Judul Buku : Bola Kecil Aisha
Penerbit : DAR!Mizan
Tahun : 2005
Halaman : 31 halaman
Penulis : Maira Eka Sari
Aisha,
kini berusia Sembilan tahun. Ia menulis puisi sejak usia belajar menulis dengan
seadanya. Dan itu, bersama dengan usianya mengenal lingkungan. Sisi inilah yang
kerap kali melahirkan pertanyaan di antara kami orang tuanya. Sebab, jika puisi
itu lahir dari sebuah proses refleksi, mungkinkah anak usia lima tahunan
melakukan refleksi atas lingkunagnnya (Irma Hutabarat, ibunda Aisha).
Bola Kecil Aisha merupakan
sebuah kumpulan puisi dan gambar hasil karya Sarah Humaira yang berisi 20 puisi
dan beberapa gambar yang ditulis dari tahun 2002-2004. Dalam kumpulan puisi ini
Aisha mencoba menuliskan apa yang muncul dari pikirannya saat mengamati hal-hal
yang ada di lingkungannya dengan sederhana di goreskan dalam bait-bait singkat.
Dalam
kumpulan pusi ini Aisha menuliskan puisi sebagai sebuah proses refleksi. Seperti “Si
Momong” (Mei 2002), Si Momong jatuh ke
air mancur/ Tergiling oleh bola anak kecil/ Yang melincinkan bola amang/ Jadi
semua kacau, si Momong jadi terhukum//.
Juga dalam
“Sepi”, Sepinya rumahku/ keluargaku pergi ke mana, ya?/ seandainya, semua
keluargaku berjumpul/ dengan cintaku/ oooh…mimpiku adalah mangingat
keluargaku// sepi sekali rumah ini/ seperti gudang cinta/ sepi cinta keluarga,
hilang semua/ lama…. Melalui
puisi-puisi yang singkat-singkat ini Aisha kecil mengekspresi kan kehgelisahan,
kesepian dan hal lain yang melintas dalam kehidupan sehari-harinya. Bahasa sederhana
yang ia gunakan mencerminkan proses kreatif yang cukup unik dalam sebuah proses
kepenulisan.
Kanak-kanak
adalah masa ketika bahasa bebas dan dunia belum punya ukuran tetap. Seperti
dalam sajak-sajak Aisha ini (Ayu Utami, penulis novel). (Me--2011)