Cerita Maira Eka Sari
Aku hanya sewujud bayangan, Sayang! Kabar apa yang ingin kau dengar dariku? Kabar apa? Jawablah, hingga aku tidak bergelut dengan hal yang sama yang mengantar kau pada bosan. Aku hanya ingin melengkapi kamu agar bisa tetap tersenyum riang dan tertawa lepas. Tidak lebih! Ini cara aku ada untukmu, dan maaf atas kurangku. Apa yang akan ada di pikiranmu jika aku terus begini? Apa akan bosan dan berfikir untuk menjebakku dalam kesendirian membeku dengan waktu.
***
Kadang aku
menikmati bergelut dengan hal yang sama di luar kendali kesadaranku. Aku
berdansa dengan waktu hingga lupa bahwa kau telah mengingatkan untuk aku tidak
mengulangi hal yang
sama yang kau tidak
suka sama sekali. Aku selalu menjebak diri dalam segala yang bisa mengantarku
pada senyum riang dan tawa renyahmu yang pernah aku dapat. Itu semacam obsesi
yang mengendalikan aku seperti penyakit gila. Cerita demi cerita selalu aku
tuturkan untuk menjadi tempat aku mempermainkan kata-kata hingga aku bisa
membagi kabar yang tak mudah aku ucapkan langsung padamu. Setiap apapun tentang
kamu dan kita menjadi butir-butir yang seperti harus untuk diceritakan.
Berharap bisa kembali pada senyum riang dan tawa renyahmu.
Tanpa sadar
kita akhirnya sama-sama terjebak pada kecanduan saling mencari untuk dapat kabar
satu sama lain. Bahkan kita sering berkerumun dengan waktu mempertengkarkan
kabar yang tak kita dapati. Akhirnya seperti pemicu detak jantung, kabar serasa
sangat dibutuhkan. Dia harus ada. Tanpa kabar darimu serasa aku tak memiliki
detak jantung, tentu bisa kau bayangkan bila jantung tak berdetak. Sepi.
Rindu
mengelitik-gelitik benakku. Ada apa ini? Aku mulai tergesa-gesa ingin
mempermainkan waktu agar rindu ini sedikit bisa berkompromi. Aku takut jika kau terjebak dalam kerangkeng kebosanan.
Dan waktu mempermainkan kita seperti permainan ular tangga yang kadang membuat
kita naik sejauh mungkin dengan tiba-tiba juga bahkan akan jatuh serendah
mungkin dengan tiba-tiba pula.
Aku
benar-benar takut jika kau bosan. Bosan itu seperti mata pisau yang siap
menggorok batang leher hingga nadiku menyemburkan darah dan akhirnya mungkin
aku akan menghembuskan nafas terakhir atau juga sekarat dalam luka yang
mengerikan. Aku bisa membayangkan betapa mengerikanya jika kau bosan. Betapa sakitnya sekarat dalam luka yang seperti itu.
Untuk
sementara begini saja, izinkan aku bermain-main dengan waktu hingga aku
benar-benar terperangkap dalam jalan panjang di masa lalumu. Tidak rumit, kita
pelan-pelan saja mengeja masa lalumu. Aku akan memotretnya sebagai memori
penyimpan. Kita kunjungi hal-hal yang mungkin menjejak di ingatan atau
perasaanmu. Kalau bisa, aku ingin bertandang ke mulut orang-orang yang
menyaksikan kau lahir dan tumbuh menjadi wujud yang kini ada di dalam hariku.
Mulut
orang-orang adalah saksi bersuara yang akan mengajakku pada hal yang mungkin
luput dari ingatan dan perasaanmu. Kadang kita memang membutuhkannya untuk
suatu kondisi dan alasan tentunya. Meski kadang mulut orang tidak seperti
harapan kita yang kadang bisa membuat kita tercengang menganga bahkan memancing
kemarahan yang tidak diharapkan.
“Masa lalu
itu taik. Kau akan muntah jika mengaduk-aduknya, apalagi ingin menyentuhnya.
Lebih baik jangan kau apakan dan biarkan saja begitu adanya di belakang.”
“Tapi aku
ingin tahu tentang kamu. Aku sangat ingin mengenalimu. Untuk itu, ya aku harus
tahu gimana kamu di dahulunya. Setidaknya aku ingin memahamimu dan tidak lagi
menyalah-yalahkan kamu seenak rudalku jika kamu bersikap padaku. Hanya itu. Dan
juga aku tak mau sendiri tanpa kamu. Ini akan lebih menyakitkan jika aku tidak
lagi bersama kamu. Lihat sendirikan gimana kita berantem dan berjauhan. Itu
makanya aku ingin tahu kamu. Aku ingin main-main ke tempat kamu lahir dan
tumbuh besar. Sebulan aja cukup. Kalau aku gak kuat, aku bakal nyerah dan
nuruti apa mau dan katamu.”
“Ingin tahu
tentang aku tidak perlu juga mencukil bisul masa lalu. Cukup saja kita jalani
hari-hari seperti biasa lalu nikmati. Lambat laun kau akan mengenaliku dengan
cara dan sudut matamu sendiri. Jangan dipaksa seperti ini. Ini sama saja kau
mendarahi diri sendiri. Berhenti bunuh diri dan tetaplah semanis biasa.”
“Aku tak
mau kehilangan kamu.”
“Aku juga,
makanya jangan bertingkah konyol yang membuat aku nantinya muak. Jangan sampai
kekonyolanmu ini yang memisahkan kita. Baik-baik sajalah.”
“Tapi aku
tetap ingin mengenal kamu. Bagaimana mungkin aku akan memahami kamu jika aku
tidak tahu bagaimana keras juang kamu melalui hidup dan langkah apa saja yang
telah kau lewati. Aku ingin mengenal kamu.”
“Terserah!
Aku sudah bicara baik-baik, sekarang terserah kamu.”
“Jangan
gitu donk. Aku hanya gak ingin kamu meladeni perempuan itu, apapun alasanya.”
***
Aku hilang rasa. Ini sangat membosankan. Hal yang terus-menerus
berulang dan tak pernah mau sedikitpun berkompropi. Merasa benar sendiri. Aku
capek terus-terusan begini. Makin bertahun-tahun ini dijalani malah makin
membuat aku hilang rasa. Aku capek. Dia tak lagi mengerti dan selalu saja
menuntut untuk dimengerti. Aku benar-benar capek.
Siapapun
akan mencari tempat ternyaman untuk bersandar jika sedang dalam situasi yang
buruk, tapi tidak tertutup kemungkinan jika dalam situasi terbaik pun. Tentu
saja tempat ternyaman itu bukan sembarangan saja. Apa yang kau rasa jika
milikmu atau tempat ternyamanmu untuk bersandar diambil orang, setidaknya
dilirik orang untuk digunakan? Pertanyaan ini tentu kutanyakan dalam situasi
kau sebagai manusia yang hidup dengan akal dan nafsu. Bukan pada kemunafikan
yang berlagak bijak tentunya. Aku yakin kau setuju denganku, bahwa kita tak mau
kehilangan. Hal yang wajar jika ada rasa takut kehilangan yang bersemayam di
diri seseorang. Karena kehilangan adalah luka (mungkin) kecil yang akan
menggerayangi sekujur tubuh.
Kahilangan
adalah denyut duri dalam daging yang bisa melumpuhkan. Kehilangan adalah cakar
kehidupan yang akan menerkam melebihi terkaman yang paling tajam sekalipun.
Kehilangan adalah beling yang akan menelanjangi hingga luka menjadi muara yang
paling nyata untuk kesaksian.
Tempat
bersandar. Wah, terasa menyesakkan sekali saat aku membayangkan masa kehilangan
karena milikku akan direngguk orang lain walau hanya dalam rentang waktu yang
singkat sekalipun.
Apa sudah makan? Sedang sibuk apa? Aku lagi badmood nih.
Seharian suntuk gak ada kerjaan. Apalagi jika ingat yang bikin muak, gak tahu
pengen ngapain. Nyesaknya minta ampun. Kalau begini terus aku bisa mati dalam
kecapekan.
Tempat
ternyaman yang biasanya digunakan sebagai bersandar-pelarian ini benar-benar
bakal membuat aku tidak bisa lagi bersandar. Mana bisa satu sandaran disandari
oleh banyak yang menyandar. Bayangin aja tempat sandaran kursi yang memiliki
kapasitas satu orang yang harus dibagi. Belum lagi ukuran badan yang tak sama
akan membuat bagian akan berat sebelah dan tentu akan membuat tersingkir bagian
yang hanya mendapat bagian kecil.
***
“Mereka
selalu begitu, Sayang. Dari dulu jika terjadi apa-apa selalu ke aku tempat
hempasannya. Jadi jangan diambil hati. Biarkan saja.”
“Biarkan
saja? Jangan diambil hati? Enteng sekali.”
“Ya musti gimana
lagi? Mereka temanku dari sejak lama.”
“Lalu
kenapa jika mereka temanmu sejak lama? Bisa seenaknya begini? Lah, gimana
dengan aku? Aku bukan bagian darimu sejak lama, bagaimana?”
“Aduh,
jangan diperumit. Yang penting tidak ada yang harus kamu cemaskan. Anggap saja
tidak ada apa-apa. Beres.”
“Enteng
sekali! Jika aku tidak tahu dan tidak melihatnya, mungkin aku bisa diam dan
seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi aku tahu. Kalau aku bisa berpura-pura tidak
tahu, jaminan apa yang bisa kamu janjikan hingga aku tidak merasa sakit.”
“Sudahlah!
Itu bukan bahan bahasan yang harus membuat kita ribut. Aku capek terus-terusan
berdebat karena kecemburuanmu yang tak jelas ini.”
“Tak jelas?
Capek? Karena tak jelas dan ini membuat kamu capek, lantas aku harus membiarkan
kamu putuskan untuk bersenang-senang dengan dia?”
“Bersenang-senang
gimana? Jangan menuduh yang bukan-bukan. Apa hubungannya?”
“Kamu
sendiri yang bilang perselingkuhan itu adalah ajang mencari kesenangan. Ingat
gak?”
“Kamu
menuduh aku selingkuh?”
***
Rindu
mengelitik-gelitik benakku. Ada apa ini? Aku mulai tergesa-gesa ingin
mempermainkan waktu agar rindu ini sedikit bisa berkompromi. Aku takut jika kau terjebak dalam kerangkeng kebosanan.
TJ_Padang, 11-20 November 2014
*Maira
Eka Sari, penulis dan pemerhati kasus budaya dan sastra. Tinggal di
Padang-Sumatra Barat. Menulis cerita, puisi dan opini.
Beberapa tulisan telah dibukukan dalam antologi bersama dan dimuat di beberapa
media masa. Sekarang aktif di ruang diskusi dan dokumentasi Tubuh Jendela di
Padang.