Artikel Maira Eka Sari*
Bercerita
tentang perempuan, banyak hal menarik yang bisa didapat. Apalagi tentang
perempuan di Minangkabau dan segala adat yang banyak mengatur kehidupan perempuannya.
Mulai dari si perempuan lahir hingga menjalani kehidupan dan akhirnya menutup
mata. Mulai dari cara berbicara, cara berpakaian, cara bergerak, dan banyak
lagi cara yang diatur di ranah urang awak
ini. Tak akan habis untuk dibahas, seperti halnya perempuan dewasa di Minangkabau.
Dahulu, dalam
kurun waktu di belakang di Minangkabau perempuan dewasa memiliki adat yang
cukup ketat, banyak larangan dan anjuran yang mengikat dan harus diikuti. Akan
tetapi, seiring berjalannya waktu dan juga persenggolan sosial yang terjadi
membuat hal itu menjadi berubah. Salah satunya terjadi pula
emansipasi perempuan Minangkabau. Pola pikir perempuan Minangkabau saat sekarang telah dirampas oleh pergolakan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
emansipasi perempuan Minangkabau. Pola pikir perempuan Minangkabau saat sekarang telah dirampas oleh pergolakan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
“Bukan maksudku melawan Abak dan Amak. Zaman telah
berubah.
---(penggalan alinia ke 26)” Begitu bunyi penggalan percakapan seorang limpapeh Minangkabau dalam cerita Elly
Delfia yang berjudul Limpapeh. Cerita ini dimuat pada Minggu, 7 April 2013 di
kolom Sastra salah satu media massa. Dalam cerita Limpapeh, Elly Delfia menyuarakan tentang perempuan dewasa
Minangkabau. Di mana si perempuan telah
berada dalam posisi di masa yang selayaknya telah memiliki hak menentukan
hal-hal dalam kehidupannya. Sepeti pakaian, jalan hidup, dan juga cita-cita. Di
Minangkabau, limpapeh adalah sebutan
bagi perempuan dewasa. Dari segi perkembangan, dewasa merupakan usia tahap
lanjut setelah remaja yang telah mandiri, mampu memilih jalan hidup, memiliki
konsep berfikir abstrak. Seorang yang dianggap sudah cukup mapan untuk
menentukan pilihannya, dan jauh berbeda dengan saat ia di masa kanak-kanak.
Erik Erikson
(1902-1994) mengakui sumbangan Freud, tapi yakin bahwa Freud salah menilai
beberapa dimensi penting perkembangan manusia. Di satu pihak, Erikson
(1950,1968) mengatakan bahwa kita berkembang dalam tahap-tahap psikososial
(psychososial stages), yang berbeda dengan tahap-tahap psikoseksual
(psychosexsual stages) Freud. Di pihak lain, Erikson menekankan perubahan
perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sementara Freud berpendapat
bahwa kepribadian dasar kita dibentuk pada lima tahun pertama kehidupan.
Dalam teori
Erikson, delapan tahap perkembangan terbentang ketika kita melampaui siklus
kehidupan. Masing-masing tahap terdiri daritugas perkembangan yang khas yang
menghadapkan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Bagi Erikson
krisis ini bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan
kerentanan dan peningkatan potensi. Semakin berhasil individu mengatasi krisis,
akan semakin sehat perkembangan mereka.
Dua di antara
delapan tahap itu adalah tahap Dewasa Muda (19-30 thn) dan Masa Dewasa (31-60
thn). Kaum dewasa muda lebih banyak didominasi oleh pencapaian keintiman diawal
tahapan dan pengembangan generativitas diakhir tahapan dibandingkan dengan
hal-hal lainnya. Bagi beberapa orang tahapan ini relative singkat, bertahan
mungkin hanya beberapa tahun. Namun bagi orang lain, masa dewasa muda bisa
masih terus berlanjut sampai satu-dua dekade lagi. Kaum dewasa muda harus
mengembangkan genitalitas yang matang, mengalami konflik antara keintiman dan
isolasi, dan mencapai kekuatan dasar yang disebut cinta. Sedangkan Masa Dewasa adalah ketika manusia mulai mengambil tempat
di masyarakat dan mengasumsikan sebuah tanggung jawab bagi apapun yang
dihasilkan masyarakat. Bagi kebanyakan orang ini adalah tahap perkembangan yang
paling lama. Masa dewasa dicirikan oleh mode psikoseksual berbentuk
prokreativitas, krisis psikososial generativitas vs stagnasi, dan kekuatan
dasarnya perhatian. Di masa ini mencakup juga tanggung jawab untuk merawat keturunan
yang dihasilkan dari hubungan seksual itu.
Dewasa si Limpapeh ini dapat dikategorikan pada
tahap Dewasa Muda. Masa yang masih berkisar dalam usia 19-30. Atau di
Minangkabau lebih akrab di panggil gadih
jolong gadang. Rata-rata pada usia ini mereka miliki keinginan untuk
mandiri dan mimilih jalan hidup. Hal itu bisa dicermati dalam dua kutipan
penggalan cerita berikut:
Di
janjang rumah gadang, ia meminta diri
untuk pergi. Di janjang itu, seharusnya Basar melepas banyak anak bujang di rumah gadang. Anak bujang yang berlima orang tak
seorang pun memilih rantau tempat melabuhkan diri…(penggalan alinea ke 7)
Ia
memohon diri untuk melayari rantau dengan alasan mematangkan usia, mencari
pengalaman hidup, dan membangun masa depan. Kata-kata yang seharusnya keluar
dari bibir anak bujang di rumah
gadang. Sebagai satu-satunya limpapeh
dari suku Mandiliang yang tersisa, ia
seharusnya tidak kemana-mana……..(penggalan alinea ke 10)
Pada penggalan
cerita di atas, Elly Delfia memaparkan bagaimana karakter tokoh perempuan
Dewasa Muda memaparkan keinginanya. Saat keinginan itu dilontarkan kadang
berdampak kurang baik atau mendapat respon yang tak seperti keinginannya.
Contoh keinginan untuk merantau. Di Miangkabau biasanya, atau lazimanya yang
melakukan merantau adalah laki-laki. Perempuan selalu diharapkan untuk tetap
tinggal di rumah menjaga segala harta benda milik kaumnya. Hal itu kadang
sangat ditekankan jika anak permpuan yang dimiliki tidak banyak, apalagi
seorang. Keluarga pada umumnya akan tampa ketat dan sangat memperhatikan anak
perempuan yang dimilikinya, hingga kadang terlupa apa yang menjadi haknya;
seperti memilih jalan hidup.
LIMEPAPEH itu telah
dewasa kini. Atas nama kedewasaan, ia memilih rantau tempat melabuhkan diri.
Pilihannya merajahkan cewang di hati
lelaki yang membesarkannya. Menyumbulkan gabak
di muka perempuannya yang menyapihnya. Bagi lelaki itu, ia tetap gadis lima
tahunan yang setiap pagi menggantung kaki di pundaknya. Bagi perempuan itu, ia
tetap saja gadih jolong gadang yang
setiap hari ia nyinyiri soal pakaian yang patut untuk anak gadis, duduk yang
pantas utuk anak gadis, dan sikap yang pantas untuk anak gadis. (alinea
pertama)
Masa kanak-kanak
adalah masa ditanamkannya berbagai macam cita-cita dan segala cara untuk menuju
pada cita-cita itu. Saat itu cita-cita digambarkan sebagai suatu titik yang
dijadikan sebagai sebuah alur tuju di saat telah menginjak masa dewasa. Karena
dengan cita-cita kita akan memiliki gairah dalam meraih masa depan cemerlang,
begitulah alsan mengapa cita-cita selalu digemborkan pada saat masa
kanak-kanak. Hal ini juga harapan dari sebagian besar orang tua pada anak-anak
mereka.
Segala sesuatu
pada masa kanak-kanak akan lebih banyak (selalu) diatur oleh orang tua. Anak
bagusnya begini, bagusnya begitu dan segala yang dianggap orang tua baik. Hal
itu bahkan berlanjut hingga si anak dewasa dan telah memiliki hak untuk
menentukan hal-hal dalam hidupnya.
Kasih sayang
yang begitu kuat didapat oleh si limpapeh,
yang merupakan anak perempuan satu-satunya di dalam kaum di kampungnya yang
diharapkan bisa menjaga kampung dan harta pusaka serta di tangannya
digantungkan harapan melanjutkan keturunan kaumnya. Ada semacam ketakutan untuk
melepas anak gadis. Salah satu contoh mungkin mereka taku saat dirantau anak
perempuan mereka akan mendapat jodoh bukan orang kampung, secara tidak langsung
hal itu akan membuat kecil kemungkinan ia akan mengurusi rumah dan harta
pusakanya. Karena beberapa adat istiadat yang selain Minangkabau mereka
memiliki kebudayan istri ikut suami. Mungkin
hal itu merupakan faktor, sulitnya orangtua melepas ia, si limpappeh.
…
Menjadi tukang ojek, tukang pecah batu, kuli angkat batu dan pasir, kuli takiah gatah, dan kerja serabutan
lainya. Mereka terlalu malas mengasah otak. Sungguh pilihan yang tak
menjanjikan masa depan. …(penggalan alinea ke 7)
Menikah dan
memiliki anak, serta menjaga rumah gadang yang menjadi harapan orang tua pada
anak perempuan satu-satunya itu bukan menjadi pilihan si limpapeh yang telah mengenal bagaimana kemajuan zaman. Pekerjaan
dikampuang tak ada satupun yang dapat menahan keinginannya. Hal itu sangat
disedihkan oleh para orang tua. Hal ini dipaparkan Elly dalam penggalan
ceritanya terasa begitu miris dan sangat
mengentaka.
“Kau
bisa menikah, punya anak, menjaga rumah gadang, dan menyaksikan kami beranjak
tua.” Perempuan tua yang dari tadi diam menegaskan ucapan suaminya. (penggalan
alinea ke 21)
“itu
tidak akan mengubah masa depan Abak, Amak. Semua perempuan di kampung ini telah
melakukannya sejak dulu, tapi tak ada yang berubah. Mereka tidak menjadi
apa-apa selain menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak, mati dan dilipakan.” (penggalan
alinea ke 22)
Memiliki sebuah
keinginan tentu bukan suatu hal sederhana bagi para perempuan dewasa. Apalagi
hal itu ditentang oleh pihak keluarga. Perkembangan zaman telah merampas
kesetiaan perempuan Minangkabau. Hal posistif dan negatif yang dimunculkan oleh
perkembangan teknologi dan pergaulan sosial telah merebut keberadaan perempua
Minangkabau hari ini. Mau ataupun tidak, para orang tua harus berusaha mengerti
dengan hal itu. Pada dasarnya adat di Minangkabau memiliki kelonggaran pada
hal-hal tertentu untuk kaumnya, tergantung individunya ingin bagaimana. Adat
dibuat bukan untuk mengikat namun untuk sebagai tongkat dalam menjalani
kehidupan.
*Pimpinan Umum dan Kreator di Tubuh Jendela, ruang
diskusi dan dokumentasi.