PUISI DALAM TIPOGRAFI DAN TANDA BACA; BINGKISAN PADA TEMANKU YAZID MUSTAFA PENYAIR TEGAL


"Puisi yang baik tidaklah mesti menyampaikan sesuatu yang asing atau aneh tetapi hanya memperlihatkan kepada kita sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui. Hal ini lebih menjelaskan dan meyakinkan kita, bahwa mengapa banyak orang yang menyenangi puisi karena ia menyampaikan sesuatu yang besar dan hebat dengan cara yang mudah dan sederhana."

Yazid Mustafa adalah salah seorang penyair Tegal yang menyajikan puisi dengan sederhana dan sudah barang tentu memiliki sesuatu yang besar dan hebat yang menjadi ruh di puisinya. Yazid dan beberapa teman ninjanya menyajikan puisi yang selalu meruhkan hal yang ada di sekitar kita, mereka di antanya yakni: 
  • Noval Jubbek
  • Thiya Renjana
  • M Taufan Musonip
  • Zinar Aza
  • Arther Panther Olii
  • Yazid Musyafa
  • Almira DeRose Felicia
  • Reski Kuantan
  • Lina Kelana
  • Kang Arief
  • Gha White Jasmine
  • Rangga Umara
  • Afrilia Utami
  • Olan Sanseviera
  • Nu Arur 
Sederhana dan mudah untuk kita nikmati tanpa harus mengernyitkan dahi untuk memahami makna yang mereka siratkan dari puisi yang disajikan, hal yang selalu penulis temukan saat menikmati bingkisan puisi mereka.

"Ia" salah satu dan mungkin (jika penulis tak salah) satu puisi yang baru dibingkiskan Yazid di dinding Nakrang Paslimko. Puisi yang menggandeng 16 komentar yang bersahutan (saat penulis menyelesaikan essay ini) ini adalah satu dari sekian banyak puisi Yazid yang memiliki hal tersebut. Puisi yang mempunyai gaya tersendiri.

Ia
oleh Yazid Musyafa pada 14 Februari 2011 jam 0:20

Ia adalah pelarian mata, luka
Yang tertawa pada kebutaan huruf

Ia adalah sisi kesedihan yang dingin
Sedang yang lain, aku. Dari malam
Di sebuah lentera yang menyanyikan nada
Requiems antara cahaya dan tanah
Di mana aku berjalan dan bingung

Bukankah aku adalah seekor burung
Di dadanya? Melayangi api terpijar merah
Di atas guratan tangantangan takdir?

Ia cakrawala kemerahan dalam gaun kesedihan
Menyudutkanku di pojokan memoar penanggalan berangin
Dalam penjara puisi


Dengan stile yang mudah ditebak Yazid mengemukakan idenya dengan cukup ringan (bagi penulis). Tapi keringanan itu menambah tenaga bagi ruh puisi-puisinya Yazid sang penyair Tegal ini. Meskipun begitu Yazid tak luput dari yang namanya tak ada gading yang tak retak. Di samping menawannya puisi-puisi yang Yazid kemukakan ada hal yang sedikit mengganjal bagi penulis. Yaps, tipografi dan beberapa tanda baca.

Hal pertama dan merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang  yang membuat puisi itu terlihat menarik adalah tampilannya. Seperti puisi Sutardji"Tragedi Winka dan Sihka"  yang memakai zigzag untuk tipografi puisinya, puisi B. Proyono "Tentang Tuhan II" memilih bentuk tanda tanya sebagai wadah untuk sajian puisinya, "Pot" puisi Dharma Sari dan masih banyak lagi bentuk hasil kreatifitas para penyair untuk sajian puisi meraka.

Jika boleh usul, mungkin seandainya Yazid dan teman-teman yang lain berani mengekperimenkan bentuk tipografi puisi mereka ini akanlah tentu menjadi stile yang memperkuat tampilan puisi-puisi menarik dan berharga yang mereka sajikan. Meskipun begitu puisi-puisi yang memakai tipografi seperti ini juga tak mengurangi makna dan berharganya puisi yang disajikan.

Tanda baca, puisi begitu juga dengan karya sastra lainya tidak bisa kita pisahkan dengan aturan ejaan yang disepakiti dalam memakai bahasa Indonesia tulis. Hal yang mendasar yaitu tanda koma (,), titik (.), huruf kapital.
Ya, puisi ataupun segala karya yang lain (seni) memiliki kebebasan dalam mengekspresikan diri, tapi bukan berarti kita bisa memungkiri peranan aturan yang telah ada. Di puisi ini Yazid kurang memperhatikan bagaimana (sebaiknya) penulisan yang digunakan dalam menggunakan bahasa Indonesia tulis.

Berbeda dengan tipografi, tanda baca merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan. Karya hidupnya tidak hanya hari ini, tapi lebih dari yang kita target-perkirakan. Penikmat puisi bukanlah hanya orang-orang yang bisa menerima begitu saja beberapa kesalahan, tapi penikmat puisi ini juga ada regenerasi seperti pembuat puisi tersebut.

Suatu saat jika puisi ini dijadikan referen bagi mereka anak-cucu kita apa jadinya jika kita mengabaikan beberapa hal yang sebenarnya telah kita tahu di mana janggalnya.



*note: apresiasi ini sama sekali tidak bermaksud memati kuburkan puisi ini dalam kesalahan, tapi hanya sebatas masukan yang jika diterima merupakan hal yang sangat beras bagi hidup dan perjalanan bahasa dan budaya kita Bahasa Budaya Indonesia.

13 Februari 2011 jam 17:35
**************"Salam untuk para penulis negeri."*****************


*Asyifa Deyara adalah salah satu di antara nama pena Maira Eka Sari