Cerita Maira Eka Sari (cerpen di Singgalang Minggu,)
Hati-hati
dengan penulis! Jangan sampai kau yang akan menjadi lahan berikutnya. Sebagian
orang mungkin akan senang berbahagia menjadi lahannya, dan sebagian lagi tidak.
Kadang kala ada waktu untuk ingin sebuah sejarah ditulis, kadang harus terhapus
dilupakan tanpa ada jejak sama sekali.
***
Baru beberapa
hari yang lalu aku membaca tulisannya tentang seorang janda muda beserta
seorang anak laki-lakinya keterbelakangan mental yang ditinggal suaminya.
Cerita itu cukup memilu dan memalukan sekali. Gaya berceritanya yang sangat mendramatisir
membuat tekanan-tekanan yang sangat menggugupkan. Pikiran
dibawa melayang jauh
mengimajinasikan yang ada dalam cerita itu. Aku akan merasa sangat miris dan
getir saat putriku yang harus mengalami peristiwa itu. Apalagi aku hanya
memiliki putri satu-satunya yang sangat tak terbayangkan jika harus mengalami
hal itu. Bisa mati berdiri aku jika mengalaminya. Entahlah.
Pagi ini, firasat
lain muncul saat aku bangun tidur. Seolah dunia akan mencela dan mengejek,
mencibir dan menghinaku. Tiba-tiba aku teringat pada penulis itu. Aku tak tahu
kenapa, tapi dia ada dalam ingatanku. Aku jadi gusar dan sangat tak karuan.
Semalam,
sebelum tidur suamiku minta dibuatkan menu kesukaannya pagi ini. Karena hari
ini hari jadi pernikahan kami. Dia sangat rindu dengan sebuah menu yang sangat
jarang aku buat. Sementara dia berjanji akan memberi sebuah kejutan yang sangat
di luar dugaanku. Biasanya semua kejutan yang dipersiapkan untukku selalu di
luar dugaan dan sangat membuat aku terharu.
Karena firasat
yang menggangu itu, akhirnya aku batal membuat menu yang diminta suamiku
semalam. Selain usiaku yang tak lagi muda, pikiran dan firasat yang mengganggu
itu sangat berpengaruh pada keseharianku dan tentu menjadi beban. Kali ini aku
dibuat tak bertenaga juga tak bersemangat. Kegusaran yang menyelimuti terasa
amat mengukung dan menyiksa sekali. Aku tak tahu harus berkata apa untuk
mengungkapkannya saat ini. Benar-benar menyesakkan.
“Maaf, lain
kali aku buatkan. Rasanya aku lemas sekali.”
“Ada apa? Apa
baik-baik saja?” Raut wajah suamiku tampak kecewa yang berusaha disamarkan.
“Entahlah.
Sejak tadi pagi firasatku tak enak.”
“Jangan terlalu
memikirkan yang tidak penting! Ingat kondisimu. Lebih baik istirahat, dari pada
berfirasat yang bukan-bukan. Buat saja hari ini menyenangkan. Lakukan hal yang
membahagiakan. Ini hari jadi pernikahan kita.” Suamiku mencoba menghibur,
meskipun hatinya tampak sangat kecewa karena aku tak jadi membuatkan menu yang
dimintanya semalam.
“Koran…. koran….” Di luar tukang koran berteriak sambil melempar koran langganan suamiku ke teras rumah. Di luar kendaliku, aku berlari mengejar dan mengambil koran itu segera. Hal yang sangat tak pernah aku lakukan. Biasanya yang selalu memungut koran itu anak gadisku yang disuruh suamiku, agar dia segera bangun dari tidurnya. Jika tidak, biasanya aku membiarkan saja dan memungut saat nanti kalau ada perlu ke luar rumah. Kalau tidak akan dibiarkan begitu saja. Apalagi jika suamiku bertugas di luar kota. Banyak korannya yang rusak karena diguyur hujan dan tentu dia sangat kesal.
Juga di luar
kebiasaanku, saat itu aku langsung membolak-balik setiap halaman seperti
mencari pengumuman sebuah undian atau info penting lainnya. Suamiku mendehem
saat melihat tingkahku.
“Ada apa, Bu?
Mencari apa? Buru-buru sekali.” Suamiku tampaknya sangat heran melihat apa yang
aku lakukan.
Setelah puas
membolak-balik setiap halaman dan membaca satu persatu judul dan nama penulis
yang ada dalam koran itu, dan akhirnya aku lega.
“Alhmdulillah,
tak ada!”
“Ibu mencari
apa?”
“Tidak. Ini
koran Bapak! Ibu mau buat menu pesanan Bapak dulu.”
Kening suamiku
berkerut karena sangat heran melihat tingkah yang memang tak biasa aku lakukan.
Selama ini aku selalu berusaha tenang dan tidak ceroboh dalam melakukan
sesuatu. Dan sudah tentu ini menjadi keheranan yang sangat luar biasa yang
dirasakan suamiku. Tapi apa boleh buat, aku benar-benar gelisah dan takut
sesuatu yang tidak kuingini terjadi. Apalagi di hari ini, hari ulang tahun
pernikahan yang seharusnya dibuat bahagia.
Firasatku
tentulah tanpa alasan yang tak tentu atau kurang jelas. Partama berawal saat di
beberapa hari belakangan penulis itu sangat sering berkumpul dengan kami
ibu-ibu komplek di beberapa pertemuan baik sengaja dalam undangan juga kadang
tanpa sengaja. Ini bukan suatu hal yang biasa. Biasanya dia sangat jarang hadir
meskipun diundang. “Banyak pekerjaan,” begitu jawaban yang selalu ia paparkan
jika ada di antara kami mencoba menanyakan yang kadang hanya berbasa-basi saja.
“Tulisan-tulisannya bagus. Anakku punya satu buah buku karangannya tentang peremuan dan waktu kalau aku tidak salah. Itu buku lama kata anakku. Pernah kubaca juga ceritanya tempo hari dalam sebuah koran. Maklum anakku selalu berlangganan koran untuk tugas kuliahnya.”
Kami tahu, dia seorang
yang mengisi waktu luang dengan menjadi seorang penulis. Aku mendengar, banyak
hal yang ia tuliskan dan juga dipublikasikan di media masa. Dia juga salah satu
yang disenangi di komplek ini. Tutur katanya yang baik membuat ibu-ibu di sini
menyenangi dia, meski jarang ikut pada perkumpulan yang sering diadakan untuk
pengakrapan.
“Aku ingin
sekali menjadi lahan untuk dibajak menjadi sebuah tulisan. Tentu menyenangkan
bisa membaca tentang diri kita dari sudut pandang orang lain.”
“Iya, apalagi
cerita yang menyenangkan tentang kita. Namun jika tentang hal yang jelek, tentu
kita bisa mengintropeksi diri.”
“Ah, aku tidak
suka. Serasa dikuliti saja jika jadi bahan pembicaraan.”
Aku tergolong
pada bagian yang tidak ingin hal pribadiku diketahui orang. Apalagi menjadi
perhatian dan bahan pembicaraan. Itu serasa sangat melukai dan memalukan
sekali. Kadang bisa saja akan terjadi kesalah-tafsiraan saat seseorang memaknai
apa yang ada dalam sudut pandangnya. Bisa jadi itu sebuah kekeliruan karena
sebuah penilaian yang dilontarkan setelah melihat namun tidak mengalami
langsung.
Aku sangat
cemas jika ada dalam ceritanya. Atau lebih tepatnya, ia menceritakan tentang
aku, tentang anggota keluargaku atau apapun yang berhubungan dengan diriku. Aku
merasa dikuliti dan sakit jika itu benar-benar terjadi. Apalagi tentang anak
gadis semata wayangku. Aku mungkin saja bisa marah mengamuk jika benar terjadi.
***
Tadi aku sangat
cemas jika tentang aku benar-benar ada dalam tulisannya. Apalagi belakangan aku
sering merasa sunyi (baru menyadari setelah sekian tahun terasa). Semua anakku
sudah dalam keluarganya masing-masing. Hanya aku dan suami yang ada di rumah.
Sesekali dikunjungin oleh ana-anak yang membawa cucu kami untuk menginap di
rumah. Aku cemas, kesunyian ini akan dituliskan oleh penulis itu dalam
tulisannya dan dibaca oleh semua orang yang membaca cerita itu. Mungkin aku akan
merasa seperti dunia akan kiamat jika benar itu terjadi.
Rumah kami
pintunya selalu tertutup dan dikunci. Aku tidak tahu kapan persisnya itu
dilakkukan. Seingatku, dulu rumahku sering dikunjungi dan halaman rumah juga
ruang tamu selalu ramai jika pagi dan sore hari (karena siang hari aku selalu
ada kesibukan). Jika bukan teman anak-anak lelakiku, teman suamiku yang sering
berkunjung. Itu lebih sering sore hari. Kalau pagi, biasanya ibu-ibu sekitar
komplek atau teman-temanku yang datang berkunjung. Sampai-sampai aku jarang
pergi berkunjung keluar karena selalu ada yang datang.
Ada saja yang
selalu kami ceritakan jika mereka berkunjung. Keluhan tentang tingkah anak-anak
yang kadang menguras perasaan dan pikiran, tentang menu apa yang akan dibuat
untuk makan siang hari itu, atau rencana liburan bersama para perempuan-perempuan
komplek. Maklum di sini kami kebanyakkan istri dari lelaki sibuk yang seharian
menghabiskan hari di kantor atau pekerjaan lain di luar rumah.
Namun, sekarang
pintu rumahku selalu tertutup dan dikunci. Ini rasanya sudah terjadi jauh
sebelum maling masuk dan mengambil beberapa barang dari dalam rumah. Tentu saja
ini terjadi bukan karena suamiku atau anggota keluargaku melakukan hal yang
menyimpang. Kami baik-baik saja. Kami tidak memiliki masalah yang memalukan di
tengah masyarakat banyak. Aku ingat sesuatu!
“Kenapa
pintunya ditutup dek?”
“Gak nyaman, Bu.”
“Ntar kalo ada
tamu gimana?”
“Kan bisa
manggil atau bunyiin bel, Bu.”
Yaps, itulah
awalnya. Anak bungsuku merasa tak nyaman jika pintu selalu terbuka. Waktu itu
saat ia beranjak ke usia 15 tahun. Saat seorang anak gadis merasa punya
prifasi. Dan saat itu rasanya aku merasa wajar itu terjadi.
Ya saat itu
rumah sering ditutup dan acapkali dikunci.
“Bu, pintu
dikunci dong! Bapak kan tak ada di
rumah. Abang-abang juga pada belum pulang. Kalau maling masuk gimana? Kita kan hanya perempuan aja
yang ada di rumah. Bisa apa kita kalau itu terjadi.” Saat itu hari pukul 10
pagi. Aku sedang bersantai di ruang tamu sambil membolak balik koran koleksian
suamiku. Tiba-tiba putri bungsuku datang dari ruang keluarga yang saat itu
seingatku sedang menonton tv, lalu ia menutup pintu.
“Ibu kan ada di
sini, dibuka saja. Tak apa-apa kok, Nak. Tak usah cemas! Kalau ada tamu yang
berkunjung kan gampang.”
“Kan bisa
manggil atau bunyiin bel, Bu.”
“Iya sayang,
tapi Ibu kan ada di sini.”
Dia tak
menghiraukanku. Dia hanya mengunci pintu dan kemudian kembali lagi ke ruang
keluarga. Aku begitu heran melihat tingkahnya. Apa yang telah terjadi hingga
dia bersikap seperti ini? Apa ada seseorang yang telah memperlakukannya tidak
baik hingga ia trauma begini jika pintu tidak ditutup dan tidak dikunci? Ada
niat sich ingin menanyakan, tapi
takutnya akan membuat dia tidak nyaman dengan pertanyaanku. Akhirnya aku diam
saja. Toh kenyamanan anak yang lebih penting. Sejak saat itu rumah selalu
tertutup dan sering kali dikunci.