PUISI RUANG DOKUMENTASI YANG MENERIMA KEBEBASAN ; PENGANTAR ANTALOGI KONDOM BOCOR SOBEK UJUNGNYA


Oleh Maira Eka Sari

Setiap orang, melalui ragkaian peristiwa yang berbeda-beda dalam menjalani hidup. Mau tidak mau, secara tidak langsung mereka menuntut untuk dimengerti apapun itu. Akan tetapi, keadaan alam kadang sering, bahkan lebih dominan memaksa mereka untuk tidak bersikap sesukanya. Terbatas lebih tepatnya. Menjalani hal yang seperti itu menghadirkan ekspresi yang berbeda pula dalam menanggapinya. Salah satu yang merupakan ekspresi mereka adalah keinginan untuk suatu hal yang dinamakan kebebasan.
Saat menjalani tuntutan alam yang terkadang mengukung terkadang tidak, kebebasan itu sering diteriakan orang-orang –siapapun dia– pada apapun, kapanpun, di manapun, tanpa terkecuali. Bebas berfikir, bebas berbicara, bebas bergerak, bebas berkeingin, dan masih banyak lagi yang ingin dibebaskan dari dalam maupun luar diri mereka. Hal itu tidak bisa dipungkiri dan itu bukan suatu hal yang tidak wajar apalagi suatu kesalahan. Kebebasan itu hak semua, dan wajib diberikan oleh semua.
Seni kata atau lebih akrab dikenal dengan sastra menjadi wadah untuk kebebasan itu bersuara. Baik itu dalam bentuk puisi maupun prosa. Adapun peranan dari sastra adalah meneruskan tradisi suatu bangsa kepada masyarakat sezamannya dan kepada masyarakat yang akan datang, antara lain berupa cara berpikir, kepercayaan, kebiasaan, pengalaman sejarahnya, rasa keindahan, bahasa, serta bentuk-bentuk kebudayaannya (Semi, 1984: 14).
Melalui puisi, penulis bebas menuangkan apapun, baik itu pikiran, perasaan, harapan, caci-maki, penghinaan dan lainnya yang akan disampaikan pada orang lain ataupun hanya pada dirinya sendiri. Dalam antologi ini (Kondom Bocor Sobek Ujungnya), puisi merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk yang bisa digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang dinamakan kebebasan itu. Puisi adalah artefak yang bisa menumpu suara, gerak, perasaan, bau, dan apapun kejadian alam semesta ini dalam bentuk untaian kata, baik memiliki keindahan ataupun tidak. Puisi berhak lahir dan menemui takdir dan caranya masing-masing. Hal ini juga ada pada karya dan hal yang lainnya.
Dalam antologi puisi ini (Kondom Bocor Sobek Ujungnya), para penyair mencoba menghadirkan warna baru yang merupakan wujud keinginan mereka dengan yang namanya kebebasan. Berbagai hal yang berbeda disajikan oleh mereka yang berlatarbekang berbeda pula hingga secara tidak sengaja telah membatu memenuhi peran sastra untuk meneruskan tradisi. Hal itu telah menjadi sumbangan berharga dalam khasanah kesusastraan Indonesia.
Hadir tanpa sebuah tema, mereka berani menyuguhkankan dokumentasi berharga untuk artefak berharga pada mereka yang akan datang dan berada di masa-masa berikutnya.

Padang, Oktober 2011