Cerita Maira Eka Sari
Ibu bekerja
untuk menafkahi aku anaknya yang cacat dan hari-hari hanya terkulai lemah di
atas kursi roda. Dengan modal dari seseorang, ibu membanting tulang menafkahi
aku dan memenuhi obat yang kubutuhkan untuk tetap bertahan hidup dan ada
sebagai penyemangat hidup ibu. Ibu menahan kantuk dan mengabaikan lelahnya
untuk tetap bekerja. Tapi, semalam tempat bekerja ibu di bakar dan ibu
ditelanjangi oleh para pendemo. Kata Mak Ngah, mereka pendemo adalah
orang-orang yang mengutuk dan menghina pekerjaan ibu.
*****
Sejak ayah
pergi, semuanya berubah dan berantakan selama dua tahun. Ibu kelabakan dan
sangat-sangat terguncang. Tidak menemaniku juga tidak mengurusi dirinya. Kami
berdua hidup dalam belas kasihan Mak Ngah yang hari-hari ada untuk kami. Dengan
penghasilannya yang jauh dari cukup, Mak Ngah menghidupi aku dan ibu. Ibu yang
seperti mayat hidup dan aku yang hanya diam di kursi roda pembelian ayah benar-benar
terlunta-lunta sebelum kedatangan seseorang menemui kami, tepatnya ibu.
“Sampai kapan
kau akan begini? Mau ataupun tidak kau harus tetap menjalaninya dan bangkit
dari semua kondisi ini. Kasihan anakmu yang sangat membutuhkanmu. Aku yakin kau
bisa menjalani ini semua. Ada anak yang bisa kau jadikan penguat hatimu.
Berhenti meratapi yang telah berlalu. Dua tahun adalah waktu yang lebih dari
cukup.” Dia mencoba untuk membangunkan ibu dari segala yang terjadi dua tahun berlalu.
Dia mencoba mengajak ibu berdiri dan bangkit dari segala apa yang ada di
pikiran dan perasaan ibu selama dua tahun ini. Aku hanya memperhatikan dan
memperhatikan saja. Tak ada yang lain bisa kulakukan dengan kondisi yang
berbeda ini.
Berkali-kali orang
itu datang ke rumah tanpa berjanji terlebih dahulu. Orang itu juga selalu
membawakan makanan saat ke rumah. Sebelumnya aku tak mengenalinya dan ia pun
tak pernah datang ke rumah saat ayah masih ada. Tapi kelihatannya ibu sangat
dekat dengannya. Ibu berespon saat orang itu berbicara padanya, respon ibu baik
berbeda dengan respon untuk orang lain dan juga untukku.
Semenjak orang
itu datang ke rumah, ibu jadi tahu mandi, tahu makan dan tahu membereskan
rumah, meskipun perlakukan padaku masih sama saat selama dua tahun yang telah
berlalu. Hanya Mak Ngah yang selalu mengurusiku. Ibu seolah seperti tak
mengenali aku.
*****
Siang itu ibu dibawanya
jalan-jalan keluar. Tidak begitu lama dan ibu kembali dengan membawa banyak
bungkusan. Dan satu bungkus ia berikan padaku. Itu kali pertama ia mulai
menganggap keberadaanku.
“Nanti minta Mak
Ngak memasangkan padamu.” Kemudian ibu berlalu ke kamarnya dengan bawaannya.
Beberapa saat aku tercengang dengan kodisi yang begitu mengagetkan, ibu
menghampiriku.
“Besok Ibu akan
bekerja. Kau tinggal dulu dengan Mak Ngah kalau ibu pergi bekerja.” Aku
menatapi ibu begitu lekat dalam segudang tanya yang membuat aku terheran.
“Ibu akan
berjualan. Pak Wali meminjamkan ibu modal untuk memulai usaha ibu.” Ia seolah
telah seperti sebelum dua tahun yang berlalu. Ia kembali bicara padaku dan
mengerti dengan segala raut wajah juga gerak-gerik tingkahku.
“Sebenarnya ibu
ragu dengan semua ini, tapi apa boleh buat. Mau atau tidak kita harus menjalani
ini semua hingga akhir dan tidak boleh mengakhirinya lebih awal. Kepergian ayah
bukan akhir dari segalanya.”
Aku
memperhatikan raut wajah ibu yang kembali hidup. Aku kembali merasakan tatapan
dan senyum itu meski baru samar-samar. Setidaknya ini cukup melegakan, meskipun
aku tak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. Ibu akan menceritakannya,
mungkin nanti.
*****
Akhirnya ibu
bekerja. Orang-orang menghina pekerjaan ibu dan juga mengutuk ibu. Setiap hari
ibu hidup dalam kutukan dan hinaan semenjak ia mulai bisa menafkahiku setelah
kepergian ayah. Dua tahun lamanya kami terluntang-lantung karena di tinggal
ayah yang secara tiba-tiba. Biasanya segala kebutuhan selalu dipenuhi ayah dan
ibu sangat jarang keluar rumah. Beliau hari-hari hanya menemani aku dan
melayani ayah. Tak ada yang lain.
Pekerjaan ibu
berjualan. Orang-orang mengatakan tempat jualan ibu adalah pondok baremoh. Aku
tidak tahu apa itu. Yang aku tahu, ibu menggelar tenda bersama dengan beberapa
temannya yang lain di sepanjang tepi pantai. Ibu memiliki tenda 5 buah yang
bisa disewa oleh pengunjung yang akan menikmati suguhan alam yang dimiliki
pantai. Setiap pukul 5 sore tenda ibu sudah mulai digelar. Jika waktu sudah
menunjukkan pukul 9, banyak pelanggan yang datang dan memesan tenda untuk
direndahkan. Awalnya ibu sungkan memenuhinya, tapi akhirnya ia menuruti juga.
Semua ini cerita Mak Ngah, karena aku belum pernah pergi ke tempat ibu
berjualan. Mak Ngah selalu menceritakan apa yang ia tahu padaku, alasannya ia
hanya ingin berbagi dan tidak memendam sendiri apa yang di perasaan dan
perkiraannya.
“Ibumu sekarang
dalam kesulitan. Kasihan dia. Dia hanya menjadi korban dari dendam dan
keserakahan seseorang yang dulu pernah mencintainya dengan segenap hati. Karena
pilihan ibumu jatuh pada ayahmu dan di tambah lagi dengan kehancuran karirnya
yang bersamaan dengan pilihan ibumu, dia menjadi seseorang yang biadap.
Benar-banar biadap dan dibutakan. Kasihan ibumu.” Mak Ngah menangis dalam
isaknya yang tertahan.
“Karena aku
menyayangi ibumu dan laki-laki itu, aku pernah menawarkan diri sebagai penebus
kesahan ibumu pada lelaki itu. Tapi apa yang terjadi, ia menikahiku dan
kemudian membuangku begitu saja setelah sebulan pernikahan. Ia memilih pergi
dan berjanji kembali dengan segala dendam yang dibawanya. Kematian ayahmu yang
tidak diketahui sebabnya oleh ibumu sebenarnya adalah penebus pilihan ibumu
dulu. Kedatangannya yang tiba-tiba semata dendam pada ibumu dan orang-orang
yang dulu menghancurkan karirnya. Kini ia jadikan kekayaan dan kekuasaan yang
dimilikinya untuk menindas orang-orang yang ia benci. Aku benar-benar muak
dengan apa yang telah ia lakukan. Menikah dengannya semata-mata ingin
menghalangi ini semua terjadi, tapi ternyata dayaku tak cukup. Maafkan aku,
Nak.” Mak Ngah yang selama ini kukenal sebagai seorang janda pendiam hanya
selalu bercerita padaku yang tak mampu menimpali sedikitpun membuat aku
terkejut kali ini. Di luar kuasa dan kendaliku, aku tak sengaja melayangkan
tanganku ke Mak Ngah. Ia terkejut melihat responku.
“Kau marah?
Maafkan aku. Aku hanya perempuan lemah yang tak bisa melakukan apa yang
seharusnya aku lakukan. Pukullah aku sesukamu. Aku terima.” Ia meraung-raung
memegangi tanganku yang kembali tak memiliki daya apapun.
“Sekarang ibumu,
sahabat karibku, sedang di perdaya oleh biadap yang ditubuhnya hanya bersarang
dendam, aku tak bisa melakukan perbuatan apapun yang bisa membantunya.” Isak
Mak Ngah menjadi-jadi hingga akupun ikut menangis dan menelan kegetiran ini.
*****
“Kabarnya razia
akan di gelar. Aku tidak mau berjualan untuk beberapa hari ini.”
“Apa? Beberapa
hari kamu tidak berjualan? Apa kamu bodoh? Berapa keuntungan yang hilang selama
beberapa hari itu. Aku tidak setuju. Kalaupun akan ada razia, kau akan
kukabari.”
“Tapi aku
takut.”
“Jangan mencari
alasan untuk kemalasanmu. Jangan kau turut bermanja-manja seperti semasa
suamimu masih ada. Sekarang sudah berbeda.”
“Jangan kau
bawa-bawa suamiku di sini.”
“Kenapa? Kau
keberatan? Dia sudah pergi dan tak akan kembali. Sekarang kau kembali menjadi
milikku.”
Pertengkaran
tiba-tiba pecah di antara ibu dan orang yang berbama Pak Wali. Mereka
bersitegang dan saling berteriak. Mereka menyebut-nyebut ayah dalam
pertengkaran itu. Ibu berteriak dan terisak melawan dalam pertengkaran itu.
“Aku akan
berhenti berjualan.”
Sebuah tamparan
tiba-tiba mendarat di pipi ibu. Ibu terjerambab.
“Berhenti?
Jangan seenaknya saja kamu mengatakannya. Kau bisa pergi meningggalkan aku dan
pergi menikah secara tiba-tiba dengan suamimu yang memberimu anak cacat tak
berguna, tapi itu dulu. Sekarang kau tak lagi bisa seenaknya, karena kau
sekarang adalah milikku.
TJ – Padang, Maret 2013