Yetti A. KA - EKSISTENSI PENULIS PEREMPUAN DALAM RANAH KESUSASTRAAN (1)

Oleh Maira Eka Sari
 


Yetti A. KA. Saat membaca cerita rekaannya dalam setiap tulisan yang telah dipublis, saya serasa sedang menyaksikan dia tengah berada dalam layar mempertontonkan sebuah peran. Padahal saya belum pernah menyaksikan pentas pertunjukan (semacam teater) yang dilakoni oleh dirinya. Apapun itu.

Saya hanya menyaksikan dirinya dari tutur cerita kawan-kawan (pikiran saya secara tidak sadar memvisualkannya). Banyak hal tentang dia yang selalu saya dengar dan tentu saja itu juga bukan dalam waktu yang intens. Beberapa moment saya terlibat dalam "pergunjingan" tentang dia di dunia kepenulisan
dan proses kreatif, itu sangat mengasyikkan. Saya seolah menikmati sebuah alur cerita yang berkesinambungan yang selalu menuntun hingga sampai pada bagian berikutnya.

Di samping itu, saya menyaksikan dirinya -curahan kekesalan, kekaguman, kegelisahan dan segala curahan lainya- melalui update status pada akun sosial facebook https://www.facebook.com/yettiaka . Beberapa postingan tentang dirinya, seolah ikut melengkapi peran yang ia maninkan pada bagian tontonan tentang dirinya yang sedang saya saksikan. Hal ini sangat membantu dan menggiring hingga akhirnya saya terjebak dalam karya-karyanya yang membuat saya ketagihan untuk selalu ingin membaca dan membaca lagi karyanya.

Malina Dalam Bus Tua. Kira-kira cerita inilah yang pertama kali menarik saya pada "peran" Yatti A. KA. Saya seolah diseret masuk mencari apa yang ada di pikiran dan perasaan seorang penulis yang mampu bertahan dalam idealisnya itu. Tapi cerpen itu bukanlah cerita pertama tulisannya yang saya baca, ada banyak cerita lain yang sebelumnya telah saya baca sekedar saja tanpa rasa tarikan untuk menyaksikan peran yang Yetti lakoni. Seorang penulis (yang saya dengar) tumbuh dan besar dalam ranah kepenulisan Sumatra Barat ini seolah menarik saya untuk mencari lagi tulisannya yang lain. Secara tidak sadar saya akhirnya benar-benar terjebak untuk mencari dan melengkapi alur cerita yang ia perankan dalam sebuah layar itu.

Akhirnya saya menemukan tulisan-tulisanya pada laman web pribadinya http://yettiaka.wordpress.com/, yang meng-update tulisanya yang telah dipublikasi di media masa, kemudian beberapa kumcer tunggal dia ntaranya "Musim yang Menggugurkan Daun"; "Satu Hari Bukan di Hari Minggu"; dan "Kinoli". Tak ketinggalan juga saya menemukan tulisannya dalam antalogi bersama "Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com 0809.

Pada (kebanyakan) tulisannya, saya merasa Yetti ingin menjadi diri yang bersuara tenang perempuan dan anak (nya). Bercerita perempuan seolah benar-benar tak pernah habis untuk diceritakan, apalagi untuk cerita dari seorang Yetti. Kejeliannya memperhatikan hal kecil yang terjadi pada kaum perempuan dan anak (nya) itu terasa tidak selalu mendominan. Kadang Yetti juga tidak luput untuk menceritakan sedikit tentang laki-laki sebagai bumbu agar terasa seimbang.

Hal ini sepertinya bisa menjadi pisau yang mencukur-patahkan opini tentang eksistensi penulis di Sumatra Barat dalam beberapa waktu yang konon katanya tak ada geming. Intensitas Yetti dalam menghadirkan karya yang berkwalitas dan juga memiliki kwantitas yang banyak rasanya sudah menjadi penutup untuk opini yang cukup menggegerkan dan konon merupakan masalah dalam proses kreatif ke susastraan.