Di terik siang, kita pernah menelusuri kota itu dengan berjalan kaki.
Tanpa peduli dengan pandangan apalagi kata orang-orang.
Di sepanjang jalan kita mengurai kenangan hingga terburai.
Cerita demi cerita adalah cemilan sepanjang jalan.
Kita tak pernah kenal terburu-buru.
"Santai saja." Selalu kamu menenangkanku
agar menikmati langkah demi langkah yang kadang
membuat beberapa bagian di kaki lecet dan juga memar.
Perih yang seolah kita abaikan seperti lapar yang kita tunda.
Kita melewati manekin demi manekin yang terpajang
di sepanjang toko kota itu.
Hingga cerita satu berganti dengan cerita lainnya.
Kita juga melewati berbagai mode dan gaya yang dipakai
oleh orang-orang di kota itu.
Seperti melewati keinginan untuk mengecap sebotol es krim.
Kota yang membuhul hatiku pada segalamu.
Kota yang mengajarkan aku membenci masa lalu.
Kota membuat kita juga tidak pernah mengenal ribuan derai hujan
menancap pundak untuk penghalang menelusuri kota itu
dengan cerita-cerita yang kadang sudah basi.
Meneluri kota itu berjalan kaki sambil bertukar cerita yang kadang
sudah basi adalah cara aku mencintaimu.
Di terik siang, kita pernah menelusuri kota itu sambil belajar mencintai satu sama lainnya.
Hujan dan terik adalah saksi langkah kita menelusuri kota itu.
M. BAKHHAMI: PONDKREA TJ_Kubang Tungkek, 27072016