CERPEN | TANAH MERTUA




Cerita Maira Eka Sari [Padang Ekspres, 20 Juli 2014]

Aku ingin jadi pengantin. Mengenakan sebuah gaun setelah hari ijab-kabul, berdua mencium tangan orang tua kita, lalu mengarungi hidup bersama. Begitulah, aku ingin jadi pengantin. Siang-malam selalu menjadi angan dan harapan bisa menjadi pengantin dan bersanding denganmu. Aku ingin jadi pengantin.

***

Sebaiknya, sebelum itu kau dan juga aku harus tahu meski tak banyak tentang kita. Karena kata kawan-kawan sepermainan di SD dulu yang kini telah menikah dan beranak selalu mengingatkanku, “Lebih baik kalian saling kenal. Tak canggung jika nanti telah serumah. Kau harus tahu bagaimana mau dia dan mau dirimu, itulah sekurangnya. Tak perlu banyak, yang lainnya nanti akan mengikut saja. Jangan juga terburu-buru!”


Sekarang, untuk awalnya kuceritakan dulu tentang pulau tempat aku dilahirkan. Semoga saja rengekan ingin tahumu yang berkepanjangan belakangan ini, bisa sedikit aku reda dengan cerita ini. Ya, aku tahu begitu besar rasa cinta yang telah engkau bangun padaku, terimakasih dan aku bahagia.

Begini, pulauku itu bisa juga dikatakan surga dunia, seperti tempat-tempat lain yang memberi kesenangan. Tak jauh berbeda dengan pulau dewata, tepatnya hampir sama untuk saat belakangan ini. Di sana kau akan melihat alam betapa indahnya sepanjang mata memandang. Hamparan riak-riak air asin yang diterpa angin membuat kau akan terpana. Betul kata temanku beberapa waktu yang lalu, “di kampungnya kita akan melihat ikan dalam kedalaman air yang bermeter-meter. Air laut di sana masih jernih. Di sana juga banyak penyu. Dijamin kau akan tergila-gila, apalagi sempat kau nikmati terbit matahari dari belakang gunung dan matahari ditelan laut. Aduhai, bohailah pokoknya”. Ya, daerahku berada tepat sekali di dekat pantai.

Meski aku tak jadi menepati janjiku membawakan sekantong plastik air laut dari sana, setidaknya aku bawakan gelang kulit penyu asli yang telah kugelangkan di pergelanganmu. Itu kulit penyu asli. Cara mengambilnya, penyu itu dikuliti dengan cara membakarnya hidup-hidup untuk mengambil beberapa luar kulitnya, lalu ia dibiarkan hidup lagi. Tapi itu dulu. Sekarang di sana sudah ada penjaga, jadi tidak bisa lagi sembarangan apalagi hanya sekadar ingin menyicipi telur penyu gratis.

Tapi jangan cemas, sekali beberapa kala waktu, di pulau itu akan ada waktu makan telur penyu gratis setiap warga. Meskipun itu 2 atau 3 kali setahun. Setidaknya bersyukurlah mendapatkannya.

“Kita tidak boleh rakus dengan punya alam ini, sudah mendapatkannya itu hal yang sangat baik dan itu lebih. Karena tidak hanya kita yang akan menikmati. Anak-cucu kita juga ikutlah hendaknya. Jadi, besar nanti kau harus bisa melakukan hal yang tidak memusnahkan kampung kita ini. Kalau kau tak sanggup melakukan apapun yang membuatnya bertahan setidaknya jangan habisi atau merusaknya.” Kalimat yang cukup panjang ini seolah menjadi fatwa yang turun temurun wajib keluar dari mulut Ayah dan Ibu sepanjang mengasuh kami.

Masih tentang pulauku, maksudku pulau tempat aku dilahirkan dari rahim perempuan yang sangat aku cintai melebihi apapun. Eits, jangan cemburu kau sayang. Tak baik. Tentu kau harus berlapang hati untuk semua kenyataan alam ini. Meski kau perempuan kedua dalam hidupku, tapi kau adalah paruh nafasku. Percayalah, ini bukan gombalan atau semacamnya. Karena sungguh begitu adanya. Apa lagi aku ingin menjadi pengantin dan bersanding denganmu.

Di pulau ini, hari pekan hanya sekali seminggu. Kebanyakan masyarakat kampung membeli keperluannya untuk seminggu saat pekan. Ada sih beberapa warung kecil, tapi di sana hanya untuk membeli beberapa kekurangan. Itu tak banyak biasanya.

Melihat hal itu, aku selalu mengacungkan jempol untuk ibu-ibu di sini. Mereka harus pandai-pandai mengelola penghasilan suaminya. Seberapapun uang di tangan itu harus cukup untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, terutama anak cucunya. Dan rasa kasihan tak jarang ketika aku melihat ayah-ayah tangguh yang harus bekerja dan berfikir keras untuk memenuhi semua itu.

Kebanyakan dari mereka, ayah-ayah tangguh yang dimiliki kampung tempat aku dilahirkan mencari nafkah dengan melaut dan sesekali ke ladang. Kadang berhari-hari harus menghabiskan waktu di laut lepas meninggalkan apapun yang mereka cintai. Kadang memiliki hasil, kadang juga tidak. Itu harus dilakukan dengan ketegaran yang sangat keras. Jika mereka ke ladang, mereka akan membalik kulit punggung gunung.

Di sini, di kampungku. Kami tak tahu dengan sertifikat tanah. Karena tak pernah dilakukan tetua kami. Kalau ingin membuka tanah untuk mendirikan rumah atau ingin membuat sawah-ladang. Di kulit punggung gunung itu, sekuat apapun ingin menggarap, lakukanlah. Jika sudah bosan atau tanah itu sudah tak begitu menarik lagi mereka akan buka lahan baru lalu menggarapnya. Begitu saja. Siapa yang kuat, mereka memiliki yang banyak dan memasang pancang sebagai tanda pembatas tanah.

Sekarang disebut-sebut orang yang memiliki ladang terluas di kampung kami adalah adik Ipar Acu, saudara laki-laki ibu. Istri Acu orang asli dari pulau sebelah, dekat dengan pulauku dan jarak tempuh untuk ke sana pun tidak begitu lama. Semenjak menikah mereka tinggal di pulau tempat aku dilahirkan dan membawa adik bungsu istrinya. Wajahnya sangat tampan, banyak perempuan di kampung menyukainya. Selain tampan dia rajin bekerja dan banyak diam saja. Jarang sekali ia berseloroh, diajak berseloroh hanya membalas dengan senyuman saja. Aku sangat dekat dengan beliau. Hari-harinya selalu dihabiskan membantu Acu, kadang di ladang kadang juga di laut. Karena ia sangat rajin, Acu sangat menyayanginya. Banyak bidang sawah garapan yang diperuntuk padanya. Sesekali ia bekerja pada pembuka lahan yang lain dan mendapat bidang lahan yang terbuka agak sedikit.

Bertahun-tahun dilaluinya begitu, sampai kini Acu telah beranak tiga tetapi ia masih membujang. Bekerja dan bekerja, selalu itu yang dilakukannya untuk menghabisi hari-harinya. Banyak perempuan yang datang dan minta dipinang, tapi belum ada yang di tanggapinya selain hanya membalas dengan seulas senyuman yang mebuat para perempuan mabuk kepayang.

***

Setelah dua minggu kepergian adik ipar Acu beberapa polisi datang dari pulau istri Acu. Berhari-hari polisi itu menginap dan berkeliling mencari adik ipar Acu. Terasa tidak menyamankan keberadaan mereka, akhirnya warga menjadi ribut dan mempertanyakan, siapa yang dicari oleh para polisi ini? Tapi tidak ada kejelasan. Setelah beberapa hari polisi itu pun akhirnya pergi. Karena rasa ingin tahu warga yang tak bisa dibendung, akhirnya Pak Camat memberitahu apa yang dia tahu.

“Mereka mencari seseorang yang bernama Baur dengan ciri-ciri tinggi berambut panjang dan di pipi sebelah kanannya ada bekas luka bakar. Dia adalah buronan yang menurut mata-mata beberarapa bulan yang lalu masuk ke pulau ini. Dan seingat saya yang datang laki-laki orang baru ke pulau ini ya, adik Ipar Acu. Dan ciri-ciri itupun tak tepat berbadan tinggi. Dan kebetulan dia sedang pergi. Jadi, polisi itu menunggu. Ingin memastikan saja”.

Mendapat penjelasan Pak Camat warga mulai tenang dan kembali beraktifitas seperti biasa. Tapi adik ipar Acu tak juga kembali dalam waktu yang cukup lama. Ladangnya tampak belukar dan sesekali perempuan-perempuan di kampung menanyakannya pada istri Acu.

***

Nah, karena kami tak mengenal yang namanya sertifikat tanah, belakangan kerakusan yang begitu membabi buta membuat salah seorang saudara ibu mati tebunuh. Dua orang lelaki paruh baya, mereka masing-masing membawa parang datang ke rumah dini hari, lebih kurang pukul 03.00. Awalnya terdengar gaduh di samping rumah, karena merasa tak nyaman, Acu melihat apa yang terjadi di luar. Waktu itu satu-satunya laki-laki dewasa yang ada di rumah hanya Acu, beliau adik laki-laki ibu yang biasanya menetap di pulau seberang, malam itu menginap karena ada urusan keluarga.

“Mau ke mana kau? Di luar sangat gelap. Nanti celaka pula”. Ibu sudah mengingatkan. Saat itu semua penghuni rumah terbangun karena keributan yang tak biasa itu.

“Tak apa, aku bawa senter”. Dia masih kukuh ingin ke luar melihat atau mungkin berniat menghentikan keributan yang ada di luar. Tapi naas terjadi padanya, baru saja membuka pintu dan melangkah beberapa langkah ke luar, kepalanya  dipenggal di depan mata kami. Ibu menjerit saat darah berserakan di bibir rumah yang baru beberapa hari yang lalu dilalui langkah kaki adik perempuan ibu yang jadi pengantin.

Seminggu setelah itu seorang perempuan datang ke rumah dan mengatakan demi dan untuk anak yang di kandungannya ia meminta beberapa bidang lahan Acu sebagai pertangguang jawaban. Kami semua sangat heran, kenapa mesti Acu yang bertanggung jawab? Bukankah dia janda beranak dua yang sebulan lalu baru datang ke pulau dan sering melayani para tentara sarapan pagi dan makan siang? Lalu apa hubungannya dengan Acu yang dipenggal kepalanya saat gelap dini hari? Dan bukankah adik ipar Acu yang dijadikan suaminya beberapa hari yang lalu?

Tubuh Jendela : Padang, 24092012

______________________________________________________________________________
*Maira Eka Sari lahir di tanah bako Katimaha Simp. Empat, 5 mei 1989. Dan tumbuh remaja di Kubang Tungkek Kab. 50 Kota. Aktif di kegiatan bersama Tubuh Jendela. Beberapa karya sudah diterbitkan dalam buku dan di media.