Oleh: Maira Eka Sari
Membaca
kembali cerpen Robohnya Surau Kami karya AA. Navis mengingatkan kita
tentang bagaimana fungsi keberadaan surau di Minangkabau pada saat sekarang
ini. Bagi masyarakat Minangkabau atau Sumatera Barat pada umumnya surau tidak
saja berfungsi sebagai tempat beribadah atau shalat tetapi sejak dari dulu
sudah menjadi tempat kegiatan masyarakat dalam banyak hal. Mulai dari rapat
atau pertemuan, peringatan hari-hari bersejarah dan kegiatan sosial lainnya.
Surau merupakan sebuah wadah serbaguna bagi masyarakat Minangkabau dahulunya.
Yang tak kalah pentingnya adalah surau dijadikan tempat kegiatan yang edukatif
bagi para remaja putra khususnya dimalam hari, yang diisi dengan
kegiatan-kegiatan bermanfaat.
Di
surau tersebutlah semua kegiatan dan aktifitas remaja putra berlangsung,
biasanya pada malam hari, mulai dari belajar mengaji atau belajar agama,
belajar adat atau budaya dan kesenian Minangkabau, belajar bela diri atau
pencaksilat, dan kegiatan lainnya. Yang rajin belajar mengaji dan menekuni
agama dewasanya mereka menjadi ustadz atau pemuka agama, maka lahirlah
ulama-ulama besar seperti Buya Hamka. Yang rajin belajar adat atau budaya dan
kesenian Minang mereka dewasanya menjadi budayawan sehingga melahirkan seniman
besar seperti Chairil Anwar dan budayawan terkenal lainnya.
Namun,
pada saat sekarang ini surau-surau sudah lengang dari segala aktivitas yang
berkaitan dengan pendidikan kebudayaan maupun keagaman. Surau saat ini telah
semakin ditinggalkan oleh umatnya, jangankan untuk proses pendidikan seperti
disebutkan di atas, untuk shalat lima waktu saja sudah sangat lengang dari
makmumnya. Surau sebagai pusat pendidikan keagaman dan adat sepertinya tidak
bernyawa lagi. Hal ini disebabkan oleh perkembangan pembangunan pendidikan saat
ini semakin pesat.
Generasi
muda saat ini sudah belajar agama pada sekolah-sekolah formal yang disiapkan
masyarakat bersama pemerintah. Namun, pendidikan agama bagi anak-anak usia
sekolah saat ini sangat minim, sehingga anak-anak cenderung tidak punya modal
ilmu agama yang cukup, yang dulu bagi anak-anak Sumatera Barat menjadi suatu
hal yang mutlak dan diperolehnya di surau. Keberadaan surau pun sudah banyak
yang roboh bahkan dirobohkan. Surau saat ini bagaikan sebuah kenangan lama
untuk disebut-sebut.
Seperti
kutipan cerpen Robohnya Surau Kami karya AA. Navis berikut; Dan tinggallah
surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagi tempat
bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan
kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. Jika
Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu
kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat
berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan
mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang,
yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi.
(Navis, 2002:
2)
Prediksi
AA. NAvis terhadap cerpen Robohnya Surau Kami merupakan sebuah simbol
robohnya suatu kebudayaan Minangkabau. Jika diperhatikan, saat ini sudah sangat
jarang di beberapa nagari atau daerah yang masih memfungsikan surau sebagai
pusat pendidikan keagamaan dan kebudayaan tradisional. Hal ini menunjukkan
bahwa belum berfungsinya kembali ke nagari, dan kembali ke surau pada era
otonomi daerah saat ini.
Meskipun
kembali ke nagari dan surau dalam konteks hari ini tidak mungkin akan sama
seperti berlakunya peranan surau dan nagari masa lampau. Karena pada saat
sekarang ini para orang tua tidak akan rela jika anak remajanya tidur di surau.
Namun paling tidak yang kita harapkan sekarang adalah bagaimana surau kembali
dijadikan tempat belajar dan diskusi agama bagi para remaja atau
masyarakat Minangkabau umumnya serta setiap jadwal shalat surau ramai dengan
jamaah. Harapan kita mudah-mudahan surau kembali dapat berfungsi, yakni digunakan sebagai tempat pembelajaran agama,
pengembangan adat dan budaya Minangkabau. Sehingga masyarakat Minangkabau dapat
mempertahankan semboyannya yaitu ”Adaik basandi sarak, sarak basandi
Kitabullah”.
*Penulis adalah pegiat
Tubuh Jendela