diangkat ke pundak. Orang-orang di
pulau hanya menggunakan becak, motor dan sepeda serta berjalan kaki untuk
transportasi dalam pulau. Mereka lebih membutuhkan perahu dari pada mobil jika
di pulau ini. Mungkin akan seperti mobil di kotalah fungsi perahu bagi kami di
pulau. Tentu kamu bisa membayangkan lagi dengan gaya imajinasimu.
Nah,
meskipun kamu akan susah dan merasa canggung bepergian karena tidak ada mobil,
tenang saja. Jika cuaca bagus, kau akan menikmati berbagai jenis kekayaan laut.
Mulai dari cumi-cumi, ikan, kepiting, udang dan juga telur penyu. Lidahmu akan
dimanjakan dengan aneka ragam makanan khas orang pulau yang aku sangat yakin
kau bakal puas dan bahagia. Apalagi kau akan dengan gampang dan sepuasnya
menikmati manisnya air kelapa muda yang selama kau selalu merengek memintanya.
Satu alasan kenapa aku sering tidak mau mengiyakan saat kau meminta kelapa muda
saat kita sering jalan bersama, karena kelapa mudanya tidak seperti di pulau.
Kau tentu tahu bagaimana aku, bukan aku orangnya jika mau menikmati sesuatu
yang kurang baik dari apa yang telah aku dapat sebelumnya.
Matamu
akan disejukkan oleh pemandangan yang sangat indah dari kuasa ciptaan Tuhan.
Pasirnya yang putih serta air lautnya yang bersih akan kau temui. Debur ombak
bak irama yang begitu syahdu serta girang gembira anak-anak nelayan berhaburan
mandi air laut bermain bergelut di dekat pelabuhan. Meskipun akan terasa hangat
dari biasa yang kau rasakan, itu tak akan apa karena kau hanya tak bisa berada
di tempat dingin.
Di pulau, jika sedang musim angin barat, hidup akan sangat terasa begitu pailit. Susah dan tentu menyesakan. Itu kenapa aku agak terlambat balik dari waktu yang telah kita usahakan menjanjikannya. Karena kemarin sedang musim angin barat. Saat angin barat, kau tak bisa melakukan apa pun seperti hari biasa dan juga seperti apa yang ada dalam keinginmu. Hidup orang pulau ditentukan oleh angin. Jika kau di sini saat badai telah melanda atau kami sering menyebutnya bulan berkurung, aku yakin kau akan menangis meraung-raung, setidaknya akan mabuk karena pusing. Ombak akan saling mangamuk, hingga kadang atap genteng rumah riuh menggaduh karena angin badai yang begitu gila menyetubuhi pulau. Nelayan akan susah untuk pergi ke laut, jika memaksakan diri juga, maut tantangannya. Musim seperti ini rasanya lebih mengerikan lagi dari saat buaya yang kadang banyak berkeliaran naik ke pulau dulu.
Di pulau, jika sedang musim angin barat, hidup akan sangat terasa begitu pailit. Susah dan tentu menyesakan. Itu kenapa aku agak terlambat balik dari waktu yang telah kita usahakan menjanjikannya. Karena kemarin sedang musim angin barat. Saat angin barat, kau tak bisa melakukan apa pun seperti hari biasa dan juga seperti apa yang ada dalam keinginmu. Hidup orang pulau ditentukan oleh angin. Jika kau di sini saat badai telah melanda atau kami sering menyebutnya bulan berkurung, aku yakin kau akan menangis meraung-raung, setidaknya akan mabuk karena pusing. Ombak akan saling mangamuk, hingga kadang atap genteng rumah riuh menggaduh karena angin badai yang begitu gila menyetubuhi pulau. Nelayan akan susah untuk pergi ke laut, jika memaksakan diri juga, maut tantangannya. Musim seperti ini rasanya lebih mengerikan lagi dari saat buaya yang kadang banyak berkeliaran naik ke pulau dulu.
Ya,
jika buaya telah ke darat atau telah memunculkan diri, banyak korban yang ditelannya.
Tapi jika sudah musim badai tentu akan sangat lebih parah lagi. Begitulah orang
pulau hidup. Aku rasa ini cara alam untuk mengajarkan ketegaran menjalani
hidup.
Di
pulau tak ada kafe atau tenda-tenda di kaki lima berserakan. Cukup hanya ada
warung kopi tempat kami orang pulau melepas cerita dan membagi pendapat serta
tempat menunggu pembagian upah buruh, tapi orang pulau juga bercerita politik.
Mereka saling berkoar masalah yang sedang dipermasalahkan orang-orang di gedung
kota besar yang selalu menamai mereka wakil rakyat. Mereka akan bertegang urat
leher menyampaikan pendapat atau bantahnya. Dan tentu saja orang pulau kami
sudah banyak mengenal cara berpolitik itu sendiri.
“Anak
orang tu, pandainya cuma berkoar pakai nama orang. Tak berani dia bicara
atasnya dirinya sendiri. Manusia munafik saja mereka itu.” Seorang bapak
akhirnya ikut pula angkat suara setelah mendengar orang-orang di kedai kopi ini
saling menukar umpatan.
Kau
juga harus tahu, begitulah kalau kegeraman dan kekesalan telah sampai pada
mereka. Perkataan yang tak kau sangka akan meluncur begitu saja tanpa bisa
direm sama sekali. Ini sudah terjadi sejak dulunya. Orang sini cukup kritis dan
juga memperhatikan tentang kehidupan orang kota yang kadang tidak kami mengerti
sama sekali. Yang jelas mereka ikut membicarakannya.
“Tiba-tiba
saya cemas pula dengan anak kita yang telah mulai tahu dan suka dengan hidup orang
kota tu. Niat kita menyuruh mereka ke kota ya mencari ilmu dan nanti pulang,
menikah dan beranak pinaklah di pulau kita ini. Bukan pula hendak menjadi orang
kota. Lihatlah anak si Tole, sudah lima tahun tidak pulang dan ternyata sudah
beristri saja dia di kota sana. Siapalah keluarga istrinya itu tak tahu pula
kita. Dan si Tole hanya diam saja jika kita tanya. Dianggap apalah orang
kampung kita ini, hingga begitu sikapnya.” Kata seorang yang lain.
“Tapi
kan tak semua kami yang ke kota begitu, Pak Tangah! Janganlah sesinis itu. Tak
enak juga didengar.” Aku mencoba pula menyela sedikit, geram dan panas juga
mendengar celetukan mereka itu.
“Bah,
pandai pula kau bilang tidak. Banyaklah bukti yang telah tampak. Di mana saja
kau letak biji matamu itu? Tak mungkin mulutku ini berucap jika tak ada nyata
aku dan orang sini lihat. Kalau bukan itu yang mereka lakukan ya memperbodoh
kita di pulau ni lah. Sesuka rudalnya saja nak diapakanya di pulau ini. Macam
punya kuasa saja. Macam dia yang sudah membukak pulau ni.”
“Alah,
tak usah tegang pula lah kita. Anak kau tu ada benarnya juga, buktinya pulang
juga dia setelah 2 tahun di rantau dan menjadi sarjana dan duduk juga dia
bersama kita di kedai kopi ini. Tak lupa dia pada kita. Cukup juga lah rasanya.
Apa lagi? Besar jugalah hati kita melihatnya masih sehat begini.” Pak Udo
mencoba mencairkan suasana yang sudah berapi-api sejak tadi. Ini bukan saja
karena masalah politik yang mereka bicarakan, tapi juga karena upah mereka
belum juga dibagi sementara istri mereka sudah menunggu di rumah untuk
menghidupkan tungku api dan menyiapkan santapan malam.
“Nah,
sekarang apa nak kau kerjakan? Akan hidup jadi kuli saja kau di pelabuhan ini?
Sejak kau pulang cukup aktif juga kau jadi kuli. Tak sayang kau dengan gelar
yang telah kau dapat itu? Atau jangan-jangan pulang kali ini kau membawa kabar
akan menikah dengan anak kota dan meminta restu pada orang tuamu? Kalau iya
begitu, berhentilah kau jadi buruh. Tak mungkin kan kau hidupi anak kota itu
dengan upah buruhmu itu. Tak mungkin. Lebih baik kau mengonor di kantor camat,
baju rapi dan bergengsi pula. Sesekali bisa juga kau makan uang jatah kampung
itu.” Pak Udo mencoba menggodaku, hinga yang lain mulai terpingkal dan aku hanya
tersenyum saja. Senyum getir. Begitulah cara orang pulau. Mereka akan selalu
menertawakan jika ada buruh mengidamkan menikah dengan gadis kota. Mereka acap
kali sinis menanggapi orang kota, tapi beda halnya mereka sudah berhadapan
dengan orang kota itu sendiri. Mereka akan beramah-tamah dan mencoba selalu
berbaik.
Dan
satu lagi yang harus kau tahu sebelum nanti kita sambung cerita ini. Ini
tentang perempuan di pulau ini. Akan aku kasih sedikit bocoran agar kau
penasaran hingga cerita selanjutnya aku sampaikan. Perempuan di sini, adalah
perempuan tangguh perempuan yang tidak mudah cengeng. Perempuan yang keras. Dan
itu alasan kenapa aku selalu marah dan melarangmu untuk menangis. Apalagi menangis
karena rindu ingin bertemu denganku.
Pagi
sebelum sang suami berangkat melaut mereka sudah menyiapkan rantang sebelum Subuh karena laki-laki yang sudah berumah tangga akan segera melaut setelah
usai subuh sebelum terbit fajar. Itu bagi yang suaminya nelayan. Meskipun kami
orang pulau, tak semua laki-laki di sini menghidupi istrinya dengan melaut. Ada
yang lain seperti berkebun, menangkap kupu-kupu, menjadi kuli pelabuhan dan ada
lagi yang lain.
Mereka,
selalu sigap dan cekatan dalam mengurusi keluarga meski juga ikut berkegiatan
bersama dengan ibu-ibu lainnya. Jika mereka tidak begitu, maka siap-siap sajalah untuk dimadu, diselingkuhi dan mungkin ditinggal. Sensitif dan keras hati
laki-laki lebih pula lagi melebihi hati perempuan jika sudah terabai. Mulai
jugalah menghapus beberapa bagian di pikiranmu bahwa laki-laki tidak memiliki
perasaan yang sensitif seperti yang ada pada dirimu, perempuan. Laki-laki
tidak suka diremehkan!
TubuhJendela_Padang, 12-13 Oktober 2014
*Maira
Eka Sari, penulis dan pemerhati kasus budaya dan sastra. Tinggal di Padang-Sumatra
Barat. Beberapa tulisan telah dibukukan dalam antologi bersama dan dimuat di
beberapa media masa. Sekarang aktif di ruang diskusi dan dokumentasi Tubuh
Jendela di Padang.
