CERPEN | ELEGI DI BALIK KABUT

Cerita Maira Eka Sari __ Singgalang, 23 November 2008

Rumah mewah, tapi terlihat sangat hampa. Satu-satunya rumah di komplek ini yang berbeda. Warna catnya begitu hambar. Dengan sebuah lukisan abstrak terpajang indah di dinding depan sebelah kanan rumah itu, seperti gaya lama. Tapi masih terkesan mewah dan tetap hampa.
Selalu tampak sepi bahkan menyeramkan. Walau terkadang terdengar bunyi benturan yang membuat denyut jantung tak lagi beraturan dan darah berdesir kencang. Cemas. Itu terjadi setiap cahaya dan hawa pagi menyapa bumi, dan saat matahari surut dan malam jatuh ke tanah.
*

Saat itu, aku sedang berjalan menelusuri suasana gang berselimut petang yang semakin jelas. Kebisingan gang ini mulai berkurang. Kelelahan karena kegiatan seharian, atau mungkin karena magrib ‘kan menjelang, penyebabnya. Entahlah, yang jelas selalu begini suasana petang di gang perumahan yang menurut sebagian orang termasuk kawasan perumahan elit.
Terkadang serasa ada yang berusaha menarikku untuk menyingkapkan apa yang ada di balik suasana rumah itu. Rumah mewah yang memancarkan sebias aura kehampaan dan terselip sebentuk sepi itu berada di penghujung jalan komplek ini, tepatnya di depan rumahku.
Rumah itu selalu kudapati tegang dan sepercik derita tersirat disetiap lekuknya. Aku tak tahu kenapa aku menangkap kesan itu, yang jelas kesan itu selalu terasa saat mataku tertumpu pada rumah itu. Selain itu aku merasakan ada bisikan “Tolong aku!”, menyusup ketelingaku saat aku memandang lekat rumah itu.
Ya, aku ingat sejak awal aku diberi amanat untuk menghuni rumah ini, dua tahun yang lalu. Kesan dan bisaikan itu telah kurasa. Awalnya kumampu tak ambil pusing dengan hal itu. Tapi setahun terakhir, sejak aku tak terlalu sibuk ke kantor, hal itu seolah menolak untuk kutepis.
***
Suasana rumah yang menyelimuti rumah itu seolah pudar saat sesosok makhluk yang menampakkan diri dengan duduk di tembok depan pagar, seperti sekuntum melati mungil mekar di penghujung senja. Indah, menawan. Ia seorang anak perempuan yang sudah bisa dipanggil gadis. Tapi sayang, ia tak mampu membawa dirinya untuk tampil selayaknya seorang gadis. Seperti biasa, tangannya mengacak-acak mulutnya, sembari diikuti gerakan gagap tubuhnya yang mungkin ‘kan menghilangkan pesona gadisnya. Ia seperti anak kecil yang belum berakal. Memandang jalan, seperti mengharap kedatangan yang sedari tadi ia tunggu.
“Waa…waa…wa!” Hanya itu samar kudengar keluar pelan dari mulutnya. Setiap sore aku mendapatinya begitu. Aku begitu heran melihat tingkahnya.
Dia cantik. Rambutnya yang panjang sepinggang tergerai lurus dan rapi seperti mayang terurai. Indah. Bola matanya yang redup, menyimpan segumpal ketenangan yang jarang di miliki seorang gadis seumurnya. Dan tubuhnya yang tinggi semampai seolah melengkapi keanggunannya. Tapi semua itu kabur, karena dekapan kondisinya. Bahkan sempat terlintas di benakku untuk memperistrinya. Tapi tiba-tiba keinginan itu tertepis sekilatnya saat ingat ibu yang pasti tidak akan restu. Karena ibu telah menyiapkan seorang gadis dewasa untuk kujadikan istri. Dan aku mempertimbangkannya.
Gadis itu, kuyakin sesaat lagi dia ‘kan berdiri dan menari-nari ala bocah kecil. Biasanya itu pertanda yang ditunggunya datang. Ya, ternyata perkiraanku masih tepat. Seorang wanita paruh baya berdandan ala belia datang menjinjing beberapa tas belanjaan. Tapi wanita itu seperti tak peduli dengan gadis itu. Hal itu masih seperti biasa. Karena terbisanya aku sampai hafal sikap dan kata-kata yang akan keluar dari mulut wanita itu.
“DASAR JALANG! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? JUAL DIRI?” Sambil membuka gerbang rumahnya, ia memaki-maki gadis itu, tapi si gadis tetap tersenyum.
Wanita itu cantik, tapi entah kenapa pesona cantiknya tidak seperti yang dimiliki si gadis. Raut wajah cantiknya jelas seperti suasana rumahnya, memancarkan kehampaan dan kesunyian. Sungguh sangat bertolak belakang.
Kudengar dari tetangga, wanita itu selalu memaki dan menyiksa si gadis saat ia pergi dan pulang.
“Aduh Nak, Wanita itu sepertinya gila. Tak ada yang berani menegur. Jangankan menegur, melihatnya saja kami malas.”
“Saat kebuasannya kambuh, dari rumah itu selalu terdengar suara yang mendesirkan darah. Pernah suatu malam aku melihat ia menyiksa anak gadis itu sejadi-jadinya di samping rumah itu. Setelah gadis itu terkulai lemah barulah berhenti. Dan setelah itu diguyurnya si gadis yang terkujur lemah, kemudian ia masuk ke rumah meninggalkan gadis itu terkapar sampai pagi. Yang herannya, entah kenapa tak ada kami yang berani menolong gadis itu.” Istri RT komplek bercerita berapi-api.
“Dan semenjak mereka tinggal di sini, mereka juga tak pernah bergaul. Wanita itu selalu pergi pagi, dan sore atau malam ia baru pulang. Begitulah ia di sini sejak 7 tahun yang lalu.”
“Dan anehnya lagi, anak gadis itu tak pernah dibawanya ke luar rumah. Hanya boleh keluar sampai tembok di gerbang rumahnya. Seperti yang kita lihat setiap sore.”
“Seingatku waktu mereka pindah ke sini, anak gadis itu tidak seperti sekarang. Dia sehat-sehat saja.”
“Oh iya! Saya juga ingat. Dia sehat. Tapi pendiam dan selalu murung. Saya pernah ajak dia bicara saat dia belanja di warung. Bukannya menjawab, eh malah pergi begitu saja.”
“Sampai sekarang tak ada yang tau kenapa dengan keluaga itu. Pernah Pak RT berkunjung ke sana, tapi wanita itu tidak menerima. Alasannya sedang sibuk. Setelah itu tak pernah lagi saya dengar bapak ke sana.”
“Tapi Buk, saya merasa gadis itu bukan anaknya.” Saya beranikan berpendapat.
“Oh, itu sudah lama kami rasakan. Karena sama sekali tak ada yang menandakan kalau gadis itu anaknya.”
***
Pagi ini tidak lagi seperti biasa. Dia sedang duduk di beranda rumahnya sambil membalik-balikkan majalah. Dia tidak berpakaian seperti biasa dan juga tidak pergi seperti setiap pagi yang ia lakukan. Masih karena perasaan yang sangat penasaran, aku beranikan diri datang bertamu ke rumahnya. Dan kebetulan juga saat itu aku tidak berangkat kerja.
Sangat di luar dugaan. Ternyata sikap wanita itu sama sekali sangat meleset dari perkiraanku dan pikiran para tetangga. Dia menyambutku dengan baik, dan untuk pertama kali kudapati senyum tersungging di sudut bibirnya. Sangat tidak percaya rasanya ia ‘kan bersikap seburuk biasanya, bila melihat keramahan saat ini.
“Sebenarnya sudah lama saya hendak ke sini, bertamu layaknya kita bertetangga. Tapi, baru kali ini saya melihat nyonya tidak kemana-mana. Karenanya datanglah saya bertamu, untuk bersilaturahmi.”
Lagi-lagi dia tersenyum. Aku tidak terlalu memikirkan apakah basa-basi tadi sampai atau tidak padanya, yang jelas aku bisa bertamu.
“Jangan panggil saya nyonya, geli saya mendengarnya. Cukup panggil mbak saja.” Pintanya.
“Oh, maaf kalau saya membuat mbak tidak merasa enak dengan panggilan tadi.” Aku berusaha untuk sesopan mungkin.
“Tak apa-apa. Oya, apa hari ini anda tida berangkat kerja?” Dia juga terlihat berbasa-basi.
“Tidak. Saya ada urusan lain nanti siang.”
Dia mengangguk-angguk. Akhirnya, batinku.
“Anda sendirian?”
Dia tertegun sesaat. Tampaknya dia mulai berfikir.
“Apa ada yang salah?” Aku berusaha setenang mungkin.
“Tidak. Tidak ada yang salah. Saya berdua. Anak saya di dalam.” Dia tersenyum dingin. Aku sudah mengira sebelumnya, dia pasti sensitif jika aku mengungkit tentang si gadis.
Akhirnya kualihkan pembicaraan yang sempat kaku. Dia tampak setuju. Kami larut dalam pembicaraan yang santai. Sungguh di luar dugaan, lagi-lagi aku membatin heran.
***
Seminggu setelah pagi itu sampai sekarang, tidak kudengar suara apapun dari rumah itu. Sorenya tidak lagi kudapati gadis itu duduk di tembok gerbang rumahya. Mengkin ia sakit, bisik batinku.
Dan kembali seperti biasa, wanita itu datang membawa kantong plastik belanjaan. Ia tergesa-gesa melangkah masuk.
“DASAR ANJING. ENAK-ENAKNYA KAU TIDUR. DASAR TAK TAHU DIRI.” Benturan keras terdengar saat makiannya selesai.
“MATI SAJALAH KAU! ORANG SUSAH-SUSAH BEKERJA, EH DIA MALAH TIDUR ENAK DI RUMAH.”
Setelah itu rumah itu kembali sunyi. Dan kembali kudengar bisikan, “Tolong aku!”
***
“Nak, semalam wanita itu ngamuk lagi. Apa gadis itu baik-baik saja?”
Pagi itu aku sedang membersihkan mobilku. Tiba-tiba Buk Yu muncul dari balik pagar.
“Iya Buk. Saya juga dengar. Tapi musti bagaimana lagi. Kita bukan siapa-siapa.” Aku tak menyangka dengan apa yang barusan keluar dari mulutku. Seperti tak punya beban aku berkata begitu, padahal semalam aku sangat mencemaskan kondisi gadis itu.
“Berapa waktu yang lalu aku melihatmu bertamu kesana. Apa saja yang kau tanyakan?”
Aku terperjak. Ooo… ternyata ada yang tahu, batinku.
“Tidak bertanya apa-apa. Saya hanya bertamu biasa. Mencoba menjalin silaturahmi.” Jawabku sekenanya.
“Tadi pagi saya lihat wanita itu sudah pergi. Bagaimana kalau kita lihat keadaan gadis itu sekarang?”
Belum sempat saya memikirkan jawabannya, tiba-tiba gadis itu muncul dari balik daun pintunya.
“Sepertinya tidak usah Buk!”
Buk Yu mengikuti pandangan saya.
“Syukurlah!”
“Oya Nak, ibu sangat kasihan dengan gadis itu. Bisakah kau membantunya?”
“Maksud Buk Yu apa?”
“Saya yakin kamu mengerti!” Kemudian ia pun berlalu.
Apa yang bisa saya lakukan?
***
Kira-kira pukul tujuh pagi, aku sengaja minum kopi di beranda kamarku yang kebetulan berhadapan dengan rumahnya. Awalnya kudapati rumah itu sunyi. Mungkin kira-kira lima belas menit aku menikmati kehangatan kopi yang kucampur sendiri dengan jahe, tiba-tiba bunyi yang cukup dasyat menyentakkanku. Kurasa itu benturan tubuh manusia ke pintu. Kuterus memperhatikan gelagat di rumah itu, namun tak ada yang dapat tertangkap oleh penglihatanku.
Sesaat setelah suara itu lenyap, wanita separuh baya itu muncul di balik pintu. Dandanannya sudah rapi.
“DASAR ANJING!” Sangat jelas kudengar gerutunya yang bercampur emosi. Ia sepertinya tergesa-gesa.
“Wa…waa…wa…!” Gadis yang menurut tetangga ia seperti itu karena ulah wanita separuh baya yang dikira ibunya itu, keluar dibalik pintu yang baru saja di banting. Ia mengikuti wanita yang berdandan rapi itu, dan menarik-narik tangannya.
Aku tak percaya, gadis yang selalu rapi saat menunggu kepulangan wanita itu. Sekarang wajahnya berantakan, pakaiannya sobek-sobek, di bibir dan kepalanya mengalir darah.
Dia disiksa lagi, batinku.
“ADA APA LAGI SETAN?” Wajah wanita itu kembali menyeramkan.
“Wa…wa…wa…” Masih itu yang terdengar olehku. Tapi menurutku ia sedang mengatakan sesuatu.
“LEPASKAN!” Wanita itu berteriak, dan menendang kuat gadis yang sampai saat ini tak ada kami para tetangga yang tahu siapa namanya.
Mungkin karena terbentur ke benda keras, ia tak lagi bangkit. Hanya sedikit mengelepar, dan kemudin tak lagi bergerak.
“Huh…dandanaku berantakan. Benar-benar anjing. Tak berguna, menyusahkan. Semoga kau mati.” Kemudian ia berlalu pergi.
Bergegas kuambil jaketku dan kuhampiri gadis yang tak lagi bergerak itu. Untung sesampai di pintu depan, Pardi tukang kebun tetangga sebelah sedang menyiram bunga. Kuyakin dia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Dia tuli.
“Pak Di!” Ku tepuk pundaknya.
Dia menoleh, dan tersenyum.
“Ada apa Mas?” Suaranya cukup keras, sedikit aku agak terlonjak.
“Maaf!” Ucapnya menyadari.
“Tak apa-apa! Bapak bisa bantu saya?” Saya ikut-ikutan bersuara agak keras.
“Bantu kerjaan apa?” ternyata ia menyadari gerakan bibirku. Tanpa buang waktu lebih banyak lagi, kuseret saja dia menuju rumah gadis itu. Ia terbelalak.
“Pasti karena nenek sihir itu.” Ucapnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, kuraih tubuhnya yang kurus dan kubawa ke rumahku. Sambil membersihkan luka-lukanya, kusuruh Pardi menelpon dokter dan memanggil majikannya.
Saat membersihkan luka tangannya, kudapati tangannya menggenggam sesuatu. Ternyata segumpal kertas. Kuraih kertas itu dari genggaman eratnya, siapa tahu ada yang bisa aku lakukan untuk gadis malang ini.
senjaku
; untukmu bunda
Tak lagi seperti senja biasa,
sunyi,
pengap tanpa hujan tanyamu.
Senja ini tak lagi seperti biasa,
merdumu hanyut tak ber-arah.
Segumpal pinta menyusup rasa.
Sayang…
Kini senjaku tak seperti kemaren senja.
Selimut inspirasi
Bunda… Ica kangen…
Bunda… Jemput Ica…
Ica tak mau di sini. Ica tak sanggup begini. Mbok Yul selalu pukul Ica.
Bunda………
Elegi di balik kabut
Di balik kabut,
seperti pujangga bersilat kata,
aku bermain tinta,
menyelami makna dilautan makna,
walau aku terdampar dalam
rangakaian elegi yang mengabut.
Tapi,
tak bosanku bersilat kata dan bermain tinta.
hingga sampai saatnya tak lagi berkabut.
Persinggahan hiruk
*****
Persinggahan hiruk, 0608.
Ku persembahkan untuk 2 orang senior 03
“terima kasih Bang!”
Dan juga untuk mereka yang sengaja dan
tak sengaja telah menginspirasikanku.
Salam senyum untukmu semua.