CERPEN | APA KABAR KAU LELAKI YANG TAKUT CICAK?


Cerita Maira Eka Sari

Ini entah malam yang ke berapa, yang aku ingat malam-malam belakangan hanya kauselalu ada dalam mimpiku. Kau harus tahu, pacarku saja sampai detik ini setelah beberapa bulan ini jadi pacarku belum pernah menghiasi tidurku.
***

“Apa yang kauletakkan di balik malam ini, Puak? Lihat garis mata dan raut wajahmu tampak lain malam ini. Apakah ada cerita untukku malam ini?”

“Tidak. Aku hanya sedikit lelah dengan siang yang menunggangiku dalam terik serta pengap bau, hingga aku sesak dan beginilah.”

“Agh, kaumencoba menipuku. Bersyairlah sesukamu, tapi kautentu tak bisa bersembunyi di balik syairmu padaku. Sini, rebahkan lelahmu di pundakku dan mulailah bercerita.”

“Maaf. Malam ini aku ingin menopang daguku sendiri. Aku tak boleh terbiasa dengan ada kamu. Sebentar lagi malam akan pergi dan pagi ‘kan menggandengku kembali pada siang. Besok belum tentu malam akan mengizinkanku denganmu.”

“Wew, ada apa denganmu, Puak? Kau tak seperti biasa. Sangat lain. Ceritalah, meski tak kausandarkan lelahmu di bahuku.”

“Kini dan seterusnya kautak akan lagi menjadi bagian dari malamku. Dialog-dialog singkat pun aku ragu akan menjadi pengantar beritakau dalam pesan singkat yang menjadi pengganti dirimu di saat kautak bersamaku. Aih, aku tak tahu harus bagaimana menelusuri peta hari esok.”

“Eit, Puak! Ke mana pergi perempuan yang selama ini selalu berkicau dan ceracau. Ada apa denganmu?”

“Peang, aku rindu petikan gitar serta lirik-lirik lupa darimu. Bisakah kauhadiahkan untukku sebelum kita menutup malam ini dalam keasingan nanti.”

“Puak, tak ada yang bisa meraibkan kelingking berkait kita serta rangkaian cerita malam yang terkadang tak punya spasi. Apapun dan bagaimanapun kondisinya, aku dan kau tetap puak dan peang yang selalu ada dalam ode sajak hingga masa berganti dan meraibkan kita. Jangan takut, kebersamaan yang berspasi panjang ini yang akan mempererat kelingking kita berkait. Karena rindu adalah garis pelekat antara kita hingga bertemu.”

“Banyak yang kauajarkan. Sebelum kelingking pernah berkait di antara kita, hidup bagai garis putus-putus yang aku selalu bingung menjembataninya. Tentang lemah parumu dan detak jantungku yang menjadi mimpi buruk hari kemarin menjadi tali paling kukuh untukku menyatukan hingga jadi satu garis di jalan yang kita namai peta hidup. Ough, Peang! Kau adalah hidup dan cerita yang suatu saat akan tertulis dan tertata rapi dalam sejarah hidupku. Namamu akan menjadi aroma paling segar untuk lembaran nazam yang nanti akan kuwariskan pada sesiapa.”

“Aku akan petikkan gitar ini dan larik pun akan aku bolong-bolongkan agar kauterkesan aku lupa bagian-bagian lariknya. Ingat, Puak! Aku akan selalu ada di setiap malammu bersama hembusan angin malam. Jangan pernah merasa sendiri.”
***

‘Sudah minum air putih, Sayang? Jangan terlalu larut tidurnya. Besok kita jalan lagi ya, Sayang?’ Selalu begitu pacarku dengan setia mengingatkan sebelum tidur. 

‘Sip, Sayang…’ Dengan hati yang sangat bahagia aku membalas pesanya.
***

“Puak, sebelum kita ketemu aku tak mandi.”

“Waw, zufer zeghali.”

“Ada cicak di kamar mandi.”
***

Dan semalam sebelum tidur, aku kembali membalik sajak-sajakmu yang aku print sewaktu kaumasih rajin mengirimi aku ode dalam tag catatan di akun Facebook. Aku menangis dan tersenyum saat membaca setiap rajutan kata yang kaukemas dalam prosa liris, menurutku. Selalu ada yang kaujadikan sajak kemudian megetag di catatan Facebook. Tentang perempuan tua yang menengadahkan tangan saat kita minum di sebuah kafe tepi jalan di depan sebuah mall, tentang kupu, langit, sungai dan segalanya dalam keromantisan dan kegenitan yang tanggung kepalang membuat banyak wanita mabuk kepayang, Peang.

Kepiawaianmu  dalam bersyair romantis menyisa kenang tersendiri di hati pembaca yang selalu rindu sajakmu. Termasuk aku, sekarang aku lagi rindu kaukirimi ode. Jangankan odemu yang datang, kausaja tak pernah mengabariku meski hanya dalam sebuah pesan singkat ke nomor ponselku.  Sampai kapan kauspasi pertemuan kita ini? Mungkinkah rindu ini akan menjadi beku karena terlalu lama berembun dan dingin menjadi kawan paling setia. Agh, tiba-tiba aku jadi kaku bila mengingat kita ketemu nanti. Adakah cerita menjadi cemilan saat kita mengaitkan kelingking dan merangkai cerita dalam malam? Serta bisakah peta perjalanan kita tempuh dengan petikan gitar dan nanti tidak lagi berlarik lupa?

Ini malam menggandeng rinduku padamu dalam tidur usai mengecap sajak-sajakmu juga rayuan manis pacarku melalui ponsel kami yang bertukar pakai.

“Apa kabarmu, Da Peang?”
***

Entah malam yang ke berapa, ini malamkau dalam mimpiku.


Kampuang Dalam – Padang, 041211
*bingkisan rindu untuk sahabatku Reski Kuantan