Cerita Maira Eka Sari
”Ini kewajibannya. Biarkan ia bertanggung jawab dengan kembang-kembang itu!”
Adin
merasa pagi ini masih seperti kemarin. Ia merasa persoalan tempo hari
masih menyisakan rasa. Seolah darah luka itu masih belum juga kering.
Masih lebam dan memar. Kadang darahnya masih bertetesan. Perih. Dan
tampak sekali alam pagi ini juga merasakan hal yang sama. Kaku. Beku.
Padahal
dua malam ini hujan turun cukup lebat. Tapi rasa yang membekas karena
persoalan itu seolah tak terusik sama sekali. Hujan dua malam itu tak
mampu mengembalikan kesegaran suasana pagi. Luka itu tak sedikitpun
tersejukkan oleh kelebatan hujan. Separah itukah goresan tempo hari?
*Maira*
Meski
alam telihat kaku dan beku, laki-laki tua itu masih seperti biasa.
Seorang yang telah lapuk dimakan usianya sendiri, masih seperti biasa
menjalani tugasnya. Seperi pagi-pagi sebelumnya.
Tadi seusai
subuh, ia sudah mulai rutinitasnya. Seperti pagi-pagi yang sebelumnya.
Seperti tak pernah terjadi suatu apapun. Ia masih berseragam kerja,
mendorong gerobak ke seluruh pekarangan rumah Adin. Semua reranting dan
dedaun yang bertebaran di sapunya sebersih mungkin, dedaun dan bebunga
yang tergaing membusuk di sisiknya. Dan tak lupa ia bumbun tanah dan
kemudian menyirami semua isi taman.
Dia benar-benar menata rapi taman rumah Adin. Tampak sangat indah dan menyegarkan setiap hari.
Adin
tak tahu sejak kapan laki-laki tua itu menata kebunnya. Setahunya hanya
laki-laki itu yang menata kebunnya. Tak pernah ia melihat ada yang
boleh menggantikan tugas laki-laki tua itu. Jika laki-laki tua itu
sakit, taman ’kan dibiarkan saja.
”Ini kewajibannya. Biarkan ia
bertanggung jawab dengan kembang-kembang itu!” Begitu kata ibu saat dulu
Adin menanyakan kenapa. Saat itu Adin dan ibu berbicara dekat ayah.
Mendengar jawaban ibu, ayah menghela nafas berat. Sekilas melirik,
kemudian pergi begitu saja. Sejak itu Adin jadi takut dan sungkan
membahas tentang taman dan laki-laki tua itu.
Tidak membahas itu,
bukan berarti penasaran Adin hilang. Malah bertambah. Kenapa harus
laki-laki itu yang menjaga taman dan kembangnya, dan kenapa pula saat
itu ayah berespon seperti itu. Penasaran itu dibiarkannya mengendap di
telan waktu.
Biarlah waktu yang ’kan melarutkanya. Jika ia harus larut dan ingin larut ia pasti ’kan larut sendiri.
Dingin
embun pagi serasa menulang. Adin membenahi jaket yang sedari tadi
membalut tubuhnya yang masih lemas karena persoalan tempo hari. Adin
benar-benar lelah dibuatnya. Ternyata laki-laki tua itu menyadari
keberadaan Adin. Dia menengadah.
”Selamat pagi Kembang Manis!” Sedikit berteriak, Laki-laki tua itu tersenyum menyapa Adin. Itu masih seperti biasa. Tapi respon Adin tak lagi seperti biasa. Serasa tersekat ludahnya saat ia berusaha menelannya. Adin tak menyadari, tiba-tiba air matanya berderai.
*Maira*
Sejak kecil Adin selalu menunggu
pagi dan juga laki-laki tua itu. Seperti menunggu sebuah kedamaian.
Setiap kali Adin mendapati pagi dan setiap kali Adin mendapati laki-laki
tua itu, setiap itu pula kedamaian itu membelainya.
Adin juga
selalu menunggu sapaan lembut yang laki-laki tua itu teriakkan, seulas
senyum yang begitu ringan dan menyejukkan, serta tatapan yang
menghangatkan Adin. Adin merasa semua itu hanya didapatkanya saat pagi
hari, usai sholat subuh.
Pagi, seminggu yang lalu. Adin tak mendapati semua itu.
Seperti biasa, usai sholat subuh dengan girang Adin langsung membalut tubuhnya dengan jaket. Dibukanya jendela kamar, dan dilayangkan padanganku ke seluruh taman. Tiba-tiba ia menghela nafas berat, kecewa.
Kenapa kau belum datang pak tua?
Sampai
siang menguasai bumi, laki-laki itu belum juga datang. Taman terlihat
sangat berantakan. Seperti rumah tinggal. Keresahannya semakin jelas.
Tak biasanya kau begini. Apakah yang terjadi?
Sampai
sore hari hatinya tak juga kunjung tenang. Keresahannya terlalu
menguasai pikiran dan perasaannya. Selesai mandi, diputuskanya untuk
berjalan-jalan ke rumah laki-laki tua itu. Semula ia sempat ragu dengan
niatnya itu, tapi keraguan itu ternyata tak sebanding dengan
keresaahannya. Dilaksanakannya juga niatnya itu.
Sesampai di
halaman rumah laki-laki tua itu, keraguanya kembali datang. Ia terhenti
di depan pagar rumah kecil kediaman laki-laki tua itu. Sebuah rumah yang
amat sederhana dan juga memiliki taman yang kecil.
Taman ini, tak jauh beda dengan taman rumahku.
Ini
adalah kali pertama Adin datang ke rumah itu. Sebelumnya tak pernah
sama sekali. Perasaan penasaran masa lalu kembali bangkit mengapung di
ingatanya. Ada apa dengan semua ini? Sungguh aku tak bisa mengartikanya.
Ah,
kenapa aku kembali memikirkan itu? Untuk apa kuherankan? Siapa tahu ini
cuma kebetulan. Dari pada berpikir yang macam-macam mendingan aku
melihat kondisinya.
Belum lagi langkahnya terayun, sebuah suara
hempasan pintu yang dibanting keras mengagetkanya. Kemudian terdengar
suara seorang perempuan. Ya, laki-laki itu tinggal dengan seorang anak
gadisnya yang lima tahun lebih tua dari Adin.
”Sudahlah Pak!
Jangan lagi kau membuatku lebih pusing. Jagalah kata-katamu. Pikirkan
kesehatanku. Aku sudah cukup sibuk dan pusing dengan semua ini. Jadi
sekarang mengertilah!”
Tak ada ucapan sebagai jawaban. Hanya suara batuk yang cukup payah yang terdengar Adin.
“Seharusnya
Bapak tinggal dengan anak Bapak yang kaya itu. Tidak dengan saya. Kalau
Bapak tetap bersikeras begini, ya akan seperti inilah nasib Bapak.
Jangankan untuk mengobati Pak, memberi Bapak makan saja saya sudah
sangat repot.”
Anak yang kaya? Bukankah dia satu-satunya anak yang
ia miliki? Adin hanya menelan ludahnya. Kemudian matanya memanas dan
berserakanlah air matanya.
Kenapa aku menangis?
*Maira*
Dan
pagi tempo hari, laki-laki tua itu masih seperti biasa menjalani
aktivitasnya. Tapi ia tampak begitu tergesa-gesa. Jam enam pas,
terdengar suara ribut pagar rumah Adin yang di gedor-gedor. Adin
tersentak. Sarapannya terasa amat terganggu. Ia bergegas menuju ke
depan, berniat membukakan pintu.
Siapa sih yang ribut-ribut? Masih
pukul enam, siapa yang bertamu? Kenapa dia menggedor-gedor begitu?
Apakah itu dia? Ah, tidak mungkin. Setauku di selalu sopan.
Baru saja Adin sampai di teras rumah, tamu yang menggedo-hedo itu telah masuk begitu saja. Dia tidak sabar.
Kak Ane? Kenapa pagi-pagi dia ke sini? Ada apa denganny? Apa terjadi sesuatu padamu Pak?
”Assalamualaikum!”
Adin berusaha menyapa seramah mungkin. Yang disapa tidak menjawab sama
sekali. Hanya menatap tajam di sela nafasnya yang terengah-engah.
”Ada apa kak?” Adin benar-benar tak mengerti.
Tiba-tiba dari pintu seorang laki-laki tua yang biasa bertugas di tamannya ini datang berlarian.
”Ane, sudahlah! Mari kita pulang!” Ditariknya tubuh anaknya. Adin semakin tak mengerti. Ada apa ini?
”Kenapa
Pak? Sudah sepantasnya dia tahu Pak. Aku bosan dengan semua ini Pak.
Aku bosan mengadapi semua sandiwara ini. Dia kan sudah dewasa, sudah
sepantasnya dia tahu.” Kak Ane menunjuk sadis.
”Maaf, ada apa ini sebenarnya?”
”Bapak
mohon pada mu Ane!” Laki-laki itu berlutut pada anaknya. Adin kaget,
dan kembali menelan ludah getir. Segitunyakah? Sampai seorang bapak
berlutut pada anaknya?
”Aku tak bisa lagi Pak” Air mata Kak Ane mengalir deras.
*Maira*
(Persinggahan) Sebuah perjuangan di malam untukmu - nov ’08