Cerita Maira Eka Sari
Aku tak terbiasa
memanggilnya layaknya orang lain melakukan hal itu pada perempuan yang
melahirkannya. Tak ada kekakuan ataupun kecanggungan, malah aku menikmati. Dari
kecil aku selalu diajarkan bagaimana menjauhinya dan kurasa diapun menerima hal
yang tersebut hingga hari ini, dengan berbagai alasan yang tak pernah aku tahu.
Ya, hingga hari ini. Hari ulang tahunku dan hari yang semua orang merayakan
harinya.
Aku selalu ada
cara untuk tidak memakai kata saapan saat harus bicara dengannya. Ya, tidak banyak hal yang membuat aku harus bicara atau berhubungan dengannya. Kebiasaan yang telah dibiasakan ayah dari aku kecil seperti telah pasa di hari-hariku. Ini terjadi antara aku dan perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Perempuan yang kata orang selalu menggendongku dalam perutnya kemanapun ia pergi selama sembilan bulan, aku tak tahu lebih atau kurang berapa. Serta menyusuiku siang malam setelah yang kuasa menghembuskan aku sesuatu pada tubuhku, hingga aku bisa menjalani semua hal. Termasuk hal antara aku dan dia, perempuan yang selama ini tak pernah aku menggunakan sapaan padanya.
cara untuk tidak memakai kata saapan saat harus bicara dengannya. Ya, tidak banyak hal yang membuat aku harus bicara atau berhubungan dengannya. Kebiasaan yang telah dibiasakan ayah dari aku kecil seperti telah pasa di hari-hariku. Ini terjadi antara aku dan perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Perempuan yang kata orang selalu menggendongku dalam perutnya kemanapun ia pergi selama sembilan bulan, aku tak tahu lebih atau kurang berapa. Serta menyusuiku siang malam setelah yang kuasa menghembuskan aku sesuatu pada tubuhku, hingga aku bisa menjalani semua hal. Termasuk hal antara aku dan dia, perempuan yang selama ini tak pernah aku menggunakan sapaan padanya.
Seingatku, tak
ada aku membubuhi panggilan ibu, umi, mama, bunda, dan segala macamnya saat aku
harus berbicara dengannya. Tak ada sedikitpun tinggal diingataku. Tapi ntahlah,
aku tak pernah peduli.
Tadi sudah
kukatakan, hari ini hari ulang tahunku. Sembilan belas kali sebelumnya
seingatku tak ada yang spesial dari hari mengenang hari lahirku ini. Tapi ada
semacam rutinitas yang di lakukan lelaki yang selalu aku panggil ayah. Katanya
semacam pesta perayaan yang tak pernah mengesankan hatiku. Kami selalu pergi
seharian menghabiskan waktu untuk hal yang kami suka berdua dan pulang tengah
malam bahkan tak jarang saat subuh datang. Yang jelas, biasanya seharian aku
tak bertemu ataupun bagaimana dengan perempuan yang dulu melahirkanku dari
rahimnya. Kali ini berbeda.
Ayah sudah seminggu
di rawat di rumah sakit. Detak jantungnya yang semakin tak menentu menahannya
untuk menginap di wilayah yang pada umumnya berwarna putih dan orang-orang
selalu bersikap ramah, itu yang kurasa. Aku dari semalam tamapknya betah di
rumah. Menikmati setiap detik yang berlalu dengan mendengarkan musik di ruang
keluarga, hal yang sangat jarang aku lakukan.
Aku jarang
sekali di rumah. Rumah bagiku hanya tempat menginap dan selainnya sering aku lakukan
di luar, kadang termasuk mandi dan makan. Ya, kebiasaan yang selalu dibasakan
ayah untuk aku jalani. Kehidupan di luar rumah rasanya ada sahabat yang paling
setia kemarin yang kurasa.
Tidak, aku tidak
bermasalah dengan rumah. Rumah yang dibeli ayahku setahun sebelum aku lahir ini
sangat nyaman. Semua perlengkapan cukup disediakan ayah. Tak ada yang salah
dengan rumah, meski tanpa suara ribut bocah-bocah dan tanpa panggilan dariku
untuk perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Rumah selalu rapi, dan tak ada
hal yang membuat aku bermasalah dengan rumah. Tapi kebiasaan yang sejak dulu
dibiasakan ayah padaku tidak bisa diraih begitu saja oleh rumah yang tanpa
masalah ini.
***
Tadi, kira-kira
sejam sebelum adzan subuh, aku mendengar salah satu pintu di rumahku berbunyi
tersendat. Itu tanda pintu sedang dibuka atau ditutup. Biasanya yang bunyi agak
tersendat itu pintu kamar belakang, tempat perempuan yang melahirkanku dari
rahimnya. Seingatku pintu itu begitu karena pernah suatu kali pintu itu tak
bisa di buka. Tak pernah benar-benar betul setelah di perbaiki. Ayah mendobrak
bersama adik ipar temannya yang kebetulan sedang menginap di rumah karena
terperangkap hujan deras saat ia bertamu.
Aku tahu hal ini
sudah biasa terjadi, dan bunyi itu tak terasa menggangu. Tapi kali ini aku terbangun dan tertarik untuk mengintip
sedikit. Tidurku yang kuingat baru beberapa jam karena semalam teman-temanku
berdatangan dan baru pulang jam dua dini hari tadi tak bisa aku teruskan. Aku
memperhatikan yang dilakukan perempuan yang dulu pernah melahirkanku dari
rahimnya.
Pertama dia merapikan
semua yang berserakan di ruang tamu. Itu bekas ulahku dan teman-teman semalam.
Sampah kulit kacang yang berhambur ke sana- kemari hingga ke balik sofa, bekas bungkus dan kaleng minuman serta
bungkus-bungkus yang lain termasuk bungkus rokok dirapikannya. Di rumah ini, ku
tak pernah merapikanya apapun, itu seingatku.
Setelah ruang
tamu bersih lalu ia pergi ke dapur, tentu juga merapikan dapur dan aku melihat
ia masih bolak balik ke ruang tamu. Melatakkan asbak rokok yang tadi dibawanya
ke belakang, serta menyusun beberapa benda yang seharusnya diletakkan di ruang
tamu. Sedangkan aku masih mengintipnya dari balik daun pintuku yang dari
semalam tidak tertutup rapat. Kurasa ia tidak tahu.
Tak lama
kemudian, adzan berkumandang dan aku lihat ia bersegera mandi. Sehabis itu ia
pergi ke kamarnya dan lama baru keluar. Dengan berjalan hari-hati dan begitu
pelan, aku menghampiri pintu kamarnya yang juga tidak ditutup rapat.
Kusaksikan,
tubuh pipihnya silih berganti mengulangi tegak lurus, rukuk, tegak lurss, sujud,
duduk, dan kembali tegak lurus, gerakan shalat. Setelah salam, lama sekali ia
menengadahkan tangan dan aku dengar ia terisak dan tubuhnya terlihat
bergoncang. Aku hanya memperhatikan.
***
Sampai siang ini
aku masih di rumah, perempuan yang dulu pernah melahirkanku dari rahimnya juga.
Sepertinya dia tidak pergi membesuk ayah hari ini. Tak ada tanda-tanda yang
menunjukkan ia akan pergi. Biasanya kalau iya, dia akan siap menyediakan segala
sesuatu dari pagi. Aku juga tidak berniat untuk bertanya.
Dia terlihat
sibuk dari beberapa jam yang lalu di dapur, dan aku tidak lagi memperhatikan
apa yang ia lakukan. Hanya terdengar sedikit bising dan aroma sedap dari dapur.
Tapi itu menurutku sudah biasa. Dia yang hebat memasak makanan, selalu beraroma
sedap. Rutinitas di dapur memang selalu begitu, dendang kuali dan sendoknya,
atau gelas dengan piring dan alat alat lain yang bersenggolan membentuk irama
sesukanya. Sedikit terdengar bising, aku tidak merasa terganggu.
Di tv, hari ini
sedang berlangsung acara kesukaanku dari jam sepuluh pagi tadi. Aku asyik saja
menyaksikannya. Sambil mengemil, mataku tak luput dari acara tv yang mebuatku
terkadang tertawa terbahak-bahak, geram bahkan juga haru. Mungkin karena ini
aku betah di rumah, tapi aku masih kurang yakin alasan utama kenapa aku di
rumah hari ini selain ayah yang tidak mengajak pergi. Agh, aku sedang mencoba
menikmati.
“Sudah waktunya
makan siang, An. Cucilah tanganmu, lalu kita makan.” Tiba-tiba ia perempuan
yang dulu melahirkanku dari rahimnya memecahkan keasyikanku menyaksikan acara
kesukaanku.
“Ya, bentar
lagi. Tapi kalau udah lapar, makan aja dulu.” Aku menoleh sekilas dan kembali
melanjutkan keasyikanku yang sempat terganggu beberapa menit.
Dia tidak
melakukannya. Usai memandangku sebentar, ia pergi ke kamarnya dan keluar dengan
membawa sesuatu. Itu sekilas tampak dari sudut mataku yang masih asyik dengan
acara kesukaanku.
Beberapa menit
berlalu, dan akhirnya acara itu usai juga dengan menyisakan geram di hatiku.
Kenapa tidak, ternyata penutupnya tidak memukai seperti yang dikilaskan di
iklan. Begitulah acara tv, gerutuku.
Sembari
melangkah ke belakang untuk membersihkan tanganku, aku melirik sepintas ke meja
makan. Hmm, seperti biasa masakan yang enak dengan aroma yang selalu menggoda.
***
Usai makan aku
langsung masuk ke kamarku tanpa melakukan dan berkata apa-apa. Kemudian asyik
dengan komputer baru yang dibelikan ayah sehari sebelum ia masuk rumah sakit.
Begitulah, sekali setahun ayah mengganti beberapa alat yang sering digunakan di
rumah. Ayah paling tidak suka saat di butuhkan alat itu malah berulah, makanya
ayah selalu mengganti meski masih layak pakai.
Asyik
mengutak-atik komputer dan menikmati alunan rappnya Bondan Prakoso & Fade2Black, tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk.
“Ya…” Aku
menjawab sekenanya saja.
“Pintu tak di
kunci,” lanjutku lagi. Begitulah di rumah, pintu jarang di kunci bahkan tidak
pernah sama sekali, termasuk kamar ayah.
“Lagi sibuk,
An?”
“Tidak.” Aku
melangkah ke luar dan mengikutinya ke ruang keluarga. Ternyata di sana ada
kotak yang tadi dikeluarkannya dari kamar saat aku sedang asyik menyaksikan
acara kesukaanku. Kotaknya cukup besar dan terbungkus rapi.
Dan aku
menatapnya lekat.
“Hari ini,
kurang lebih sepuluh menit yang lalu tepat sudah dua puluh tahun usiamu.” Aku
hanya diam, lebih tepatnya tertegun mungkin.
“Andiny, aku
pernah berjanji padanya. Aku akan menyudahinya saat usiamu sudah dua puluh
tahun dan memberikan ini padamu. Karena aku merasa kau sudah selayaknya
menerima. Ini beberapa barang miliknya. Simpanlah.” Lalu ia menggenggam
tanganku.
“Izinkan aku
memeluk dan menciummu untuk kali ini, Andiny.” Ia berbisik lirih, dan mengurai
air mataku yang hanya mengaliri palung hatiku.
Padang, Desember 2010
Biodata:
Maira
Eka Sari lahir di tanah bako Katimaha Simp. Empat, 5 mei 1989. Dan tumbuh
remaja di Kubang Tungkek Kab. 50 Kota. Aktif di kegiatan bersama Tubuh Jendela.
Beberapa karya sudah diterbitkan dalam buku dan di media.