CERPEN | AKU DAN PEREMPUAN YANG MELAHIRKANKU DARI RAHIMNYA DI HARI KE DUA PULUH TAHUNKU


Cerita Maira Eka Sari

Aku tak terbiasa memanggilnya layaknya orang lain melakukan hal itu pada perempuan yang melahirkannya. Tak ada kekakuan ataupun kecanggungan, malah aku menikmati. Dari kecil aku selalu diajarkan bagaimana menjauhinya dan kurasa diapun menerima hal yang tersebut hingga hari ini, dengan berbagai alasan yang tak pernah aku tahu. Ya, hingga hari ini. Hari ulang tahunku dan hari yang semua orang merayakan harinya.

Aku selalu ada
cara untuk tidak memakai kata saapan saat harus bicara dengannya. Ya, tidak banyak hal yang membuat aku harus bicara atau berhubungan dengannya. Kebiasaan yang telah dibiasakan ayah dari aku kecil seperti telah pasa di hari-hariku. Ini terjadi antara aku dan perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Perempuan yang kata orang selalu menggendongku dalam perutnya kemanapun ia pergi selama sembilan bulan, aku tak tahu lebih atau kurang berapa. Serta menyusuiku siang malam setelah yang kuasa menghembuskan aku sesuatu pada tubuhku, hingga aku bisa menjalani semua hal. Termasuk hal antara aku dan dia, perempuan yang selama ini tak pernah aku menggunakan sapaan padanya.

Seingatku, tak ada aku membubuhi panggilan ibu, umi, mama, bunda, dan segala macamnya saat aku harus berbicara dengannya. Tak ada sedikitpun tinggal diingataku. Tapi ntahlah, aku tak pernah peduli.

Tadi sudah kukatakan, hari ini hari ulang tahunku. Sembilan belas kali sebelumnya seingatku tak ada yang spesial dari hari mengenang hari lahirku ini. Tapi ada semacam rutinitas yang di lakukan lelaki yang selalu aku panggil ayah. Katanya semacam pesta perayaan yang tak pernah mengesankan hatiku. Kami selalu pergi seharian menghabiskan waktu untuk hal yang kami suka berdua dan pulang tengah malam bahkan tak jarang saat subuh datang. Yang jelas, biasanya seharian aku tak bertemu ataupun bagaimana dengan perempuan yang dulu melahirkanku dari rahimnya. Kali ini berbeda.

Ayah sudah seminggu di rawat di rumah sakit. Detak jantungnya yang semakin tak menentu menahannya untuk menginap di wilayah yang pada umumnya berwarna putih dan orang-orang selalu bersikap ramah, itu yang kurasa. Aku dari semalam tamapknya betah di rumah. Menikmati setiap detik yang berlalu dengan mendengarkan musik di ruang keluarga, hal yang sangat jarang aku lakukan.

Aku jarang sekali di rumah. Rumah bagiku hanya tempat menginap dan selainnya sering aku lakukan di luar, kadang termasuk mandi dan makan. Ya, kebiasaan yang selalu dibasakan ayah untuk aku jalani. Kehidupan di luar rumah rasanya ada sahabat yang paling setia kemarin yang kurasa.

Tidak, aku tidak bermasalah dengan rumah. Rumah yang dibeli ayahku setahun sebelum aku lahir ini sangat nyaman. Semua perlengkapan cukup disediakan ayah. Tak ada yang salah dengan rumah, meski tanpa suara ribut bocah-bocah dan tanpa panggilan dariku untuk perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Rumah selalu rapi, dan tak ada hal yang membuat aku bermasalah dengan rumah. Tapi kebiasaan yang sejak dulu dibiasakan ayah padaku tidak bisa diraih begitu saja oleh rumah yang tanpa masalah ini.
***

Tadi, kira-kira sejam sebelum adzan subuh, aku mendengar salah satu pintu di rumahku berbunyi tersendat. Itu tanda pintu sedang dibuka atau ditutup. Biasanya yang bunyi agak tersendat itu pintu kamar belakang, tempat perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Seingatku pintu itu begitu karena pernah suatu kali pintu itu tak bisa di buka. Tak pernah benar-benar betul setelah di perbaiki. Ayah mendobrak bersama adik ipar temannya yang kebetulan sedang menginap di rumah karena terperangkap hujan deras saat ia bertamu.

Aku tahu hal ini sudah biasa terjadi, dan bunyi itu tak terasa menggangu. Tapi kali ini  aku terbangun dan tertarik untuk mengintip sedikit. Tidurku yang kuingat baru beberapa jam karena semalam teman-temanku berdatangan dan baru pulang jam dua dini hari tadi tak bisa aku teruskan. Aku memperhatikan yang dilakukan perempuan yang dulu pernah melahirkanku dari rahimnya.

Pertama dia merapikan semua yang berserakan di ruang tamu. Itu bekas ulahku dan teman-teman semalam. Sampah kulit kacang yang berhambur ke sana- kemari hingga ke balik  sofa, bekas bungkus dan kaleng minuman serta bungkus-bungkus yang lain termasuk bungkus rokok dirapikannya. Di rumah ini, ku tak pernah merapikanya apapun, itu seingatku.

Setelah ruang tamu bersih lalu ia pergi ke dapur, tentu juga merapikan dapur dan aku melihat ia masih bolak balik ke ruang tamu. Melatakkan asbak rokok yang tadi dibawanya ke belakang, serta menyusun beberapa benda yang seharusnya diletakkan di ruang tamu. Sedangkan aku masih mengintipnya dari balik daun pintuku yang dari semalam tidak tertutup rapat. Kurasa ia tidak tahu.

Tak lama kemudian, adzan berkumandang dan aku lihat ia bersegera mandi. Sehabis itu ia pergi ke kamarnya dan lama baru keluar. Dengan berjalan hari-hati dan begitu pelan, aku menghampiri pintu kamarnya yang juga tidak ditutup rapat.

Kusaksikan, tubuh pipihnya silih berganti mengulangi tegak lurus, rukuk, tegak lurss, sujud, duduk, dan kembali tegak lurus, gerakan shalat. Setelah salam, lama sekali ia menengadahkan tangan dan aku dengar ia terisak dan tubuhnya terlihat bergoncang. Aku hanya memperhatikan.
***

Sampai siang ini aku masih di rumah, perempuan yang dulu pernah melahirkanku dari rahimnya juga. Sepertinya dia tidak pergi membesuk ayah hari ini. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan ia akan pergi. Biasanya kalau iya, dia akan siap menyediakan segala sesuatu dari pagi. Aku juga tidak berniat untuk bertanya.

Dia terlihat sibuk dari beberapa jam yang lalu di dapur, dan aku tidak lagi memperhatikan apa yang ia lakukan. Hanya terdengar sedikit bising dan aroma sedap dari dapur. Tapi itu menurutku sudah biasa. Dia yang hebat memasak makanan, selalu beraroma sedap. Rutinitas di dapur memang selalu begitu, dendang kuali dan sendoknya, atau gelas dengan piring dan alat alat lain yang bersenggolan membentuk irama sesukanya. Sedikit terdengar bising, aku tidak merasa terganggu.

Di tv, hari ini sedang berlangsung acara kesukaanku dari jam sepuluh pagi tadi. Aku asyik saja menyaksikannya. Sambil mengemil, mataku tak luput dari acara tv yang mebuatku terkadang tertawa terbahak-bahak, geram bahkan juga haru. Mungkin karena ini aku betah di rumah, tapi aku masih kurang yakin alasan utama kenapa aku di rumah hari ini selain ayah yang tidak mengajak pergi. Agh, aku sedang mencoba menikmati.

“Sudah waktunya makan siang, An. Cucilah tanganmu, lalu kita makan.” Tiba-tiba ia perempuan yang dulu melahirkanku dari rahimnya memecahkan keasyikanku menyaksikan acara kesukaanku.

“Ya, bentar lagi. Tapi kalau udah lapar, makan aja dulu.” Aku menoleh sekilas dan kembali melanjutkan keasyikanku yang sempat terganggu beberapa menit.

Dia tidak melakukannya. Usai memandangku sebentar, ia pergi ke kamarnya dan keluar dengan membawa sesuatu. Itu sekilas tampak dari sudut mataku yang masih asyik dengan acara kesukaanku.

Beberapa menit berlalu, dan akhirnya acara itu usai juga dengan menyisakan geram di hatiku. Kenapa tidak, ternyata penutupnya tidak memukai seperti yang dikilaskan di iklan. Begitulah acara tv, gerutuku.

Sembari melangkah ke belakang untuk membersihkan tanganku, aku melirik sepintas ke meja makan. Hmm, seperti biasa masakan yang enak dengan aroma yang selalu menggoda.
***

Usai makan aku langsung masuk ke kamarku tanpa melakukan dan berkata apa-apa. Kemudian asyik dengan komputer baru yang dibelikan ayah sehari sebelum ia masuk rumah sakit. Begitulah, sekali setahun ayah mengganti beberapa alat yang sering digunakan di rumah. Ayah paling tidak suka saat di butuhkan alat itu malah berulah, makanya ayah selalu mengganti meski masih layak pakai.

Asyik mengutak-atik komputer dan menikmati alunan rappnya Bondan Prakoso & Fade2Black, tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk.

“Ya…” Aku menjawab sekenanya saja.

“Pintu tak di kunci,” lanjutku lagi. Begitulah di rumah, pintu jarang di kunci bahkan tidak pernah sama sekali, termasuk kamar ayah.

“Lagi sibuk, An?”

“Tidak.” Aku melangkah ke luar dan mengikutinya ke ruang keluarga. Ternyata di sana ada kotak yang tadi dikeluarkannya dari kamar saat aku sedang asyik menyaksikan acara kesukaanku. Kotaknya cukup besar dan terbungkus rapi.

Dan aku menatapnya lekat.

“Hari ini, kurang lebih sepuluh menit yang lalu tepat sudah dua puluh tahun usiamu.” Aku hanya diam, lebih tepatnya tertegun mungkin.

“Andiny, aku pernah berjanji padanya. Aku akan menyudahinya saat usiamu sudah dua puluh tahun dan memberikan ini padamu. Karena aku merasa kau sudah selayaknya menerima. Ini beberapa barang miliknya. Simpanlah.” Lalu ia menggenggam tanganku.

“Izinkan aku memeluk dan menciummu untuk kali ini, Andiny.” Ia berbisik lirih, dan mengurai air mataku yang hanya mengaliri palung hatiku.

Padang, Desember 2010

Biodata:
Maira Eka Sari lahir di tanah bako Katimaha Simp. Empat, 5 mei 1989. Dan tumbuh remaja di Kubang Tungkek Kab. 50 Kota. Aktif di kegiatan bersama Tubuh Jendela. Beberapa karya sudah diterbitkan dalam buku dan di media.