CERPEN | TANGGUNG JAWAB SI KAKI



Cerpen Maira Eka Sari [telah dimuat di Buletin Halaman Pantai]

Sepasang kaki ini melangkah selalu bersama. Dia menopang dan memboyong rekan-rekannya di ketajaman kerikil hidup yang ia tapaki. Kram, ngilu selalu bergantian menggelayutinya. Terkadang ia melangkah santai, pelan-pelan berhati-hati, berlari, melompat saat memboyong rekan-rekannya. Ya, itulah si Kaki, selalu setia pada rekannya dalam keadaan apapun.

Kaki ini terus juga berjalan mengelanai langkah demi langkah yang membentang tak berujung di sejauh pandangan ini. Semakin tertapaki, semakin luas bentangan alam untuk di langkahi. Tapi si Kaki terus juga melangkah, menjejaki. Seperti tak ada lelah si Kaki mengayuni langkah, menjejaki langkah yang terbentang ini. Ia seperti tak berasa. Lelah, luka, kecewa,
jera, entah apalagi rasa yang ada, seolah itu tak ia kenali. Ia terus juga menapaki langkah-langah yang tak ada tanda-tanda sebuah unjungnya.

Sunyi pekat malam yang berakhir di taring pagi yang siap mengantar ke cengkraman terik panas siang yang menyengat. Panas siang yang di ujung waktunya harus menyerah pada remang senja yang bersountrak derik-derik sahutan jangkrik dan segerombolan suara lain yang saling berebutan, akhrinya berlabuh lagi di kepekatan malam. Terkadanya teters-tetes langit merajam ubun-ubun menjadi penghias, tapi si Kaki tetap melangkah. Begitulah hari kemarin, hari ini dan juga mungkin hari seterusnya langkah si Kaki berteman.

Semetara amuk-kecamuk pikir dan rasanya selalu menjadi penghias yang tak pernah luput. Keduanya selalu bersihantam untuk di kedepankan. Mereka, satu sama lain selalu merasa lebih pantas untuk di dahulukan.

“Aku yang lebih pantas, titik!” Itu alasan satu-satunya yang selalu di pertahankan. Meskipun akhirnya mereka saling sadar kalau mereka harus berjalan berdampingan. Berkecamuk itulah sepertinya ritual yang tak boleh tinggal.

Tapi, si kaki selalu tak terlalu terpengaruh. Ia terus juga melangkah, menjejaki.

*maira*

Panas tidak begitu menyengat, siang ini seperti cukup bersahabat. Kaki melangkah lagi, menapaki lagi.

“Kemana hari ini kaki? Apa tak sebaiknya kamu beristirahat, kamu tampak kurang sehat. Lihatlah dirimu begitu lelah.” Rasa tampak berusaha membujuk.

“Sepertinya kamu salah. Aku meresa baik-baik saja. Terlalu luas sisa langkah yang harus aku tempuh. Selagi bisa aku harus mencicil. Kamu tahu dong, sisa umur manusia ini setiap hari semakin berkurang. Sementara langkah yang harus di tempuh masih banyak sisanya, yang tertempuh belum seberapa. Kasihan batin dan otaknya. Terlalu sedikit yang dia dapat di hidup ini.” Kaki mencoba untuk meyakinkan Rasa. Yang lain mentapnya haru. Apalagi si batin dan otak.

“Terimakasih Kaki!” Batin dan Otak berkata hampir bersamaan.  

Setelah itu si kaki terus melangkah. Meski terkadang rekannya yang lain mengeluh. Ia tak begitu hirau.

Benarkah si Kaki melakukan ini untuk Batin dan Akal? Untuk apa? Kenapa hanya untuk mereka? Lantas yang lain mendapat apa? Apa istimewa Batin dan Otak? Dan kita? Dia sendiri?

Begitulah terkadang yang lain mengeluh. Seolah tak lelah, mereka terus mengeluh.

‘Maafkan aku kawan? Aku juga tak tahu jawabnya.’  Kaki hanya dapat membatin. Yang pasti ia terus melangkah, menjejaki.

*maira*

Dari kejauhan tampak oleh mata sebuah kendaraan berlaju cukup kencang. Sementara kaki melangkah begittu tergesa-gesa. Saat itu langsung mengirim kabar melalui rekanya yang lain, belum sempat apa yang dilihat mata di sampaikan ke otak onuk meminta kaki berhenti sebuah benturan yang cukup keras tiba-tiba menyapa dan memagut si kaki. Kaki dan rekan yang lain berguncang hebat. Rasa tiba-tiba bergemuruh. Nafas tersengal-sengal, mata tiba-tiba terbelalak, memanas dan iar mata berdesakan keluar. Sementara kepala menjadi pusing.

Darah mengucur deras. Kaki terluka. Patah!

Tubuh manusia ini lemas, lerkulai dan ia pun terhenyak ke tanah.

Setelah itu kaki tak lagi bias melangkah. Ia menjadi dingin dan beku.

“Maafkan kami kaki!” Terlalu sering yang lain menguturkan kata-kata itu tapi si kaki hanya diam, dinggi dan beku.

Yang lain menjadi cemas menghadapi si kaki. “Apakah kaki akan selalu begini Pikir? Rasa tersedu-sedu mengirimkan kata-kata itu pada Pikit.

“Aku tak tahu!” Pikir menjadi tak karuan.

*maira*

Dua tahun sudah Kaki tak melangkah. Juga dua tahun sudah ia menjadi dingin dan beku.

Tiba-tiba sore yang begitu remang dan sunyi kaki bergerak. Bergerak begitu lambat, dan kemudian diam. Yang lain hanya memandang haru, tak kuasa berkata-kata.

“Rasa, apa yang akan dilakuakan kaki, aku takut!” Hanya sebuah bisikan terdengar samar.

“Entahlah!” Rasa tiba-tiba bergemuruh.

“Seandainya aku mati, bagaimana dengan kalian? Sejujurnya aku sangat belum siap jika Allah mengambilku saat ini. Karena terlalu luas langkah yang belum dan juga harus aku jejaki untuk mempertanggung jawabkan nanti.”  Kaki menggigil.

Tanggung jawab? Apa sebenarnya tanggung jawab si Kaki? Rasa dan Pikir kembali berkecamuk.

*maira*

Padang, di Pergalauan rasa, 161208
Maira Eka Sari, terlahir di tanah bako
dan tumbuh di tanah kelahiran ibu.